Memahami Ke-Esaan Allah Secara Alkitabiah
KATA PENGANTAR
Buku ini disusun untuk
menjawab berbagai pertanyaan seputar doktrin keesaan Allah dari perspektif
Alkitabiah. Teologi Keesaan (Oneness Theology) sering disalahpahami sebagai
ajaran sesat atau modalisme klasik. Padahal, jika diteliti dengan hati terbuka
dan metode hermeneutika yang benar, keesaan Allah adalah kebenaran yang sangat
jelas dinyatakan dalam Kitab Suci dari Kejadian hingga Wahyu.
Buku ini hadir dalam
format tanya jawab untuk memudahkan pembaca memahami pokok-pokok penting secara
sistematis. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan-pertanyaan
yang paling sering muncul dalam diskusi teologis, termasuk
pertanyaan-pertanyaan sulit yang sering dilontarkan oleh pihak Trinitarian
untuk "menguji" keyakinan Oneness.
Kami berharap buku ini
menjadi berkat bagi setiap pembaca yang rindu mengenal Allah dengan benar,
sesuai dengan apa yang dinyatakan-Nya dalam Firman yang kudus.
BAGIAN 1: FONDASI KEESAAN ALLAH
1. APA ITU TEOLOGI KEESAAN ALLAH?
Tanya:
Saya sering mendengar
istilah "Teologi Keesaan" atau "Oneness Theology". Apa
sebenarnya yang dimaksud dengan istilah ini?
Jawab:
Teologi Keesaan adalah pemahaman bahwa
Allah itu esa dalam pengertian absolut—satu Pribadi, bukan tiga Pribadi . Istilah ini berasal dari keyakinan bahwa Allah adalah
satu Roh yang kudus (Yohanes 4:24) yang menyatakan diri-Nya dalam berbagai
peranan atau manifestasi untuk berhubungan dengan ciptaan-Nya .
Dalam Teologi Keesaan, istilah
"Bapa", "Anak", dan "Roh Kudus" bukanlah tiga
Pribadi yang berbeda, melainkan tiga peranan atau manifestasi dari satu Pribadi
Allah yang sama . Hal ini didasarkan pada pernyataan Kolose 2:9 bahwa
"dalam Dialah (Yesus Kristus) berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan
ke-Allahan" .
Pemahaman ini berbeda dengan Trinitas
yang mengajarkan satu Allah dalam tiga Pribadi yang ko-ekuivalen dan
ko-eternal . Dalam Trinitas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus dianggap
sebagai tiga pusat kesadaran yang berbeda namun memiliki satu hakikat.
Perbedaan mendasar ini
bukan sekadar perbedaan terminologi, tetapi menyangkut siapakah Allah yang
sebenarnya kita sembah—dan ini adalah pertanyaan paling fundamental dalam iman
Kristen.
2. APAKAH TEOLOGI KEESAAN SAMA DENGAN MODALISME?
Tanya:
Saya mendengar bahwa
Teologi Keesaan sama dengan ajaran sesat modalisme yang sudah ditolak oleh
gereja mula-mula. Apakah benar demikian?
Jawab:
Ini adalah salah satu kesalahpahaman
terbesar tentang Teologi Keesaan. Modalisme klasik (Sabellianisme) mengajarkan
bahwa Allah berganti-ganti "topeng" secara kronologis—kadang menjadi
Bapa, kadang menjadi Anak, kadang menjadi Roh Kudus—sehingga ketika satu
peranan tampil, peranan yang lain "tidak aktif" atau
"pergi" .
Teologi Keesaan berbeda secara
fundamental. Oneness mengajarkan bahwa ketiga peranan Allah dapat beroperasi
secara simultan (serentak) . Karena Allah adalah Roh yang Mahahadir, Ia tidak terbatas
oleh waktu atau ruang. Ketika Yesus berdoa kepada Bapa di kayu salib, Ia tidak
sedang berbicara kepada "pribadi lain" yang terpisah, melainkan
kemanusiaan-Nya berkomunikasi dengan keilahian-Nya yang Mahahadir—ini adalah
satu Pribadi yang sama yang mengekspresikan diri-Nya dalam dua cara yang
berbeda namun simultan .
Dengan kata lain, Teologi Keesaan
bukanlah "pergantian peran" melainkan "keserentakan
manifestasi" dari satu Pribadi ilahi . Inilah yang membuatnya berbeda secara signifikan dari
modalisme klasik yang pernah ditolak oleh gereja mula-mula.
3. BAGAIMANA ULANGAN 6:4 MENUNJUKKAN KEESAAN ALLAH?
Tanya:
Ulangan 6:4 berkata:
"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"
Bagaimana ayat ini menjadi fondasi bagi Teologi Keesaan?
Jawab:
Ayat ini, yang dikenal sebagai Shema
Yisrael, adalah deklarasi iman yang paling fundamental dalam Perjanjian
Lama. Kata Ibrani untuk "esa" adalah אֶחָד ('echad)
yang berarti satu dalam arti angka—satu Pribadi, bukan satu kesatuan
majemuk .
Perhatikan bahwa dalam bahasa Ibrani,
ada kata lain untuk "esa" yang berarti tunggal atau unik (yachid),
tetapi Alkitab memilih kata 'echad untuk menegaskan bahwa
Allah adalah satu Pribadi yang tunggal, bukan satu kesatuan dari beberapa
pribadi .
Yesus sendiri mengutip ayat ini dalam
Markus 12:29 dan mengakui bahwa Allah itu esa . Tidak pernah Yesus mengajarkan bahwa Allah itu "tiga
dalam satu" atau "satu dalam tiga". Ketika ditanya tentang hukum
yang terutama, Yesus menjawab dengan mengutip Ulangan 6:4—bukan dengan
mengajarkan Trinitas.
Para rasul juga tidak
pernah meninggalkan pengakuan Shema. Paulus menulis dalam 1
Korintus 8:6: "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa...
dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus." Ini bukan pembedaan antara
"Allah Bapa" dan "Tuhan Yesus" sebagai dua pribadi,
melainkan penegasan bahwa Allah yang esa—yang adalah Bapa—telah menyatakan
diri-Nya sebagai Tuhan dalam Yesus Kristus.
4. BAGAIMANA YESAYA 44:24 MENUNJUKKAN ALLAH SATU PRIBADI?
Tanya:
Yesaya 44:24
mengatakan bahwa Allah "seorang diri" membentangkan langit. Apakah
ini berarti Allah hanya satu Pribadi?
Jawab:
Ya, tepat sekali. Ayat
ini sangat tegas:
"Beginilah firman TUHAN, Penebusmu,
yang membentuk engkau sejak dari kandungan: 'Akulah TUHAN, yang menjadikan
segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang
menghamparkan bumi—siapakah yang mendampingi Aku?'" (Yesaya 44:24).
Frasa "seorang diri" dalam
bahasa Ibrani adalah לְבַדִּי (levaddi) yang berarti
"sendirian" atau "tanpa ada yang lain." Ini adalah
pernyataan eksklusif bahwa tidak ada Pribadi ilahi lain yang mendampingi Allah
dalam penciptaan .
Jika Trinitas benar,
mengapa Allah mengatakan bahwa Ia "seorang diri" dalam menciptakan
langit dan bumi? Mengapa tidak disebutkan keterlibatan Pribadi kedua atau
ketiga? Jawabannya sederhana: karena Allah memang seorang diri—satu Pribadi
yang tunggal.
Mazmur 136:4 juga menegaskan hal yang
sama: "Kepada Dia yang seorang diri melakukan
keajaiban-keajaiban besar!" Ini adalah pola yang konsisten di seluruh
Perjanjian Lama: Allah adalah satu Pribadi yang bekerja seorang diri .
