Tampilkan postingan dengan label GEMA HATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEMA HATI. Tampilkan semua postingan

NYOWO BALEN



 Nyowo Balen: Sebuah Prolog Kehidupan

Di jantung kebudayaan Jawa, tersimpan sebuah diksi yang lebih dari sekadar kata. Ia adalah sebuah bisikan tentang keajaiban, sebuah gema dari batas antara dunia dan alam baka. Nyowo Balen. Secara harfiah, ia berarti "nyawa yang kembali". Namun, ia bukanlah sekadar catatan medis tentang mati suri. Ia adalah sebuah konsep spiritual yang sarat makna, sebuah pengakuan bahwa ada tangan tak terlihat yang mampu menarik jiwa dari tepi jurang maut. Raja Daud, dalam gubahan puitisnya, melukiskannya dengan sempurna: “Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.” Kisah ini adalah kesaksian hidup akan makna agung itu. Inilah relaitas hidupku.

Namaku Edi Zakarijah. Aku terlahir di kota Pahlawan, Surabaya, pada 4 April 1967, buah cinta dari ayahku, Daud Sulaiman, dan ibuku, Dewi Aisah. Hidupku seharusnya berjalan normal seperti bayi-bayi lainnya. Namun, takdir menuliskan babak pembuka yang tak terduga dan mencekam. Ketika usiaku menginjak sembilan bulan, sebuah tirai kegelapan tiba-tiba turun menyelimuti buaianku. Tanpa demam, tanpa tanda-tanda penyakit, napasku berhenti. Detak jantung kecil yang menjadi musik terindah bagi  orang tuaku, lenyap. Kepanikan meledak di rumah kami. Tubuh mungilku yang hangat mulai mendingin. Bibirku membiru. Dalam pelukan ibuku yang histeris dan di hadapan ayahku yang terpaku tak percaya, aku telah pergi.  Satu jam berlalu. Waktu terasa merayap, menggerus setiap butir harapan. Satu setengah jam... lebih. Dalam dunia medis, ini adalah waktu yang mustahil. Harapan telah menjadi abu, tangis telah menjadi keikhlasan yang paling pahit. Aku, Edi Zakarijah, telah mati.

Di tengah keputusasaan yang memuncak itulah, secercah iman datang dalam wujud Pdt. L.M. Sila, gembala sidang yang melayani keluarga kami. Melihat jasad kecil yang tak lagi bernyawa, ia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Sebaliknya, ia memulai sebuah peperangan rohani. Ia menumpangkan tangannya dan berdoa. Doa pertama dinaikkan dengan khusyuk. Tak ada jawaban. Keheningan tetap mencengkeram. Doa kedua, lebih mendesak. Tubuhku tetap dingin, tak bergerak. Doa ketiga, sebuah seruan yang menantang maut. Hanya kesunyian yang membalas. Air mata orang tuaku mungkin telah kering, digantikan kehampaan. Namun, sang hamba Tuhan terus bergumul. Doa keempat, sebuah permohonan yang menggedor pintu surga. Dan akhirnya, doa kelima. Sebuah penyerahan total, sebuah teriakan iman yang terakhir di ambang batas keputusasaan. Dan keajaiban itu terjadi. Bukan dalam bentuk tarikan napas yang lembut. Bukan dengan mata yang perlahan terbuka. Kehidupan kembali dengan cara yang paling primal dan tak terduga. Sebuah gerakan di perutku... lalu tubuhku yang kaku itu melepaskan kotoran. Itu adalah tanda pertama. Tanda bahwa sistem biologis yang telah mati, kembali bekerja. Sesaat setelah itu, dari paru-paru yang telah lebih dari satu setengah jam membisu, pecahlah suara yang paling dinanti. Sebuah tangisan. Bukan tangisan biasa, melainkan tangisan yang merobek selubung kematian. Tangisan seorang bayi yang ditarik kembali dari lubang kubur. Aku hidup. Aku adalah Nyowo Balen. 

