HP BARU




Pak Lurah membelikan HP baru buat Pak Tomo, salah seorang perangkat Kelurahan. Pak Lurah membelikan HP dengan tujuan supaya komunikasi menjadi lancar.
Suatu hari Pak Lurah menelepon, Pak Tomo melihat HPnya dan segera berlari menemui Pak Lurah.

Pak Lurah : Ada apa kamu lari ke             sini sampai ngos-ngosan? Saya telepon seharusnya kamu               angkat, kok kamu malah lari ke sini. Buat apa beli HP?!!
Pak Tomo : Maaf Pak, tadi saya lihat di HP ada tulisan Pak Lurah memanggil, makanya saya segera lari ke sini. Coba kalau HPnya ada tulisan Pak Lurah telepon… ya…HPnya saya angkat.
Pak Lurah :   Hahhh….!!!

[humor]


MILIK SIAPAKAH SUKACITA DAN DAMAI NATAL ITU?


Yesaya 9:2; Lukas 2:10-12

BANYAK ORANG BERPIKIR...Damai dan sukacita Natal adalah milik orang yang beragama Kristen. Mengapa? Hari raya Natal adalah hari rayanya orang yang beragama Kristen. Atau mereka berpikir bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan-nya orang yang beragama Kristen. BENARKAH DEMIKIAN? Jika benar demikian, berarti tujuan  Yesus Kristus datang ke dunia ini hanya  untuk mendirikan agama Kristen. MUNGKINKAH DEMIKIAN? Apa kata ALKITAB?
Alkitab berkata bahwa ISTILAH KRISTEN pada awalnya bukan untuk      menyebutkan nama suatu agama. Yesus sendiri tidak      pernah berkata bahwa ajaran yang disampaikannya adalah suatu agama, apalagi agama Kristen, TIDAK PERNAH! Istilah Kristen awalnya adalah semacam “ejekan” bagi mereka yang memiliki cara hidup seperti   Yesus dan menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat hidupnya (Kisah Para Rasul 11:26).
Alkitab berkata bahwa Yesus  Kristus datang ke dunia untuk menyatakan kasih Allah pada dunia (Yohanes 3:16)
Jika demikian, milik siapakah seharusnya damai dan       sukacita Natal itu?
1. MILIK PARA MALAIKAT (Lukas 15:10)
Dengan datangnya Yesus     Kristus ke dunia akan memberi kesempatan lebih luas kepada orang berdosa untuk bertobat. Pertobatan satu orang berdosa akan menggemparkan seluruh penghuni surga dengan sukacita. Apakah damai dan sukacita semacam ini juga milik anda?
2. MILIK PARA GEMBALA (Lukas 2:16-20)
Mereka kaum pinggiran yang merindukan kebebasan dan kelepasan. Para malaikat menegaskan bila Yesus Kristus adalah juruselamat. Tentu ini menjadi pengharapan yang besar. Tahukah anda bila manusia tidak tahan hidup sedetikpun tanpa pengharapan? Dunia memberi pengharapan yang semu dan palsu. Yesus Kristus memberi pengharapan yang sejati dan pasti.
3. MILIK PARA MAJUS (Matius 2:9-11)
Para Majus adalah orang-orang yang berkelimpahan harta dan kemashuran. Mereka haus tantangan dan prestasi. Menemukan untuk menyembah Yesus adalah tantangan terbesar dan prestasi tiada duanya. Itulah sebabnya mereka bersukacita.
4. MILIK MEREKA YANG MENOLAK
Herodes menolak damai dan sukacita Natal akhirnya menjadi gila dan mati.
Para ahli Taurat menolak  damai dan sukacita Natal akhirnya mereka hidup dan mati sebagai orang munafik.
Penduduk Betlehem pada akhirnya menyesali menolak damai dan sukacita Natal setelah mereka kehilangan anak-anak mereka.
5. MILIK SAYA DAN SAUDARA
Damai dan sukacita Natal ditawarkan juga kepada saya dan saudara? Maukah anda menyambutnya? Amin

(Pdt. Edi Zakaria)

  

SEMBILAN PULUH SEMBILAN JUTA TUJUH RATUS RIBU RUPIAH


Ada seorang tukang sepatu yang selalu ceria dan bahagia. Setiap hari ia selalu menyanyi dengan gembira bersama keluarganya.
Sementara itu tukang sepatu memiliki tetangga yang sangat kaya raya. Pekerjaannya setiap hari adalah menghitung uang yang tidak pernah habis.
Orang kaya itu sangat terganggu dengan nyanyian tukang sepatu. Tetapi ia bingung mencari cara untuk membungkam mulutnya agar tidak bernanyi lagi. Lalu ia menemukan akal.
Dipanggilnya tukang sepatu  itu. Lalu orang kaya itu memberinya uang satu tas. Tukang sepatu itu menerimanya dengan sangat senang. Segera tas berisi uang itupun dibawanya pulang dan diserahkan kepada isterinya.
Isteri tukang sepatu itu terkejut  dan senang dengan pemberian tersebut. Maka dibukanyalah tas tersebut dan dihitungnya uang itu lembar per lembar. Sementara isterinya menghitung uang, tukang sepatu itu bernyanyi riang.
Ketika menghitung uang dalam tas tersebut, dahi isteri tukang sepatu tiba-tiba berkerut. Rupanya ia bingung dengan jumlah uang yang dihitungnya. Ia hitung sekali lagi dan ternyata jumlahnya adalah Rp 99.700.000,-. Ia tidak percaya bila uang dalam tas tersebut jumlahnya seperti itu. Ia hitung berkali-kali dan ternyata jumlahnya tetap Rp 99.700.000,-. Semakin berkerutlah kening isteri tukang sepatu sambil bergumam: “Hmmm….semestinya jumlahnya Rp 100.000.000,- . Tidak mungkin kalau jumlahnya ganjil seperti ini. Kemana yang Rp 300.000,- itu?....”
Isteri tukang sepatu itu mulai bertanya kepada suaminya. Dan suaminya menjawab bahwa ia tidak mengutak-atik uang dalam tas tersebut.
Makin berkernyitlah kening isteri tukang sepatu. Ia mulai curiga kepada suaminya. “Jangan jangan duitnya disembunyikan...atau ….jangan jangan suamiku sudah mulai mempunyai isteri simpanan…, dst.” Pertanyaan-pertanyaan itu mulai menggelisahkan hatinya sehingga akhirnya meledak menjadi pertengkaran. Sejak saat itu rumah tukang sepatu tidak lagi terdengar suara nyanyian dan keceriaan lagi, tetapi pertengkaran demi pertengkaran menghiasi kehidupan keluarga tukang sepatu.

Damai dan sukacita itu lebih bernilai dari sekedar kekayaan dunia.