BAGIAN 2: YESUS KRISTUS—ALLAH YANG BERINKARNASI
5. SIAPAKAH YESUS KRISTUS MENURUT TEOLOGI KEESAAN?
Tanya:
Jika Allah hanya satu
Pribadi, lalu siapakah Yesus Kristus itu?
Jawab:
Yesus Kristus adalah Allah yang esa itu
sendiri yang menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia . Inilah yang disebut inkarnasi—peristiwa Allah yang tidak
kelihatan menjadi kelihatan, Allah yang Roh menjadi manusia.
Paulus menulis dalam 1
Timotius 3:16: "Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia
yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia..." Perhatikan bahwa
yang "menyatakan diri" adalah Allah sendiri, bukan pribadi kedua yang
terpisah.
Kolose 2:9 menegaskan: "Sebab
dalam Dialah (Yesus Kristus) berdiam secara jasmaniah seluruh
kepenuhan ke-Allahan." Ini berarti seluruh keilahian, bukan sebagian,
berdiam dalam Yesus. Yesus bukanlah "sepertiga" dari Allah; Ia adalah
seluruh Allah yang menyatakan diri dalam tubuh manusia .
Dengan kata lain, Yesus adalah Allah
yang menjadi manusia (God become man), bukan manusia yang
menjadi Allah (man become God), dan bukan pula sepertiga dari
Allah yang menjadi manusia (one third of God become man). Yesus adalah
100% Allah dan 100% manusia—satu Pribadi dengan dua natur .
6. JIKA YESUS ADALAH ALLAH, MENGAPA IA BERDOA KEPADA BAPA?
Tanya:
Ini pertanyaan yang
paling sering saya dengar: Jika Yesus adalah Allah, mengapa Ia berdoa? Dan
kepada siapa Ia berdoa? Apakah ini tidak membuktikan bahwa Allah lebih dari
satu Pribadi?
Jawab:
Pertanyaan yang sangat
baik dan memang sering diajukan. Jawabannya terletak pada pemahaman tentang dua
natur Yesus—keilahian dan kemanusiaan-Nya.
Ketika Yesus berdoa, itu adalah kemanusiaan-Nya yang
berdoa kepada keilahian-Nya. Sebagai manusia, Yesus memiliki
keterbatasan manusiawi—Ia lapar, lelah, dan membutuhkan doa. Sebagai Allah, Ia
adalah tujuan dari doa tersebut. Ini bukan percakapan antara dua Pribadi yang
berbeda, melainkan satu Pribadi yang sama mengekspresikan diri-Nya dalam dua
cara yang berbeda .
Bayangkan ilustrasi ini: Seorang ayah
dan anaknya adalah satu pribadi? Tidak. Tapi dalam kasus Yesus,
"Bapa" merujuk pada keilahian-Nya yang transcenden, dan
"Anak" merujuk pada kemanusiaan-Nya yang terbatas. Ini adalah satu
Pribadi yang sama yang memiliki dua "mode" keberadaan .
Yesus sendiri
menjelaskan hal ini dalam Yohanes 14:10: "Tidak percayakah engkau, bahwa
Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak
Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah
yang melakukan pekerjaan-Nya."
Perhatikan: Yesus
tidak berkata "Bapa di sorga berbicara kepada-Ku," tetapi "Bapa
yang diam di dalam Aku." Bapa ada di dalam Yesus, bukan
di luar Yesus sebagai Pribadi yang terpisah.
7. MENGAPA YESUS BERSERU "ELOI, ELOI, LAMA SABAKHTANI"?
Tanya:
Saat Yesus di salib,
Ia berseru: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
(Matius 27:46). Bukankah ini menunjukkan bahwa Yesus dan Bapa adalah dua
Pribadi yang berbeda?
Jawab:
Ini adalah pertanyaan
yang sangat emosional dan sering digunakan untuk "membuktikan"
Trinitas. Namun, jika kita memahami peristiwa ini dengan benar, justru semakin
meneguhkan keesaan Allah.
Saat Yesus di salib, kemanusiaan
Yesus benar-benar ditinggalkan oleh keilahian-Nya . Mengapa? Karena pada saat itu, kemanusiaan Yesus sedang
memikul dosa seluruh umat manusia. Allah yang mahakudus tidak bisa melihat
dosa, sehingga keilahian-Nya "pergi" atau "mengosongkan
diri" (Filipi 2:7) dari kemanusiaan-Nya.
Peristiwa ini
disebut kenosis—pengosongan diri. Paulus menulis:
"Ia yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama seperti manusia" (Filipi 2:6-7).
Yang "mengosongkan diri"
adalah Allah sendiri—satu Pribadi yang sama. Ia mengosongkan hak-hak ilahi-Nya
untuk sementara waktu agar dapat mengalami kematian manusiawi. Inilah bukti
terbesar kasih Allah: Ia rela meninggalkan diri-Nya sendiri (dalam arti
kemanusiaan ditinggalkan oleh keilahian) demi menyelamatkan umat manusia .
Jadi, bukan dua
Pribadi yang berpisah, tetapi satu Pribadi yang sama yang mengalami perpisahan
antara kemanusiaan dan keilahian-Nya sendiri.
8. BAGAIMANA YESAYA 9:5 MENUNJUKKAN YESUS ADALAH BAPA?
Tanya:
Yesaya 9:5 (TB: 9:6)
mengatakan: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita... dan namanya
disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal,
Raja Damai." Apakah ini berarti Yesus adalah Bapa?
Jawab:
Ya, tepat sekali! Nubuat ini diberikan
sekitar 700 tahun sebelum Yesus lahir, dan secara eksplisit menyebut Anak yang
lahir itu sebagai Bapa yang Kekal .
Perhatikan gelar-gelar
yang diberikan:
1. Penasihat Ajaib — Hanya Allah
yang memiliki hikmat sempurna
2. Allah yang Perkasa — El
Gibbor, gelar yang dalam Perjanjian Lama secara eksklusif digunakan untuk
YHWH (Yesaya 10:21)
3. Bapa yang Kekal — Avi
'Ad, secara eksplisit menyebut Anak sebagai Bapa
4. Raja Damai — Hanya Allah
yang dapat memberikan damai sejati
Nabi Yesaya, yang sangat ketat menjaga
monoteisme, tidak mungkin menyematkan gelar-gelar ini kepada makhluk ciptaan
atau pribadi lain di luar Allah. Maka jelas bahwa Anak yang dinubuatkan di sini
bukanlah pribadi yang terpisah dari Bapa, melainkan Bapa itu sendiri
yang datang dalam rupa manusia .
Ini adalah salah satu
bukti terkuat dari Perjanjian Lama bahwa Yesus adalah Bapa yang kekal yang
menjadi manusia.
9. SIAPA ANAK ALLAH MENURUT TEOLOGI KEESAAN?
Tanya:
Jika Bapa dan Anak
adalah Pribadi yang sama, lalu apa maksudnya Yesus disebut "Anak
Allah"?
Jawab:
Ini adalah pertanyaan penting yang
sering disalahpahami. Dalam Teologi Keesaan, gelar "Anak Allah"
merujuk pada kemanusiaan Yesus, bukan keilahian-Nya .
Yesus disebut
"Anak" karena:
1. Lahir dari Maria — Sebagai
manusia, Ia memiliki ibu, yaitu Maria. Ini adalah asal mula
kemanusiaan-Nya .
2. Taat kepada Bapa — Sebagai Anak
yang taat, Ia melakukan kehendak Bapa-Nya. Ini adalah hubungan fungsional,
bukan ontologis (keberadaan).