Peristiwa itu bukan sekadar cerita masa kecil yang aneh. Ia menjadi fondasi hidupku. Ia adalah pengingat abadi bahwa hidupku adalah anugerah kedua. Setiap napas yang kuhela sejak hari itu adalah gema dari rahmat. Setiap detak jantungku adalah musik dari kasih setia yang memahkotaiku. Aku adalah Edi Zakarijah, seorang anak manusia yang kisah hidupnya dimulai, bukan dengan kelahiran, tetapi dengan kelahiran kembali. 

Babak Dua: Benteng Iman di Tanah Angker 

Hidup yang telah direnggut kembali dari ambang kematian itu kini memasuki sebuah babak baru. Aku, Edi Zakarijah, bocah berusia sekitar empat atau lima tahun, menjadi saksi mata dari sebuah perjuangan yang akan menempa seluruh pandanganku tentang iman dan dunia yang tak kasat mata. Ayahku, seorang pendeta Pantekosta yang terbakar oleh api panggilan jiwa, memutuskan untuk memulai sebuah rintisan baru. Arenanya adalah Muncar, sebuah daerah di Banyuwangi, tanah yang sejak lama dikenal tak hanya karena keindahannya, tetapi juga karena denyut mistisnya yang kental. Ia berangkat bukan dengan bekal kemegahan. Tidak ada sponsor, tidak ada dukungan dana yang terjamin. Modalnya adalah keyakinan murni dan sebuah keluarga kecil yang setia mendampingi: istrinya, Dewi Aisah yang masih menyusui adik perempuanku, Cendana Sukanti, dan aku, putra sulungnya. Tantangan pertama adalah tempat berteduh. 

Ayahku menghubungi Komando Distrik Militer (Kodim) setempat, memohon izin untuk menempati sebuah rumah yang tak lagi berpenghuni. Rumah itu bukan sekadar kosong, ia memiliki reputasi yang mengerikan. Rimbun, tak terawat, dan diliputi aura kelam, dinding--dindingnya menyimpan gema sejarah berdarah sebagai bekas lokasi penyembelihan para pengikut PKI. Rumah itu angker. Bagi kami, hal-hal ganjil menjadi bagian dari keseharian. Suara tanpa wujud, bayangan yang melintas, dan hawa dingin yang merayap di tengah malam adalah "penghuni" yang harus kami hadapi. 

Namun, bagi ayahku, ini adalah medan pertempuran rohani yang nyata. Suatu malam, ia diserang secara fisik. Sesosok "genderuwo" mencekiknya dalam tidur, meninggalkan rasa sakit nyata yang mendera lehernya hingga tiga hari lamanya. Di tengah serangan tak kasat mata itu, senjatanya hanya satu: kuasa dalam nama Yesus yang ia serukan hingga cengkeraman itu terlepas.  Pertolongan dan perlindungan Tuhan menjadi perisai kami yang paling nyata. Perlahan tapi pasti, tangan ayahku mengubah rumah angker itu. Semak belukar dibersihkan, dinding dicat, dan aura kelam itu mulai terkikis oleh  lantunan doa dan puji-pujian. Rumah itu mulai tampak hidup dan terawat. Namun, ironisnya, cahaya yang mulai terpancar itu justru mengundang kegelapan dari jenis yang berbeda. Famili dari pemilik rumah yang dulu tak pernah peduli, kini mulai menginginkannya kembali. Teror pun berubah wujud, dari gaib menjadi licik. 

Suatu hari, ayahku disuguhi secangkir kopi oleh seseorang. Sebuah gestur keramahan yang menyimpan niat mematikan. Sebelum bibirnya menyentuh cangkir itu, seperti kebiasaannya, ayahku menundukkan kepala untuk berdoa. Dalam sepersekian detik setelah doa singkat itu terucap, sebuah peristiwa ganjil terjadi. PRAAANG! Gelas kopi itu tiba-tiba pecah berkeping-keping di tangannya, menumpahkan seluruh isinya ke tanah.Sebuah serangan racun telah dipatahkan bahkan sebelum ia sempat bekerja. 

