Kejadian 26:12; Pengkhotbah 11:4
Pendahuluan: Ketika Tanah Retak dan Langit
Terasa Tertutup
Ada musim dalam hidup ketika
tanah terasa retak. Bukan hanya tanah pertanian, tetapi tanah hati. Kita
melihat sekeliling dan yang tampak hanyalah kekeringan: ekonomi yang sulit,
tubuh yang lemah, doa yang sepertinya tidak dijawab, pelayanan yang kering, atau
hubungan yang dingin. Di musim seperti ini, naluri kita berkata: simpan saja
benihmu. Jangan ambil risiko. Tunggu sampai hujan turun.
Tetapi Alkitab membuka mata kita
kepada sebuah rahasia yang aneh dan indah: di dalam musim kering, Allah justru
memanggil umat-Nya untuk menabur. Dan di dalam ketaatan yang kelihatan
"bodoh" secara manusiawi itulah, Kerajaan Allah dinyatakan.
Marilah kita belajar dari dua
teks yang saling melengkapi: kisah Ishak di Gerar, dan hikmat Qoheleth tentang
angin dan awan.
Bagian Pertama: Ishak
Menabur di Tengah Kelaparan (Kejadian 26:12)
Konteks Kejadian 26 sangat
penting untuk kita pahami. Ada kelaparan di negeri itu—bukan kelaparan biasa,
tetapi kelaparan yang membuat Ishak, seperti ayahnya Abraham, mempertimbangkan
untuk pergi ke Mesir. Namun Allah melarangnya. “Janganlah pergi ke Mesir,”
firman Tuhan, “diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu” (ay. 2). Ishak
taat. Ia tinggal di Gerar, di tanah yang sedang dilanda kekeringan.
Lalu tibalah ayat yang menjadi
inti perenungan kita: “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu
juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN” (ay. 12).
Perhatikan tiga hal yang luar biasa dari ayat ini.
Pertama, Ishak menabur di tanah yang salah menurut logika. Gerar
adalah wilayah semi-kering. Para ahli pertanian kuno mencatat bahwa hasil panen
normal di tanah seperti itu, bahkan pada tahun yang baik, hanyalah sekitar lima
sampai lima belas kali lipat. Tetapi Ishak menuai seratus kali lipat—di tahun
kelaparan. Ini bukan sekadar hasil pertanian yang baik; ini adalah intervensi
ilahi yang melampaui batas kemampuan alamiah.
Kedua, menabur di musim kering berarti mempertaruhkan benih yang
seharusnya bisa dimakan. Di tengah kelaparan, menyimpan benih adalah tindakan
yang masuk akal. Itu adalah jaminan untuk bertahan hidup. Dengan menabur, Ishak
sedang "membuang" sumber makanannya ke dalam tanah yang kering. Ini
adalah tindakan iman yang berisiko. Tetapi justru di sinilah letak rahasianya: Ishak
tidak menabur karena ia yakin tanahnya akan menghasilkan. Ia menabur karena ia
taat kepada perintah Tuhan yang menyuruhnya tinggal di tanah itu.
Ketiga, berkat itu datang “pada tahun itu juga.” Allah tidak
menunda hasta kekeringan berakhir. Ia memberkati ketaatan Ishak di dalam musim
kering itu. Tanah yang kering bukanlah halangan bagi kuasa Allah. Kekeringan
justru menjadi panggung di mana kesetiaan perjanjian Tuhan dinyatakan dengan
jelas.
Aplikasi: Kita sering menunggu “musim yang tepat” untuk
menabur—menunggu ekonomi membaik, menunggu hati terasa siap, menunggu jemaat
bertumbuh, menunggu keadaan menjadi lebih mendukung. Tetapi Ishak mengajarkan
bahwa menabur adalah sebuah keputusan, bukan akibat dari keadaan yang ideal.
Kita mungkin tidak dapat mengubah musim kehidupan kita, tetapi kita dapat
menentukan respons kita di dalamnya. Apakah kita akan menyimpan benih ketaatan
kita sampai keadaan membaik, ataukah kita akan menaburnya hari ini, di tanah
yang kering, karena kita percaya kepada Tuhan yang memerintahkan kita untuk
menabur?
Bagian Kedua: Jangan Menunggu Angin dan Awan
(Pengkhotbah 11:4)
Jika Kejadian 26 menunjukkan apa
yang harus dilakukan—menabur—maka Pengkhotbah 11:4 menunjukkan apa yang
menghalangi kita untuk melakukannya.
“Siapa senantiasa
memperhatikan angin tidak akan menabur, dan siapa senantiasa memperhatikan awan
tidak akan menuai.”