3. Mewakili umat manusia — Sebagai
"Anak Manusia", Ia menjadi perwakilan manusia di hadapan Allah.
Perhatikan Lukas 1:35:
"Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi
engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus,
Anak Allah. "
Yesus disebut "Anak
Allah" karena Ia dilahirkan oleh Roh Kudus—bukan karena
Ia adalah Pribadi kedua yang kekal di sorga. Gelar "Anak" menunjuk
pada asal mula kemanusiaan-Nya, bukan keberadaan ilahi-Nya yang terpisah .
Yesus sebagai Allah adalah "Bapa
yang Kekal" (Yesaya 9:5), tetapi Yesus sebagai manusia adalah
"Anak" yang lahir di Betlehem. Satu Pribadi dengan dua gelar yang
berbeda, menunjuk pada dua natur yang berbeda .
BAGIAN 3: ROH KUDUS—ALLAH YANG HADIR
10. SIAPAKAH ROH KUDUS MENURUT TEOLOGI KEESAAN?
Tanya:
Jika Allah hanya satu
Pribadi, lalu siapakah Roh Kudus?
Jawab:
Roh Kudus adalah Allah itu
sendiri dalam tindakan dan kehadiran-Nya di dalam dunia dan di dalam
kehidupan orang percaya . Roh Kudus bukanlah Pribadi lain yang terpisah dari Bapa
dan Anak; Roh Kudus adalah Roh dari Allah yang esa .
Paulus menulis: "Sebab Tuhan
adalah Roh; dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan" (2
Korintus 3:17). Siapakah "Tuhan" dalam konteks ini? Ayat sebelumnya
(2 Korintus 3:16) mengutip Keluaran 34:34 yang merujuk kepada YHWH. Paulus
dengan berani menyamakan "Tuhan" (YHWH/Yesus) dengan "Roh"
itu sendiri .
Dengan kata lain:
·
Bapa = Allah dalam keilahian-Nya yang
transcenden
·
Anak = Allah dalam inkarnasi-Nya
sebagai manusia
·
Roh Kudus = Allah dalam kehadiran-Nya yang
imanen di dalam umat-Nya
Ketiganya adalah satu Pribadi yang sama,
yang menyatakan diri dalam tiga cara yang berbeda .
11. APAKAH ROH KUDUS ADALAH YESUS?
Tanya:
Saya sering mendengar
bahwa Roh Kudus adalah Yesus sendiri. Apakah benar demikian?
Jawab:
Ya, benar. Alkitab menunjukkan dengan
sangat jelas bahwa Roh Kudus adalah Roh Yesus .
Beberapa bukti
alkitabiah:
1. Roh Kudus disebut sebagai
Roh Yesus: "Dan setelah mereka datang ke Misia, mereka mencoba masuk ke daerah
Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka" (Kisah
Para Rasul 16:7).
2. Roh Kudus disebut
sebagai Roh Kristus: "Dan tentang keselamatan itu telah Roh Kristus yang
ada di dalam mereka sebelumnya" (1 Petrus 1:11).
3. Tidak memiliki Roh
Kristus berarti bukan milik Kristus: "Tetapi jika orang tidak
memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus" (Roma 8:9).
Perhatikan bahwa Paulus menggunakan "Roh Kristus" dan "Roh
Kudus" secara bergantian.
4. Yesus berjanji akan
datang kembali sebagai Roh: "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim
piatu; Aku datang kembali kepadamu" (Yohanes 14:18).
Sebelumnya Ia berkata akan mengirim "Penolong yang lain" yaitu Roh
Kudus (Yohanes 14:16). Jadi "Aku datang kembali" berarti Roh Kudus
adalah kedatangan Yesus kembali .
5. Yesus dan Roh Kudus
adalah satu: Dalam 2 Korintus 3:17, Paulus menyatakan bahwa "Tuhan adalah
Roh" .
Jadi, Roh Kudus
bukanlah "pribadi ketiga" yang dikirim oleh Yesus, melainkan kehadiran
Yesus sendiri yang kini bekerja di dalam kehidupan orang percaya.
12. JIKA ROH KUDUS ADALAH YESUS, MENGAPA YESUS MENYEBUTNYA "PENOLONG
YANG LAIN"?
Tanya:
Dalam Yohanes 14:16,
Yesus berkata: "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan
kepadamu seorang Penolong yang lain." Kata "lain" menunjukkan
bahwa Penolong itu berbeda dari Yesus. Bagaimana menjelaskan ini?
Jawab:
Pertanyaan yang sangat tajam! Kuncinya
terletak pada kata Yunani yang digunakan untuk "lain" .
Dalam bahasa Yunani,
ada dua kata untuk "lain":
·
Allos = lain yang sama jenisnya
·
Heteros = lain yang berbeda
jenisnya
Yesus menggunakan kata allos—Penolong
yang lain yang sama jenisnya dengan Yesus . Dengan kata lain, Yesus berkata: "Aku akan
memberikan kepadamu Penolong lain yang sama seperti Aku."
Jadi, Roh Kudus tidak berbeda esensinya
dari Yesus; Roh Kudus adalah Yesus sendiri dalam bentuk kehadiran yang
lain . Inilah mengapa Yesus dapat berkata: "Aku tidak akan
meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu"
(Yohanes 14:18).
Bayangkan seorang raja yang pergi ke
negeri asing. Ia meninggalkan wakilnya yang "lain"—tetapi wakil itu
berbicara dengan otoritas yang sama dan mewakili raja sepenuhnya. Demikian
pula, Yesus "pergi" dalam rupa fisik tetapi "kembali" dalam
rupa Roh .
13. MENGAPA ROH KUDUS DISEBUT "IA" BUKAN "ITU"?
Tanya:
Dalam bahasa
Indonesia, Roh Kudus sering disebut dengan kata ganti "Ia" atau
"Dia" yang menunjukkan Pribadi. Apakah ini tidak membuktikan bahwa
Roh Kudus adalah Pribadi yang terpisah?
Jawab:
Penggunaan kata ganti "Ia"
atau "Dia" untuk Roh Kudus tidak membuktikan bahwa Roh Kudus adalah
Pribadi yang terpisah dari Bapa dan Anak. Dalam bahasa Yunani, kata pneuma (roh)
adalah netral (tidak maskulin atau feminin), tetapi para penulis Perjanjian
Baru kadang menggunakan kata ganti maskulin untuk Roh Kudus karena mereka
mempersonifikasikan Roh sebagai manifestasi Allah yang personal .
Perhatikan bahwa
Alkitab juga menggunakan kata ganti personal untuk hal-hal yang jelas bukan
pribadi. Misalnya, "hikmat" dipersonifikasikan sebagai perempuan
dalam Amsal (Amsal 8:1-36). "Dosa" juga dipersonifikasikan sebagai
raja yang memerintah dalam Roma 6:12. Personifikasi tidak sama dengan
kepribadian.
Yang lebih penting, perhatikan bahwa Roh
Kudus tidak pernah berbicara tentang diri-Nya sendiri sebagai
Pribadi yang terpisah. Ia selalu memuliakan Yesus (Yohanes 16:14) dan tidak
pernah berkata "Aku, Roh Kudus" dengan cara yang menunjukkan
kepribadian terpisah dari Bapa dan Anak .
Roh Kudus adalah Allah
yang personal—bukan karena Ia adalah Pribadi yang terpisah, tetapi karena
Ia adalah Allah sendiri yang personal, yang hadir di dalam kita.
BAGIAN 4: BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS—PERANAN ATAU PRIBADI?