Namun, musuh tak menyerah. Serangan terakhir datang di puncak keheningan malam. Tiba-tiba, dari atas atap rumah kami, terdengar sebuah ledakan dahsyat, sekeras bom yang meledak tepat di atas genting. Suaranya memekakkan telinga, mengguncang seisi rumah. Di tengah kepanikan itu, ayahku tetap tenang. Ia tahu ini bukan ledakan fisik. Ini adalah santet, sebuah serangan ilmu hitam yang dikirimkan untuk mencelakai kami. Ia tidak berlari keluar, tidak berteriak. Ia hanya melakukan apa yang selalu ia lakukan: berdoa dan menyerukan nama Yesus, membangun benteng perlindungan iman di sekeliling kami. Keheningan kembali, namun peperangan itu telah usai dengan cara yang tak terduga. Esok paginya, sebuah kabar mengejutkan menyebar di kampung. Cucu dari seseorang yang dikenal luas sebagai dukun paling sakti di daerah itu, meninggal dunia secara mendadak. Bagi diriku yang masih kecil, peristiwa-peristiwa itu terpatri bukan sebagai dongeng horor, melainkan sebagai pelajaran pertama. Aku belajar bahwa dunia ini lebih luas dari yang terlihat. Ada kegelapan, ada kejahatan, baik yang gaib maupun yang lahir dari hati manusia. Tetapi di atas segalanya, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa iman ayahku bukanlah teori. Imannya adalah senjata, perisai, dan menara perlindungan. Di tanah angker Muncar, aku tidak hanya melihat ayahku sebagai seorang pendeta, aku melihatnya sebagai seorang prajurit iman di garis depan. 

Babak Tiga: Sukacita dalam Kesederhanaan 

Awal mula pelayanan ayahku terukir jelas dalam ingatanku sebagai masa- masa yang penuh tantangan. Hasil dari seluruh jerih payahnya saat itu belum mampu mengumpulkan banyak orang; yang terjangkau hanya satu jiwa, itu pun seorang yang dianggap gila oleh lingkungan sekitar. Karena pelayanannya belum membuahkan hasil secara materi, kehidupan kami sekeluarga pun serba terbatas. Aku ingat betul datangnya bantuan sepikul gaplek. Bahan makanan sederhana itu menjadi tumpuan hidup kami selama berbulan-bulan, dan dengan setia ibu mengubahnya menjadi aneka masakan agar kami tetap bisa makan. Di luar itu, kemewahan kami sering kali hanyalah nasi hangat dan sepotong ikan asin. Namun, di dalam istana kesederhanaan itu, kami adalah raja dan ratu yang bergelimang sukacita surgawi. 

Ironisnya, kenangan termanis dalam hidupku terukir di masa-masa paling sulit itu. Aku pernah berpuasa tiga hari lamanya di usia lima tahun, sebuah disiplin rohani yang dipaksakan oleh ketiadaan. Jika kau bertanya apakah masa kecilku menyedihkan, jawabanku adalah tidak. Justru saat itulah aku paling bahagia, saat aku belajar bahwa sukacita sejati adalah karunia Roh, bukan hasil dunia. Satu peristiwa terpatri selamanya dalam jiwaku. Ibu meminta uang, dan ayah tak punya sepeser pun untuk diberikan. Dalam keheningan yang memilukan itu, ayah mengambil sebuah ukulele tua. Ia, yang jemarinya kaku pada dawai, memetiknya sebagai korban pujian. Sambil membuka buku nyanyian, ia menyanyi dengan suara yang pecah oleh isak tangis. Aku terhanyut, ikut melantunkan pujian. Ruangan itu berubah menjadi altar dadakan. Ayah lalu menumpangkan tangannya di atasku. Seketika, lidahku yang kecil dan kelu dilepaskan oleh kuasa Roh Kudus. Aku berbahasa roh, dan tubuh mungilku berlutut selama dua jam lamanya, terbenam dalam hadirat Tuhan. Aku baru tersadar saat kakiku menjerit kesemutan, sebuah rasa sakit yang manis sebagai penanda perjumpaan yang mengubah segalanya. 