Gambaran di sini adalah seorang
petani yang berdiri di tepi ladangnya, memandang langit, memperhatikan arah
angin, mengamati awan, dan terus menunggu kondisi yang sempurna. Masalahnya
bukan bahwa ia bodoh; ia justru sangat berhati-hati. Tetapi kepandaiannya
menjadi penjara. Semakin ia menganalisis risiko, semakin ia lumpuh untuk
bertindak.
Charles Spurgeon, dalam
khotbahnya tentang ayat ini, mengatakan bahwa orang yang terus-menerus
memperhatikan angin dan awan tidak akan pernah berlayar, tidak akan pernah
menanam, dan tidak akan pernah menuai. Ia bisa menghabiskan seluruh hidupnya
menunggu cuaca yang tidak pernah datang.
Apa “angin dan awan” dalam hidup kita?
“Angin” adalah suara-suara yang
mengatakan: “Keadaanmu belum mendukung.” “Awan” adalah ketakutan yang berbisik:
“Nanti pasti gagal.”
Kita menunggu sampai tabungan
cukup sebelum memberi. Kita menunggu sampai hati terluka sembuh sepenuhnya
sebelum mengampuni. Kita menunggu sampai pelayanan terasa nyaman sebelum
melayani. Kita menunggu sampai doa terasa “berkuasa” sebelum berdoa dengan
sungguh-sungguh. Kita menunggu sampai kita merasa layak di hadapan Tuhan
sebelum datang kepada-Nya. Dan sementara kita menunggu, ladang tetap kosong.
Pengkhotbah tidak mengatakan
bahwa kita boleh bertindak sembarangan. Hikmat tetap penting. Tetapi ia
mengingatkan kita bahwa iman yang sejati selalu mengandung risiko. Menabur
berarti melepaskan kendali. Kita tidak dapat mengatur angin, tetapi kita dapat
mempercayai Dia yang memegang angin di dalam genggaman-Nya.
Puncak: Menabur
karena Kristus Telah Menabur Lebih Dahulu
Jika kita berhenti hanya pada
teladan Ishak dan nasihat Qoheleth, kita akan berakhir dengan moralisme: “Jadilah
pemberani seperti Ishak.” Tetapi Injil membawa kita lebih jauh.
Siapakah Ishak yang sejati? Ishak
di atas gunung Moria adalah gambaran dari Anak yang lain—Anak yang dikasihi
Bapa, yang tidak disimpan, tetapi diserahkan. Yesus Kristus adalah Benih yang
sesungguhnya. Ia tidak menabur di tanah yang kering; Ia sendiri menjadi Benih
yang jatuh ke dalam tanah yang kering—ke dalam kematian—dan dari kematian itu
Ia bangkit menghasilkan buah yang berlimpah bagi banyak orang.
Di kayu salib, Yesus tidak
memperhatikan “angin” dan “awan.” Ia tidak menunggu umat manusia menjadi layak
sebelum Ia menyerahkan diri-Nya. Ia menabur diri-Nya di tengah permusuhan,
penolakan, dan kegelapan—dan tiga hari kemudian, kebangkitan-Nya menjadi panen
pertama dari panen yang akan datang.
Karena itu, ketika kita menabur
ketaatan dan kebaikan di musim kering, kita tidak sedang mencoba mendapatkan
sesuatu dari Tuhan. Kita sedang meniru Benih yang telah lebih dahulu menabur
diri-Nya bagi kita. Ketaatan kita bukanlah harga untuk berkat; ketaatan kita
adalah buah dari kasih karunia yang sudah kita terima di dalam Kristus.
Penutup dan Tantangan
yang Konkret
Jadi, apa yang harus kita lakukan minggu ini?
Pertama, identifikasi “musim kering” Anda. Di area kehidupan mana
Anda merasa tanahnya retak? Di situlah Tuhan mungkin memanggil Anda untuk
menabur, bukan menunggu.
Kedua, taburlah sesuatu yang kecil tetapi nyata. Jangan menunggu
bisa menabur “banyak.” Ishak menabur apa yang ada di tangannya. Mulailah dengan
satu tindakan ketaatan yang konkret: satu tindakan pengampunan, satu pemberian
yang mengorbankan kenyamanan, satu doa yang setia setiap hari, satu pelayanan
kecil yang tidak dilihat orang.
Ketiga, berhentilah menunggu angin yang sempurna. Angin tidak akan
pernah sempurna. Awan akan selalu ada di langit. Tetapi Tuhan yang
memerintahkan Anda untuk menabur adalah Tuhan yang setia. Ia tidak berjanji
bahwa musim akan segera berubah. Ia berjanji bahwa Ia sendiri akan menyertai
Anda di dalam musim itu.
Jangan simpan benih itu sampai
mati. Taburlah. Karena Tuhan yang membangkitkan Benih dari kematian sanggup
menghasilkan panen bahkan dari tanah yang paling kering sekalipun.
Amin.