14. MENGAPA ALKITAB MENYEBUT BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS?
Tanya:
Jika Bapa, Anak, dan
Roh Kudus bukan tiga Pribadi, mengapa Alkitab menyebut ketiganya secara
terpisah?
Jawab:
Alkitab menyebut Bapa, Anak, dan Roh
Kudus untuk menunjukkan tiga peranan atau manifestasi dari
satu Pribadi Allah dalam sejarah keselamatan .
Penjelasannya sebagai
berikut:
1. Bapa — Allah dalam
peranan-Nya sebagai Pencipta dan sumber segala sesuatu. Ini menekankan
keilahian-Nya yang transenden dan otoritas-Nya sebagai Allah.
2. Anak — Allah dalam
peranan-Nya sebagai Juruselamat yang berinkarnasi. Ini menekankan
kemanusiaan-Nya dan karya penebusan-Nya di kayu salib.
3. Roh Kudus — Allah dalam
peranan-Nya sebagai Penghibur dan Pembimbing yang berdiam di dalam umat-Nya.
Ini menekankan kehadiran-Nya yang imanen dan kuasa-Nya yang bekerja di dalam
gereja.
Perhatikan bagaimana
ketiga peranan ini bekerja dalam satu peristiwa—pembaptisan Yesus:
"Sesudah dibaptis, Yesus segera
keluar dari air dan pada saat itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah
seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga
yang mengatakan: 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan'"
(Matius 3:16-17).
Dalam peristiwa ini:
·
Yesus (Anak) dibaptis
·
Roh Kudus turun seperti burung merpati
·
Suara dari sorga (Bapa) berkata
Apakah ini berarti ada tiga Pribadi?
Tidak. Ini adalah satu Pribadi Allah yang menyatakan diri-Nya dalam tiga cara
sekaligus—sebagai manusia (Anak), sebagai Roh (burung merpati), dan sebagai
suara (Bapa). Allah yang Mahahadir dapat melakukan ini dengan mudah .
15. JIKA BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS ADALAH PERANAN, APAKAH ITU BERARTI ALLAH
"BERTOPENG"?
Tanya:
Kritikus sering
mengatakan bahwa Teologi Keesaan mengajarkan Allah "bertopeng" atau
"berpura-pura" menjadi tiga Pribadi yang berbeda. Benarkah demikian?
Jawab:
Tidak, sama sekali
tidak. Teologi Keesaan tidak mengajarkan bahwa Allah "bertopeng" atau
"berpura-pura". Ini adalah karikatur yang tidak adil terhadap
keyakinan Oneness.
Perbedaan antara
"topeng" dan "peranan" sangat penting:
·
Topeng menyembunyikan identitas yang
sebenarnya. Seseorang yang memakai topeng tidak memperlihatkan siapa dirinya.
·
Peranan justru menunjukkan identitas yang
sebenarnya. Seorang ayah yang juga seorang guru dan juga seorang suami tidak
"bertopeng" ketika ia berada di sekolah, di rumah, atau di gereja. Ia
adalah satu orang yang sama, tetapi ia berfungsi dalam peranan yang berbeda
sesuai dengan konteksnya.
Demikian pula, Allah tidak
"bertopeng" ketika Ia menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, atau Roh Kudus.
Sebaliknya, dalam setiap peranan, Ia menunjukkan siapa
diri-Nya sebenarnya .
·
Sebagai Bapa, Ia menunjukkan keilahian-Nya yang transenden.
·
Sebagai Anak, Ia menunjukkan kasih-Nya yang rela berkorban.
·
Sebagai Roh Kudus, Ia menunjukkan kehadiran-Nya yang intim dan kuasa-Nya
yang mengubah hidup.
Ketiga peranan ini
bukanlah "topeng" yang menyembunyikan Allah, melainkan
"jendela" yang memperlihatkan Allah dari sudut pandang yang berbeda.
16. MENGAPA MATIUS 28:19 MENGGUNAKAN BENTUK TUNGGAL "NAMA"?
Tanya:
Dalam Amanat Agung,
Yesus berkata: "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Menggunakan kata "nama" tunggal,
bukan "nama-nama" jamak. Apa signifikansinya?
Jawab:
Penggunaan kata "nama"
(Yunani: onoma) dalam bentuk tunggal adalah sangat signifikan . Jika Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang
berbeda, Yesus seharusnya menggunakan kata jamak "nama-nama" (onomata).
Tetapi Ia menggunakan bentuk tunggal, yang menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan
Roh Kudus memiliki satu nama yang sama .
Nama apakah itu?
Nama Yesus (Yahweh adalah Keselamatan).
Perhatikan bahwa dalam Kisah Para Rasul,
para rasul tidak pernah membaptis dengan formula "dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus." Mereka selalu membaptis "dalam nama Yesus
Kristus" (Kisah 2:38; 8:16; 10:48; 19:5) .
Mengapa? Karena mereka memahami bahwa
"nama" dalam Matius 28:19 adalah nama Yesus. Bapa, Anak, dan Roh
Kudus memiliki satu nama yang sama—Yesus—karena mereka adalah satu Pribadi yang
sama .
Jadi, Matius 28:19
bukanlah ajaran Trinitas, melainkan petunjuk bahwa baptisan harus dilakukan
dalam nama Yesus, yang adalah nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus—karena ketiganya
adalah satu.
17. BAGAIMANA DENGAN 1 YOHANES 5:7 YANG MENYEBUT "KETIGANYA ADALAH
SATU"?
Tanya:
1 Yohanes 5:7 (dalam
KJV) mengatakan: "Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga:
Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu." Bukankah ini
membuktikan Trinitas?
Jawab:
Ayat ini perlu dipahami dengan
hati-hati. Pertama, perlu diketahui bahwa ayat ini (Comma Johanneum)
tidak terdapat dalam naskah-naskah Yunani kuno yang terpercaya . Ayat ini hanya muncul dalam naskah-naskah Latin yang
lebih kemudian dan diyakini sebagai tambahan yang tidak otentik oleh sebagian
besar sarjana Alkitab.
Dalam terjemahan
modern yang lebih akurat (seperti TB LAI), ayat ini berbunyi: "Sebab ada
tiga yang memberi kesaksian: Roh dan air dan darah" (1 Yohanes
5:7-8)—tanpa menyebut Bapa, Firman, dan Roh Kudus.
Bahkan jika kita menerima teks KJV,
perhatikan bahwa ayat itu mengatakan "ketiganya adalah satu"
(Yunani: hen), bukan "tiga adalah satu dan satu adalah
tiga." Ini menunjukkan kesatuan esensial, bukan tiga Pribadi
yang terpisah .
Selain itu, dalam ayat
ini "Firman" bukan "Anak"—yang menunjukkan bahwa penulis
(atau penyalin) menggunakan terminologi yang berbeda dari yang biasa digunakan
dalam Trinitas. Ini menunjukkan bahwa ayat ini tidak dimaksudkan untuk
mengajarkan doktrin Trinitas.
BAGIAN 5: PERTANYAAN-PERTANYAAN SULIT
18. JIKA YESUS ADALAH BAPA, MENGAPA IA DISEBUT "ANAK"?
Tanya:
Jika Yesus adalah Bapa,
mengapa Alkitab selalu menyebut-Nya "Anak" dan tidak pernah
"Bapa" dalam Perjanjian Baru?
Jawab:
Pertanyaan yang sangat baik dan sering
diajukan oleh pihak Trinitarian untuk "menjebak" Oneness .
Pertama, perlu dicatat bahwa Perjanjian
Lama menyebut Yesus (Mesias) sebagai "Bapa yang Kekal" dalam Yesaya
9:5. Jadi, Alkitab memang menyebut Yesus sebagai Bapa .