Perjalanan kami berlanjut, membawa kami dari Muncar ke sebuah daerah bernama Tembok Setail. Di mana persisnya rumah itu kini berdiri, aku tak lagi bisa menunjukkannya; kabut waktu lima puluh tahun telah mengubah segalanya. Kami menempati rumah yang lebih lapang, meski aku tak pernah tahu apakah kami menyewa atau sekadar dipinjami. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa. Di sanalah, aku menyaksikan jemari ibu dengan cekatan merajut helai-helai bambu menjadi keranjang yang akan ia jual ke pasar, sebuah upaya tanpa lelah untuk menopang ekonomi keluarga. Dan di tengah kesederhanaan itu, kebahagiaan bisa terasa begitu melimpah. Aku ingat betul sukacitaku saat menerima hadiah termewah: sebatang es lilin. Di era 70-an, rasa dingin yang berharga itu adalah sebuah kemewahan langka yang tak ternilai. 

Seiring berjalannya waktu, secercah harapan baru muncul ketika seorang jemaat menghibahkan sebidang tanah untuk pembangunan gereja. Namun, seorang anggota jemaat lain, seorang tentara ABRI, mendesak dengan paksa agar gereja dibangun di dekat rumahnya. Ayahku, dengan ketajaman rohaninya, membaca niat tersembunyi di balik usulannya. Pria itu tinggal di atas tanah ‘land gendom’—tanah tak bertuan—dan ia berharap keberadaan gereja bisa menjadi alat baginya untuk mengklaim hak milik atas tanah itu. Ayahku menolak berkompromi dengan niat egois tersebut, sebuah keputusan yang ternyata menyulut api amarah dalam diri pria itu. Amarah itu akhirnya meledak pada suatu senja. Ayah baru saja menyelesaikan doa puasa selama tiga hari dan sedang duduk tenang di teras saat matahari mulai tenggelam. Tiba-tiba, pria itu muncul dari kegelapan, matanya menyiratkan niat buruk. Ia tidak datang dengan tangan kosong; sepucuk senjata laras panjang ada di tangannya, dan sebuah pistol terselip di pinggangnya. Ancaman kematian terlontar dari bibirnya. Namun, ayahku tidak gentar. Ia menatap lawannya dengan sorot mata yang tajam, lalu menghentakkan tangannya ke meja seraya berseru, “Dalam nama Yesus! Apa yang berasal dari si jahat, kembali kepada si jahat! Apa yang berasal dari Tuhan, adalah milik Tuhan!”  Seketika itu juga, kuasa ilahi bekerja. Pria bersenjata itu terbelalak, dan seluruh tubuhnya membeku laksana patung, kaku dan tak bergerak. Selama kurang lebih setengah jam, ia terperangkap dalam kelumpuhan yang tak terlihat, sementara ayahku tetap di tempatnya, berdoa dalam keheningan tanpa sedikit pun rasa takut untuk lari. Ketika akhirnya ia bisa bergerak, pria itu lari tunggang-langgang, ditelan oleh kegelapan dan rasa takutnya sendiri. Sejak malam itu, rentetan malapetaka mulai merajut nasibnya; dari dokarnya yang hancur kecelakaan hingga kudanya yang mati. Bagi kami, semua itu adalah bukti yang tak terbantahkan: Tuhan sendiri yang menjadi perisai dan pembela bagi hamba-Nya. 

Babak Empat: Dari Satu Ladang ke Ladang Lain 

Ada sebuah pola, sebuah narasi takdir yang berulang, yang kini ku pandang dengan refleksi mendalam. Pola itu seolah diguratkan oleh tangan tak terlihat, setiap kali benih pelayanan yang Ayahku tanam mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, hendak tumbuh menjadi sebuah bangunan fisik yang megah, sinode hadir sebagai badai yang mencabutnya, melemparkannya ke ladang yang baru dan asing. Kami tak pernah benar-benar diizinkan berakar. Begitu sebuah harapan mulai terukir di satu tempat, surat perintah pindah yang dingin tiba, seolah menjadI penanda sebuah siklus abadi. Dari Blitar, kami dipaksa menapaki jalan baru ke Cepu. Di Cepu, di desa bernama Tambak Boyo, Ayahku akhirnya berhasil menorehkan jejak yang tak terhapus. Dengan tangan yang penuh luka dan keringat, ia mendirikan fondasi gereja—sebuah monumen harapan yang dibangun dari ketabahan dan doa yang tak pernah putus. Namun, di puncaknya, ketika kami hampir menyaksikan bangunan itu berdiri, surat perintah pindah itu datang lagi, seolah menjadi ujian terakhir. 

Kali ini, sebuah garis ditarik. Sesuatu di dalam diri Ayahku, sebuah ketabahan yang selama ini ia genggam, akhirnya mencapai batasnya. Ia menolak. Penolakan itu bukan sekadar kata-kata; ia adalah sebuah deklarasi, sebuah titik balik yang memicu gelombang konsekuensi yang tak terhindarkan. Pilihan Ayahku untuk melepaskan jubah naungan sinode lama, Gereja Pantekosta Elim, dan memulai lembaran baru di bawah Gereja Penyebaran Injil adalah sebuah langkah yang penuh risiko. Namun, perpisahan itu ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Tanah dan fondasi yang telah dibangun dengan air mata dan jerih payah, kini menjadi objek sengketa. Ayahku, dengan kebijaksanaan yang pahit, menyadari bahwa untuk benar-benar bebas dan memulai dari nol, semua ikatan harus diputus. Maka, sebuah keputusan besar pun dibuat: kami akan meninggalkan segalanya, mengubur kenangan, dan berpindah ke kota Madiun. Di sinilah kisah ini menemukan misteri terbesarnya, sebuah anomali yang hingga kini seringkali aku renungkan dalam hening malam. 

Babak Lima: Benih Panggilan Tak Tergoyahkan

Aku adalah saksi mata. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana panggilan sebagai hamba Tuhan bukanlah sebuah jalan kemuliaan, melainkan sebuah jalan penderitaan. Sebuah jalan yang dipenuhi kesengsaraan, kekurangan, dan di bawah bayang-bayang ancaman yang tak pernah surut. Logika sederhana seharusnya menuntunku pada ketakutan, menuntunku untuk memilih jalan yang berlawanan, jalan yang lebih aman dan nyaman. Namun, di sinilah keanehan itu muncul. Sejak usia lima tahun, ada sebuah konsistensi yang tak tergoyahkan, sebuah keyakinan yang membeku dalam waktu. Setiap kali ada orang dewasa yang bertanya, "Besok jika sudah besar, mau jadi apa?" jawabanku selalu sama, terucap dengan mantap dan tanpa secuil pun keraguan: "Aku mau jadi pendeta."

Panggilan kanak-kanak itu, kini kusadari, bukanlah sekadar impian naif. Ia adalah sebuah gema dari takdir yang telah diguratkan, sebuah bisikan dari masa depan yang tak bisa kuingkari. Hari ini, aku berdiri di sini, seorang pendeta, mengenakan jubah yang pernah Ayahku kenakan. Dan cerita ini, yang kupandang dari sudut pandang seorang anak yang menyaksikan, hanyalah permulaan dari sebuah perjalanan yang lebih panjang dan lebih
dalam.


Madiun, Medio Agustus 2025
Penutur:
Edi Zakarijah

HIDUP INI SANGAT TERGANTUNG DENGAN HATI DAN PIKIRAN ANDA

 



Mengapa Lebah cepat menemukan Bunga?
Dan
Mengapa Lalat cepat menemukan Kotoran?

Mata Lebah di design hanya untuk menemukan Bunga,
Mata Lalat di design khusus untuk menemukan Kotoran.

MENGAPA?
Di dalam pikiran Lebah hanyalah Madu dan Madu saja, tidak ada yang lain.

Sebaliknya,
Di dalam pikiran Lalat hanyalah Kotoran dan Kotoran saja, tidak ada yang lain.