Kedua, dalam
Perjanjian Baru, Yesus memang selalu disebut "Anak" dan tidak pernah
"Bapa" (kecuali dalam Yohanes 14:7-9 di mana Ia berkata bahwa melihat
Yesus berarti melihat Bapa). Mengapa demikian?
Ini karena Yesus datang untuk menunjukkan
diri-Nya sebagai Anak yang taat kepada Bapa . Ketika Allah menjadi manusia, Ia mengambil posisi
kerendahan hati dan ketaatan. Sebagai manusia, Ia tunduk kepada keilahian-Nya
sendiri. Inilah yang disebut kenosis—pengosongan diri (Filipi 2:7).
Jadi, meskipun Yesus
secara esensial adalah Bapa (Allah yang kekal), secara fungsional Ia berperan
sebagai Anak yang taat selama masa inkarnasi-Nya. Setelah kebangkitan dan
kenaikan-Nya, Ia kembali ke kemuliaan-Nya sebagai Bapa yang kekal.
Inilah mengapa Yesus
berkata: "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa"
(Yohanes 14:9). Filipus melihat Yesus, dan Yesus berkata bahwa ia telah melihat
Bapa. Ini bukan karena Yesus "mewakili" Bapa, tetapi karena
Yesus adalah Bapa yang datang dalam rupa manusia.
19. BAGAIMANA MENJELASKAN YOHANES 1:1: "FIRMAN ITU BERSAMA-SAMA DENGAN
ALLAH"?
Tanya:
Yohanes 1:1
mengatakan: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan
Allah, dan Firman itu adalah Allah." Kata "bersama-sama"
menunjukkan dua Pribadi yang berbeda, bukan?
Jawab:
Ayat ini memang sering digunakan untuk
membuktikan Trinitas, tetapi jika diteliti dengan cermat, justru mendukung
Teologi Keesaan .
Frasa "bersama-sama dengan
Allah" dalam bahasa Yunani adalah πρὸς τὸν θεόν (pros
ton theon). Kata pros dapat berarti "bersama-sama
dengan," tetapi juga dapat berarti "berorientasi kepada" atau
"berada dalam hadirat" atau "dalam hubungan dengan" .
Dalam pemikiran Yahudi,
"Firman" (logos) bukanlah Pribadi yang terpisah,
melainkan pikiran, rencana, dan ekspresi diri Allah sendiri. Ketika
Yohanes mengatakan "Firman itu bersama-sama dengan Allah," ia berarti
Firman itu adalah bagian internal dari esensi ilahi, bukan entitas yang
terpisah .
Perhatikan bahwa
Yohanes kemudian mengatakan: "Firman itu telah menjadi manusia"
(Yohanes 1:14). Ini berarti bahwa Allah sendiri—pikiran, rencana,
dan ekspresi diri-Nya—telah menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Bukan Pribadi
kedua yang terpisah, tetapi Allah yang esa yang menyatakan diri-Nya dalam
daging.
Ayat ini justru
menegaskan keilahian Yesus dan kesatuan-Nya dengan Bapa, bukan memisahkan-Nya
menjadi Pribadi yang berbeda.
20. JIKA ALLAH SATU PRIBADI, MENGAPA YESUS DISEBUT "ANAK
TUNGGAL"?
Tanya:
Yohanes 3:16
mengatakan bahwa Yesus adalah "Anak-Nya yang tunggal." Jika Yesus
adalah Bapa, bagaimana Ia bisa menjadi Anak-Nya sendiri?
Jawab:
Pertanyaan ini muncul
karena kebingungan antara keilahian Yesus dan kemanusiaan
Yesus.
"Anak" dalam Yohanes 3:16 merujuk
pada kemanusiaan Yesus—Allah yang menjadi manusia. "Anak yang
tunggal" berarti Yesus adalah satu-satunya manusia yang dilahirkan secara
ajaib oleh Roh Kudus tanpa campur tangan manusia .
Jadi, ketika Yohanes
3:16 mengatakan "Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal," itu
berarti Allah (Bapa) mengaruniakan kemanusiaan Yesus sebagai korban penebusan.
Ini bukan dua Pribadi yang berbeda, tetapi satu Pribadi yang sama yang
mengaruniakan diri-Nya sendiri dalam rupa manusia.
Perhatikan bahwa Yesus
sendiri menyebut diri-Nya sebagai "Anak Manusia" (lebih dari 80 kali)
bukan untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Pribadi kedua yang terpisah, tetapi
untuk menekankan kemanusiaan-Nya. Sebagai Allah, Ia adalah Bapa yang kekal;
sebagai manusia, Ia adalah Anak yang lahir di Betlehem.
21. BAGAIMANA DENGAN KOLOSE 1:15 YANG MENYEBUT YESUS "SULUNG"?
Tanya:
Kolose 1:15 mengatakan
bahwa Yesus adalah "yang sulung, lebih utama dari segala yang
diciptakan." Bukankah ini menunjukkan bahwa Yesus adalah ciptaan, bukan
Allah?
Jawab:
Ini adalah kesalahpahaman yang sering
terjadi. Kata "sulung" (Yunani: prototokos) tidak berarti
"yang pertama diciptakan," melainkan "yang
terutama" atau "yang paling utama" .
Dalam budaya Yahudi,
anak sulung bukan hanya yang lahir pertama, tetapi yang mewarisi hak
kepemimpinan dan kehormatan tertinggi dalam keluarga. "Sulung"
berarti keutamaan posisi, bukan kronologi kelahiran.
Perhatikan bahwa Paulus segera
menjelaskan apa yang dimaksudnya: "Karena di dalam Dialah telah diciptakan
segala sesuatu... Ia adalah terutama dari segala yang diciptakan" (Kolose
1:16-18). Yesus adalah "sulung" karena Ia adalah Sang
Pencipta—bukan karena Ia adalah ciptaan .
Ayat ini justru
menegaskan keilahian Yesus, bukan menyangkalnya. Yesus adalah Allah yang esa
yang menjadi manusia, dan sebagai manusia, Ia adalah "sulung" dari
ciptaan baru yang akan dibangkitkan.
22. APAKAH TEOLOGI KEESAAN MENOLAK KE-ALLAHAN YESUS?
Tanya:
Beberapa orang
mengatakan bahwa Oneness menolak ke-Allahan Yesus. Benarkah demikian?
Jawab:
Sama sekali tidak. Justru sebaliknya,
Teologi Keesaan menegaskan ke-Allahan Yesus secara lebih radikal daripada
Trinitas .
Dalam Trinitas, Yesus
adalah "Pribadi kedua" yang hanya salah satu dari
tiga Pribadi Allah. Ia adalah Allah, tetapi hanya sepertiga dari Allah.
Dalam Teologi Keesaan, Yesus
adalah seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kolose 2:9). Ia bukan
sepertiga dari Allah; Ia adalah 100% Allah yang menyatakan
diri dalam rupa manusia .
Perhatikan
perbedaannya:
·
Trinitas: Yesus = 1/3 dari Allah
·
Keesaan: Yesus = 100% dari Allah
Jadi, Teologi Keesaan justru lebih
menghormati ke-Allahan Yesus daripada Trinitas. Inilah mengapa kami dengan
penuh keyakinan berkata: Yesus adalah Allah—bukan hanya "salah
satu Pribadi" dalam Allah, tetapi Allah sendiri yang
menjadi manusia .
23. BAGAIMANA DENGAN YESUS YANG DISEBUT "TIDAK TAHU HARI AKHIR"?
Tanya:
Markus 13:32
mengatakan: "Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu,
malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa
saja." Jika Yesus adalah Allah, mengapa Ia tidak tahu?