Alhasil susah bagi lebah untuk menemukan kotoran,
tapi mudah dan cepat bagi lebah untuk menemukan bunga di manapun.

Sebaliknya,
susah bagi lalat untuk menemukan bunga,
tapi mudah dan cepat bagi lalat untuk menemukan kotoran di manapun.

Apa hasil akhirnya?
Lebah kaya akan madu yg sangat bermanfaat,
sedangkan lalat kaya akan kuman penyakit.

”Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,
ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong,
dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
(Mazmur 139:23-24)

Apa yang anda pikirkan akan menghasilkan apa yang anda lihat,
dan apa yang anda lihat akan menghasilkan apa yang anda peroleh.

HIDUP INI SANGAT TERGANTUNG DENGAN HATI DAN PIKIRAN ANDA.

Kalau Hati dan Pikiran selalu Negatif,
maka apa saja yang anda lihat akan selalu menjadi Negatif,
Hasil akhirnya adalah sebuah kehidupan negatif yang penuh PERMASALAHAN.

Kalau Hati dan Pikiran selalu Positif,
maka apa saja yang anda liat akan selalu menjadi Positif,
Hasil akhirnya adalah kehidupan positif yang penuh KEBAHAGIAAN.

Pilihan ada di tangan anda sendiri...

”Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku,
penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.”
(Mazmur 94:19)

”Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
(Filipi 4:7)


Goϑ ϐlešš Yoυ

TETAPLAH BERDOA



Doa adalah jembatan pemersatu antara kita dengan Tuhan dan sesama. 

Doa adalah jalan terbaik saat menghadapi jalan buntu. 

Doa adalah jalan terbaik saat putus asa. 

Doa adalah jalan terbaik saat sakit hati. 

Doa adalah jalan terbaik saat dikhianati. 

Doa adalah jalan terbaik saat difitnah. 

Doa memiliki kekuatan dahsyat untuk me-ngetuk hati Tuhan. 

Doa memang tidak bisa mengulang waktu, tapi ia mampu mengundang peluang. 

Doa tidak bisa me-ngubah hati yang hancur, tapi ia mampu mengubah hatimu menjadi sumber ke-kuatan dan penghibur-an. 

Doa tak bisa meng-ubah penyesalan, tapi ia mampu memberi pengertia dan harap-an. 

Doa tak mampu mengubah kebutuhan dan keinginan kita, tapi ia mampu menyelaraskan diri kita sesuai kehendakNya. 

Doa mengubah keraguan menjadi keyakin-an. Ia mengubah kemustahilan menjadi terobosan. 

Dengar engkau belum berdoa, sampai engkau benar-benar berdoa. 

Tuhan itu tidak jauh. Ia hanya sejauh doa. 





UANG ANDA ASLI?


 



Berikut adalah tips untuk memastikan keaslian uang anda:

# Mengetes uang Rp 100.000,- s/d Rp5.000,-an

1. Lipat menjadi 4 bagian secara simetris memanjang.

2. Tekan uang tersebut dengan perasaan secukupnya.

3. Buka perlahan-lahan lipatan uang tersebut.

4. Bila kacamata Bung Hatta,WR Supratman atau Ki Hajar pecah berarti palsu.

5. Khusus 50.000 an, periksa teks lagunya, kalau bukan Indonesia raya pasti palsu.

6. Khusus Rp10.000,-an kalau uangnya jadi basah karena kawahnya tumpah; atau kalau konde Cut Nyak lepas berarti palsu.

7. Khusus Rp5.000,-an kalau sampai senar pada sasandonya putus, berarti benar-benar palsu.

# Untuk ngetes palsu-tidaknya uang seribuan - Cari SD Negeri terdekat, cukup taruh di trotoar depan sekolah, kalau  hilang berarti asli....tetapi kalau mau memastikan yang paling asli, lihat aja di kantong kolekte Gereja....sebab kalau Rp100.000,-an biasa-nya gak ada di sana… ha..ha..ha…

# Uang Rp500 an koin agak susah dites, karena anak-anak SD aja sudah nyuekin, satu-satunya cara adalah coba dibanting yang sekeras-kerasnya, kalau bunga di koin rontok ...pasti palsu.

Pelajaran Rohani:

Kalau nominal yang terbesar dari yang anda punya sampai masuk ke kantong persembahan berarti iman anda asli… (atau mungkin salah masukin duit...he..he…).

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

(Markus 12: 43-44)



SO WHAT?





Salam sejahtera…

Melalui kesuksesan terselenggaranya KKR dan Seminar pada tanggal 28 September 2010, ada hal luar biasa yang Allah mau nyatakan kepada kita GerejaNya.

1. Bukan karena keuangan kita yang melimpah kita boleh melakukan sesuatu hal yang luar biasa untuk kemuliaan Tuhan. Sebab kita start dengan persiapan keuangan yang rasanya seperti “tidak masuk akal”.

2. Bukan karena kemahiran dan kepandaian kita bila semua bisa terselenggara. Sebab semua kita yang terlibat bukan orang-orang berpengalaman, juga bukan orang-orang yang bisa mengandalkan pendidikan kita.

3. Juga bukan karena banyaknya dan hebatnya relasi yang kita punya kalau semua itu bisa terjadi.

Tetapi mari kita akui dan kita nyatakan semua itu terjadi karena kekuatan dan keperkasaan Tuhan (Zakaria 4:6).

Namun demikian ada beberapa point yang sangat penting mendapat perhatian kita bersama.

1. Jangan takut untuk merancang, memimpikan sesuatu. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

2. Tuhan tidak mencari orang yang hebat. Tetapi Tuhan mencari orang yang bersedia dan menyiapkan dirinya.

3. Persatuan dan kebersamaan adalah kekuatan yang luar biasa.

Jadi sekarang bagaimana?

[MEJA GEMBALA]


HARGA SEPASANG TELINGA






Sebagai alat pendengaran, sepasang telinga tentu harganya setinggi langit seandainya bisa diperjual belikan dan dibongkar pasang ke kepala orang lain yang cacat. Tetapi dalam konteks lain , harga sepasang telinga bisa jadi senilai dengan kehidupan dan nyawa orang lain.

Para pelacur remaja, ketika diwawancarai untuk sebuah keperluan penelitian di SaN Fransisco, ditanya: “Apakah ada sesuatu yang sangat Anda butuhkan namun tidak bisa Anda dapatkan?”. Jawaban mereka rata-rata sama. Dengan wajah sedih dan berurai air mata, mereka menjawab: “Yang paling saya butuhkan adalah seseorang yang mau mendengarkan saya. Seseorang yang cukup peduli untuk mendengarkan saya.” Ini belum seberapa. Menurut para pakar, beberapa orang bahkan nekad bunuh diri hanya karena mereka merasa tidak mememiliki sepasang teling yang mau mendengarkan mereka. Itulah harga sepasang telinga Anda bagi orang lain.

Banyak orang Kristen rindu melayani Tuhan, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan kerinduan tersebut. Sebenarnya Anda sudah melayani jiwa-jiwa saat Anda mau menjadikan diri Anda menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang letih jiwanya dan merasa menanggung beban yang berat. Apalagi jika Anda tertarik melayani sebagai seorang konselor. Tinggal isi hati Anda  sebanyak-banyaknya dengan Firman Tuhan, dan miliki sepasang telinga yang bisa menjadi pendengar yang baik. Dan sampaikanlah pesan Tuhan tepat pada waktunya. Berdoalah agar Tuhan pakai telinga kita untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.


[SENTUHAN]


LASKAR KARTINI




Karya: Rachel Sri S.


Ketika surya menginjak candra keempat 
kembali benak insan tertambat ingatan 
akan sebuah lukisan besar wanita anggun putri Jepara
yang membebaskan diri dari ikatan feodal.

Anganku pun kembali bergolak
saat murid SD bersenandungkan gita,
"Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia harum namanya".