Jawab:
Ayat ini justru menunjukkan kemanusiaan
Yesus yang terbatas. Sebagai manusia, Yesus memiliki keterbatasan
pengetahuan (Yunani: gnosis) .
Namun, sebagai Allah, Yesus mengetahui
segala sesuatu. Dalam kemanusiaan-Nya, Ia "mengosongkan diri" (Filipi
2:7) dari hak-hak ilahi-Nya, termasuk pengetahuan mutlak tentang waktu
kedatangan-Nya kembali .
Perhatikan bahwa ayat
ini tidak mengatakan "Bapa itu tahu dan Yesus tidak tahu" sebagai dua
Pribadi yang berbeda. Ini adalah satu Pribadi yang sama yang dalam
kemanusiaan-Nya tidak mengetahui apa yang dalam keilahian-Nya Ia ketahui.
Bayangkan seorang
dokter yang sedang sakit. Sebagai dokter, ia tahu bagaimana menyembuhkan
penyakitnya. Tetapi sebagai pasien, ia mengalami ketidakberdayaan dan
ketidakpastian. Demikian pula, Yesus sebagai Allah mengetahui segala sesuatu,
tetapi sebagai manusia, Ia mengalami keterbatasan pengetahuan.
Ini adalah misteri
inkarnasi yang melampaui logika manusia, tetapi tidak berarti ada dua Pribadi
dalam Allah.
24. APAKAH ONENESS MENGAJARKAN BAPTISAN ULANG?
Tanya:
Saya mendengar bahwa
Oneness mengajarkan baptisan ulang bagi mereka yang dibaptis dengan formula
Trinitas. Benarkah demikian?
Jawab:
Teologi Keesaan mengajarkan bahwa
baptisan harus dilakukan dalam nama Yesus Kristus karena
itulah pola yang diajarkan para rasul dalam Kisah Para Rasul .
Alasannya:
1. Amanat Agung (Matius 28:19)
menggunakan bentuk tunggal "nama" (bukan "nama-nama"), yang
menunjuk pada satu nama Yesus .
2. Pola apostolik dalam Kisah Para
Rasul selalu menggunakan "dalam nama Yesus Kristus" (Kisah 2:38;
8:16; 10:48; 19:5) .
3. Tidak ada satu pun contoh dalam
Alkitab yang membaptis dengan formula "dalam nama Bapa, Anak, dan Roh
Kudus" .
Baptisan dengan formula Trinitas tidak
dianggap "tidak sah" atau "batal," tetapi dianggap kurang
lengkap karena tidak menggunakan nama Yesus yang adalah nama Bapa,
Anak, dan Roh Kudus .
Jika seseorang dibaptis dengan formula
Trinitas, mereka didorong untuk dibaptis ulang dalam nama Yesus untuk menyempurnakan ketaatan
mereka kepada pola apostolik .
25. APAKAH ONENESS MENGAJARKAN BAHASA ROH ADALAH BUKTI KESELAMATAN?
Tanya:
Apakah benar bahwa
Oneness mengajarkan bahwa berbicara dalam bahasa roh adalah bukti keselamatan?
Jawab:
Teologi Keesaan mengajarkan bahwa baptisan
Roh Kudus dengan bukti awal berbicara dalam bahasa roh adalah
pengalaman normal dan diharapkan bagi setiap orang percaya .
Ini didasarkan pada tiga contoh dalam
Kisah Para Rasul di mana orang-orang menerima Roh Kudus dan langsung berbicara
dalam bahasa roh :
1. Pentakosta (Kisah 2:4) —
"Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata
dalam bahasa-bahasa lain"
2. Rumah Kornelius (Kisah 10:44-46)
— "Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh
dan memuliakan Allah"
3. Murid-murid di Efesus (Kisah 19:6) —
"Dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat"
Perhatikan bahwa dalam ketiga contoh
ini, berbicara dalam bahasa roh adalah bukti langsung bahwa
mereka telah menerima Roh Kudus .
Namun, perlu dicatat bahwa Teologi
Keesaan tidak mengajarkan bahwa bahasa roh adalah satu-satunya
bukti, atau bahwa seseorang yang tidak berbicara dalam bahasa roh pasti tidak
selamat. Ini adalah isu yang kompleks yang memerlukan pendekatan pastoral yang
bijaksana .
Yang diajarkan adalah bahwa bahasa
roh adalah bukti normal dan diharapkan dari baptisan Roh Kudus,
sebagaimana yang terlihat dalam pola apostolik .
BAGIAN 6: SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DOKTRIN
26. MENGAPA TRINITAS MENJADI AJARAN UTAMA KRISTEN?
Tanya:
Jika Teologi Keesaan
adalah ajaran yang benar, mengapa Trinitas menjadi ajaran utama Kristen selama
berabad-abad?
Jawab:
Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang
jujur dan historis. Trinitas menjadi ajaran utama melalui proses panjang yang
melibatkan konsili-konsili gereja pada abad ke-4 dan seterusnya .
Faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan Trinitas:
1. Pengaruh Filsafat
Yunani — Para Bapa Gereja menggunakan istilah-istilah seperti ousia (hakikat)
dan hypostasis (pribadi) yang berasal dari filsafat Yunani,
bukan dari Alkitab .
2. Konsili Nicea (325 M) — Konsili ini
dipengaruhi oleh politik kekaisaran dan bertujuan untuk menyatukan gereja di
bawah satu doktrin yang disetujui kaisar .
3. Reaksi terhadap Ajaran
Sesat — Trinitas dikembangkan sebagai reaksi terhadap ajaran-ajaran seperti
Arianisme yang menyangkal ke-Allahan Yesus. Tujuannya baik, tetapi hasilnya
menciptakan sistem teologi yang rumit dan tidak alkitabiah .
4. Tradisi Manusia — Begitu
Trinitas ditetapkan sebagai doktrin resmi, ia diwariskan dari generasi ke
generasi tanpa dipertanyakan kembali .
Perlu dicatat bahwa gereja mula-mula
(abad pertama) tidak mengajarkan Trinitas. Para rasul dan murid-murid awal
adalah monoteis Yahudi yang percaya bahwa Yesus adalah manifestasi Allah yang
esa .
Kembali ke Alkitab
berarti kembali ke iman para rasul, bukan ke tradisi konsili abad ke-4.
27. MENGAPA GEREJA MULA-MULA TIDAK MENGAJARKAN TRINITAS?
Tanya:
Apakah benar bahwa
gereja mula-mula tidak mengajarkan Trinitas? Bagaimana kita tahu?
Jawab:
Ya, benar. Gereja
mula-mula (abad pertama) tidak mengajarkan Trinitas. Ada beberapa bukti:
1. Pengakuan Iman Para
Rasul — Pengakuan iman tertua gereja (Symbolum Apostolorum) tidak
mengandung doktrin Trinitas dalam pengertian tiga Pribadi. Ia hanya mengakui
Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai tiga manifestasi dari satu Allah.
2. Tulisan Para Bapa
Apostolik — Tulisan-tulisan gereja perdana (seperti Surat Clement, Didache,
dll.) tidak mengajarkan Trinitas. Mereka berbicara tentang Allah sebagai satu
Pribadi yang menyatakan diri dalam Yesus .
3. Pola Baptisan — Gereja mula-mula
membaptis "dalam nama Yesus Kristus," bukan "dalam nama Bapa,
Anak, dan Roh Kudus." Ini menunjukkan bahwa mereka memahami bahwa nama
Yesus adalah nama dari Allah yang esa .
4. Monoteisme Yahudi — Para rasul dan
murid-murid awal adalah orang Yahudi yang memegang teguh Shema (Ulangan 6:4).
Mereka tidak mungkin mengajarkan Trinitas yang bertentangan dengan monoteisme
ketat mereka .
Trinitas baru berkembang pada abad ke
dan ke-3, dan baru menjadi doktrin resmi pada Konsili Nicea (325 M) dan Konsili
Konstantinopel (381 M) .
28. APAKAH ONENESS TERMASUK ALIRAN SESAT?
Tanya:
Banyak orang
mengatakan bahwa Oneness adalah aliran sesat karena menolak Trinitas. Bagaimana
menjawabnya?
Jawab:
Pertanyaan ini penting
dan perlu dijawab dengan bijaksana.
Pertama, perlu
didefinisikan apa yang dimaksud dengan "sesat." Secara teologis,
"sesat" berarti ajaran yang menyimpang dari kebenaran fundamental
iman Kristen.
Teologi Keesaan tidak
menyimpang dari kebenaran fundamental:
1. Percaya pada satu
Allah — Oneness percaya pada satu Allah yang esa (Ulangan 6:4) .
2. Percaya pada
ke-Allahan Yesus — Oneness percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yohanes
1:1, 14; Kolose 2:9) .
3. Percaya pada
keselamatan oleh anugerah — Oneness percaya bahwa keselamatan adalah
anugerah Allah melalui iman dalam Yesus Kristus .
4. Percaya pada Alkitab
sebagai Firman Allah — Oneness percaya pada otoritas mutlak Alkitab .
Perbedaan utama Oneness dengan Trinitas
adalah interpretasi tentang bagaimana Allah yang esa
menyatakan diri-Nya. Oneness percaya bahwa Allah adalah satu Pribadi yang
menyatakan diri dalam tiga peranan, sedangkan Trinitas percaya satu Allah dalam
tiga Pribadi .
Keduanya percaya pada satu Allah dan
ke-Allahan Yesus. Perbedaannya adalah pada formulasi tentang
bagaimana keesaan dan ke-Allahan itu dipahami .
Apakah perbedaan formulasi ini membuat
Oneness "sesat"? Itu tergantung pada definisi "sesat." Jika
"sesat" berarti "tidak sesuai dengan tradisi gereja," maka
Oneness mungkin dianggap sesat oleh sebagian orang. Tetapi jika
"sesat" berarti "menyimpang dari kebenaran Alkitab," maka
Oneness tidak sesat karena ajarannya didasarkan pada Alkitab .
29. MENGAPA ORANG YAHUDI MENOLAK TRINITAS?
Tanya:
Orang Yahudi menolak
Trinitas karena bertentangan dengan Ulangan 6:4. Apakah ini berarti Trinitas
tidak alkitabiah?
Jawab:
Ya, tepat sekali. Orang Yahudi, sebagai
pewaris langsung Perjanjian Lama, menolak Trinitas karena bertentangan dengan
monoteisme ketat yang diajarkan dalam Taurat .
Ulangan 6:4 (Shema) adalah
deklarasi iman yang paling fundamental dalam Yudaisme: "Dengarlah, hai
orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" Orang Yahudi
menafsirkan ayat ini sebagai pernyataan bahwa Allah adalah satu Pribadi yang
tunggal .
Ketika Kekristenan mengajarkan Trinitas,
orang Yahudi melihatnya sebagai pelanggaran terhadap Shema. Mereka
bertanya: "Bagaimana mungkin Allah yang esa bisa menjadi tiga
Pribadi?" .
Fakta bahwa orang Yahudi—yang sangat
menjaga kemurnian monoteisme—menolak Trinitas adalah bukti kuat bahwa Trinitas
tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama .
Yesus sendiri, sebagai orang Yahudi yang
saleh, mengutip Shema dan mengajarkannya sebagai hukum yang
terutama (Markus 12:29). Ia tidak pernah mengajarkan bahwa Allah itu tiga
Pribadi .
Jadi, penolakan orang
Yahudi terhadap Trinitas justru mendukung Teologi Keesaan yang mengajarkan
bahwa Allah adalah satu Pribadi yang esa.
30. BAGAIMANA DENGAN TRINITAS DALAM PERJANJIAN BARU?
Tanya:
Apakah Perjanjian Baru
mengajarkan Trinitas?
Jawab:
Perjanjian Baru tidak pernah secara
eksplisit mengajarkan Trinitas . Kata "Trinitas" (Trinitas) tidak pernah
muncul dalam Alkitab .
Yang diajarkan
Perjanjian Baru adalah:
1. Allah itu esa (1 Korintus 8:6;
Efesus 4:6; 1 Timotius 2:5) .
2. Yesus adalah Allah (Yohanes 1:1,
14; 20:28; Kolose 2:9; Titus 2:13) .
3. Roh Kudus adalah Roh
Allah (Roma 8:9; 1 Korintus 3:16; 6:19) .
Yang tidak diajarkan
Perjanjian Baru adalah:
1. Allah itu tiga Pribadi — Tidak ada satu
ayat pun yang mengatakan "Allah adalah tiga Pribadi" .
2. Bapa, Anak, dan Roh
Kudus adalah tiga Pribadi yang terpisah — Bahkan Matius 28:19 (yang sering
digunakan untuk Trinitas) menggunakan bentuk tunggal "nama" bukan
jamak "nama-nama" .
3. Yesus adalah Pribadi
kedua dari Trinitas — Ini adalah interpretasi, bukan pernyataan langsung Alkitab .
Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Allah
adalah esa dan Yesus adalah Allah yang menyatakan diri dalam rupa manusia . Roh Kudus adalah Roh Allah yang hadir di dalam
umat-Nya . Ini adalah Teologi Keesaan, bukan Trinitas.
BAGIAN 7: APLIKASI PRAKTIS
31. BAGAIMANA TEOLOGI KEESAAN MEMPENGARUHI IBADAH?
Tanya:
Bagaimana Teologi
Keesaan mempengaruhi cara kita beribadah?
Jawab:
Teologi Keesaan
memiliki implikasi praktis yang signifikan dalam ibadah:
1. Doa — Kita berdoa
kepada Yesus, bukan kepada "Pribadi" yang terpisah. Kita tidak perlu
"menyampaikan" doa kita melalui Yesus kepada Bapa yang terpisah; kita
berdoa langsung kepada Yesus yang adalah Bapa dan Roh Kudus .
2. Penyembahan — Kita menyembah
Yesus sebagai Allah yang esa. Kita tidak menyembah "tiga Pribadi"
yang berbeda, tetapi satu Pribadi yang sama dalam tiga peranan .
3. Baptisan — Baptisan
dilakukan dalam nama Yesus, bukan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai
tiga Pribadi yang terpisah .
4. Nyanyian dan Pujian — Kita bernyanyi
tentang Yesus sebagai Allah yang esa dan Juruselamat yang tunggal.
5. Khotbah — Fokus
pemberitaan adalah pada Yesus sebagai satu-satunya Allah yang menyatakan diri
dalam rupa manusia .
Teologi Keesaan
membuat ibadah menjadi lebih sederhana dan lebih berpusat pada Yesus. Kita
tidak perlu "menyeimbangkan" penyembahan antara tiga Pribadi; kita
cukup menyembah Yesus yang adalah Allah.
32. APAKAH TEOLOGI KEESAAN MENGUBAH DOA KAMI?
Tanya:
Apakah saya masih bisa
berdoa kepada Bapa, Anak, dan Roh Kudus?
Jawab:
Tentu saja! Anda masih dapat berdoa
kepada Bapa, Anak, dan Roh Kudus—selama Anda memahami bahwa ketiganya adalah
satu Pribadi yang sama .