Batinku bertanya lirih, "Siapakah Kartini itu?"
Putri sejati adalah Ester yang memegang kebenaran
untuk melawan muslihat Haman.

Siapakah yang harum namanya?
yaitu Bunda Maria yang menjaga kesucian berkata:
"Jadilah padaku menurut perkataan itu."

Kartini pendekar bangsa adalah Rut,
perempuan Moab yang mengangkat derajat kaumnya
meski harus memungut jelai di ladang Boas.

Sedangkan putri mulia adalah Maria Magdalena,
perempuan nista yang pertama dijumpai Yesus
tatkala bangkit dari kubur

Dan sekarang, adakah Kartini itu?
Apakah Margareth Thatcher si wanita baja berhati sutera?
Ataukah Madame Theresa yang peduli para papa?

Dan ku lihat jua...
Wanita berseragam orange meniup peluit panjang di halaman parkir

Kartini sekarang....
Joyce Meyer si pengkhotbah atas ribuan umat
namun rela mengangkat piring kotor 

Kartini sekarang....
Si Wanita Bijak dengan pundak terselip puluhan jabatan
namun di dadanya  tertulis terang, "Hai istri, tunduklah pada suamimu"

Kartini sekarang....
Seorang ibu yang terberangus himpitan kondisi 
namun gigih menegakkan emansipasi dan martbat
sambil berteriak: "Habis gelap, terbitlah terang!"


MEMEGANG KEBENARAN




Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata wayangnya.Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah.

Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang pun tak luput dari sasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.

Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar. Di tengah kepedihan dan keputusasaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya. ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut..

Semenjak itu, pria tersebut selalu membawa-bawa abu anaknya dalam sebuah tas. Sampai setahun setelah itu ia suka mengucilkan diri, tenggelam dalam tangis sampai berjam-jam lamanya; kadang orang melihat ia tertawa sendiri, mungkin kala itu ia teringat masa-masa bahagia bersama keluarganya. Ia terus larut dalam kesedihan tak terperikan..

Musim berlalu. sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas pulang ke kampung halamannya. Sesampai di kediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, "Ayah, ini aku pulang!"

Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, "Ini pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu! Pergi! Jangan main-main!"

Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, "Ayah! Ini aku, anakmu!"

Dari dalam rumah terdengar lagi, "Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!" 

Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang, "Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!"

Mereka saling bersahutan. sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu..

Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka ANGGAP sebagai kebenaran. Ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka. (Red)



PERJALANAN HIDUP




Dahulu kala ada seorang kaisar yang mengatakan kepada seorang penungang kuda, "kalau kamu bisa menjelajahi daerah seluas apapun, maka aku akan memberikan daerah seluas yang sanggup kamu jelajahi itu..." 

Si penunggang kuda langsung melompat kepunggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Si penunggang kuda itu melaju, terus melaju melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin menjelajahi daratan, ketika lapar dan haus dia tidak berhenti untuk makan dan minum karena dia mau memiliki tanah yang mahal dan luas.

Akhirnya si penunggang kuda itu  kelelahan bahkan hampir mati, lalu dia berkata pada dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diriku sendiri begitu keras untuk menjelajahi tanah seluas ini, sekarang aku sudah sekarat, hampir mati dan aku hanya butuh tanah seluas 2 meter untuk mengubur diriku".

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita, kita cenderung memaksa diri sangat keras setiap hari untuk mencari uang, kuasa dan keyakinan, kita cenderung melupakan kesehatan kita, melupakan waktu bersama keluarga, kita cenderung mengabaikan kehidupan rohani kita, kita tidak pernah memikirkan kehidupan sesudah mati, kita percaya ada kehidupan sesudah mati.

Suatu hari ketika kita menoleh kebelakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sesuatu sebanyak itu, tapi kita tidak mampu memutar mundur waktu untuk semua hal yang tidak sempat kita lakukan, kita tidak tahu kapan kita akan mati kita hanya bisa bersiap meninggalkan segalanya, belajarlah untuk menikmati hidup ini apa adanya.