Dalam Teologi Keesaan,
doa adalah percakapan dengan Allah yang esa, yang kita kenal dalam nama Yesus.
Ketika kita berdoa kepada "Bapa," kita berbicara dengan keilahian
Allah. Ketika kita berdoa kepada "Yesus," kita berbicara dengan Allah
yang menjadi manusia. Ketika kita berdoa kepada "Roh Kudus," kita
berbicara dengan Allah yang hadir di dalam kita.
Perbedaan dengan Trinitas adalah bahwa
dalam Trinitas, doa kepada Bapa, Anak, dan Roh Kudus dianggap sebagai doa
kepada tiga Pribadi yang berbeda. Dalam Teologi Keesaan, doa kepada Bapa, Anak,
dan Roh Kudus adalah doa kepada satu Pribadi yang sama yang menyatakan diri
dalam tiga cara yang berbeda .
Jadi, Anda tetap dapat
berdoa seperti biasa, tetapi dengan pemahaman yang lebih dalam: setiap doa
Anda, kepada siapapun Anda tujukan, adalah doa kepada Yesus Kristus, Allah yang
esa.
33. APAKAH TEOLOGI KEESAAN MENGUBAH CARA MEMBACA ALKITAB?
Tanya:
Bagaimana Teologi
Keesaan mempengaruhi cara kita membaca dan memahami Alkitab?
Jawab:
Teologi Keesaan
mempengaruhi cara kita membaca Alkitab dalam beberapa cara:
1. Hermeneutika yang
Berpusat pada Kristus — Semua kitab suci, dari Kejadian hingga Wahyu, berbicara tentang
Yesus Kristus (Lukas 24:27, 44). Yesus adalah kunci untuk memahami seluruh
Alkitab.
2. Konsistensi Perjanjian
Lama dan Baru — Perjanjian Lama dan Baru adalah satu kesatuan yang memberitakan
tentang satu Pribadi Allah yang esa .
3. Penafsiran Ayat-ayat
"Trinitas" — Ayat-ayat yang tampaknya "Trinitas" (seperti Matius
28:19; 2 Korintus 13:14) ditafsirkan dalam terang monoteisme ketat yang
diajarkan di seluruh Alkitab .
4. Fokus pada Nama Yesus — Nama Yesus
adalah nama yang di atas segala nama (Filipi 2:9-11). Semua otoritas dan kuasa
ada dalam nama Yesus.
5. Pola Apostolik — Kita mengikuti
pola ajaran dan praktik para rasul, bukan tradisi gereja kemudian .
Teologi Keesaan
membuat pembacaan Alkitab menjadi lebih sederhana dan lebih terfokus—semua
tentang Yesus.
34. BAGAIMANA TEOLOGI KEESAAN MEMPENGARUHI KESELAMATAN?
Tanya:
Apakah saya harus
percaya Teologi Keesaan untuk diselamatkan?
Jawab:
Pertanyaan ini
membutuhkan jawaban yang bijaksana.
Keselamatan adalah oleh anugerah
melalui iman dalam Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Seseorang
diselamatkan bukan karena pemahaman teologisnya yang sempurna, tetapi karena
imannya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat .
Namun, pemahaman
yang benar tentang siapa Yesus sangat penting. Yesus sendiri bertanya:
"Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" (Matius 16:13), dan Petrus
menjawab: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (ayat 16).
Yesus memuji Petrus karena pengakuan ini.
Jadi, inti keselamatan adalah pengakuan
bahwa Yesus adalah Tuhan (Roma 10:9) dan iman kepada-Nya sebagai
Juruselamat .
Teologi Keesaan membantu kita
memahami siapa Yesus dengan lebih benar—bahwa Ia adalah Allah
sendiri yang menjadi manusia, bukan "Pribadi kedua" yang
terpisah .
Namun, kita tidak
boleh menghakimi keselamatan orang lain berdasarkan pemahaman teologis mereka.
Allah adalah Hakim yang adil, dan Ia melihat hati manusia.
Yang terpenting
adalah: Percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu, dan
hidup sesuai dengan Firman-Nya.
35. BAGAIMANA MEMULAI MEMAHAMI TEOLOGI KEESAAN?
Tanya:
Saya tertarik untuk
memahami Teologi Keesaan lebih dalam. Di mana saya harus memulai?
Jawab:
Langkah-langkah
praktis untuk memulai:
1. Berdoa — Mintalah Roh
Kudus (yaitu Yesus sendiri) untuk membuka mata rohani Anda untuk memahami
kebenaran (Yohanes 16:13).
2. Baca Alkitab dengan
Hati Terbuka — Bacalah seluruh Alkitab, terutama:
o
Ulangan 6:4; Yesaya 44:24 (keesaan Allah)
o
Yohanes 1:1-14; Kolose 2:9; 1 Timotius 3:16 (ke-Allahan Yesus)
o
Kisah Para Rasul 2:38; 8:16; 10:48; 19:5 (baptisan dalam nama Yesus)
o
Yohanes 14:7-11; 16:13-15 (Yesus dan Roh Kudus)
3. Pelajari Konteks
Sejarah — Pelajari bagaimana Trinitas berkembang dalam sejarah gereja dan
bandingkan dengan ajaran para rasul .
4. Diskusi dengan
Bijaksana — Diskusikan dengan orang-orang yang memahami Teologi Keesaan, tetapi
juga dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda, dengan sikap hormat dan
rendah hati .
5. Baca Literatur yang
Baik — Baca buku-buku seperti "The Oneness of God" oleh David K.
Bernard atau buku-buku lain yang membahas Teologi Keesaan secara
alkitabiah .
6. Terapkan dalam Ibadah — Mulailah
berdoa dan menyembah dengan pemahaman bahwa Yesus adalah Allah yang esa.
Ingatlah:
"Kebenaran tidak perlu ditakuti. Ia hanya perlu dicari dengan hati yang
jujur dan pikiran yang terbuka."
PENUTUP
Demikianlah buku tanya
jawab tentang Teologi Keesaan Allah. Kami berharap buku ini membantu Anda
memahami kebenaran bahwa Allah itu esa—satu Pribadi yang menyatakan diri-Nya
dalam tiga peranan: sebagai Bapa dalam penciptaan, sebagai Anak dalam
penebusan, dan sebagai Roh Kudus dalam pembaharuan.
Kami mengundang Anda
untuk terus mencari kebenaran Alkitab dengan hati yang terbuka dan pikiran yang
jernih. Sebab firman Tuhan berkata: "Carilah TUHAN selama Ia berkenan
ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" (Yesaya 55:6).
Akhir kata, marilah
kita bersama-sama memuliakan Yesus Kristus, Allah yang esa, Juruselamat kita,
yang telah mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga untuk menyelamatkan
kita dari dosa dan maut.
"Aku adalah Alfa
dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir." (Wahyu 22:13)
Soli Deo Gloria — Hanya bagi
kemuliaan Allah.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Terjemahan Baru.
Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
2.
Bernard, David K. The
Oneness of God. Hazelwood, MO: Word Aflame Press, 1983.
3.
Bernard, David K. The
Oneness View of Jesus Christ. Hazelwood, MO: Word Aflame Press,
1994.
4.
Bernard, David K. The
Holy Spirit: A Oneness Pentecostal Perspective. Hazelwood, MO: Word
Aflame Press, 2011.
5.
Bernard, David K. A
Handbook of Basic Doctrines. Hazelwood, MO: Word Aflame Press,
1991.
6.
Bernard, David K. Oneness
and Trinity: A.D. 100–300. Hazelwood, MO: Word Aflame Press, 1993.