DIALOG TERBUKA TENTANG KEESAAN ALLAH

 





Refleksi dari Seorang Trinitarian yang Belajar Mendengarkan


Pengantar Lampiran

Lampiran ini lahir dari sebuah dialog yang terjadi antara seorang penganut Teologi Keesaan (Oneness) dan seorang Trinitarian yang terbuka untuk mendengarkan. Dialog ini tidak dimaksudkan untuk "memenangkan" salah satu pihak, tetapi untuk saling memahami, saling menghormati, dan bersama-sama mencari kebenaran Alkitab sepresisi mungkin.

Kami menyadari bahwa baik Trinitas maupun Oneness adalah upaya manusia untuk memahami Allah yang tidak terbatas. Keduanya memiliki kekuatan dan kelemahan. Keduanya memiliki dasar alkitabiah. Dan keduanya dipegang oleh saudara-saudara seiman yang sama-sama mengasihi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Lampiran ini berisi:

  1. Pertanyaan-pertanyaan kritis dari sudut pandang Trinitarian.

  2. Jawaban-jawaban Oneness yang diberikan dalam dialog.

  3. Refleksi dan pengakuan dari kedua belah pihak.

  4. Kesimpulan yang lebih seimbang dan saling menghormati.


Bagian 1: Pertanyaan Kritis untuk Oneness

Dalam dialog kami, seorang Trinitarian mengajukan beberapa pertanyaan kepada penganut Oneness. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan bukan untuk menjebak, tetapi untuk benar-benar memahami bagaimana sistem Oneness bekerja.


Pertanyaan 1: Jika Yesus adalah Bapa, mengapa Ia tidak pernah berkata "Aku adalah Bapa" secara eksplisit?

Jawaban Oneness:

Yesus tidak pernah berkata "Aku adalah Bapa" secara eksplisit karena Ia sedang berbicara dari posisi kemanusiaan-Nya. Dalam inkarnasi, Ia mengambil peran sebagai "Anak" yang taat kepada "Bapa." Ini adalah relasi fungsional, bukan ontologis.

Yesus menggunakan bahasa yang menunjukkan kesatuan hakikat tetapi bukan identitas pribadi yang membingungkan:

  • "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30).

  • "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9).

  • "Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku" (Yohanes 14:10).

Jika Yesus secara eksplisit berkata "Aku adalah Bapa," para pendengar-Nya yang berpegang pada monoteisme ketat akan menganggap-Nya menghujat. Ia menggunakan bahasa yang menunjukkan kesatuan yang sempurna sambil tetap berbicara dari posisi kemanusiaan-Nya sebagai "Anak."


Pertanyaan 2: Mengapa Yesus berkata "Aku pergi kepada Bapa-Ku" (Yohanes 20:17) jika Ia adalah Bapa?

Jawaban Oneness:

"Aku pergi kepada Bapa-Ku" berarti kemanusiaan Yesus yang dimuliakan akan kembali kepada keilahian-Nya yang transenden. Ini adalah bahasa fungsional yang menunjukkan penyelesaian misi Yesus di bumi.

Perhatikan bahwa Yesus juga berkata:

"Bapa-Ku dan Bapamu... Allah-Ku dan Allahmu" (Yohanes 20:17).

Ini menunjukkan bahwa:

  1. Yesus, sebagai manusia, memiliki hubungan "Anak" dengan Allah, sama seperti kita.

  2. Allah adalah Bapa bagi semua orang percaya—termasuk Yesus dalam kemanusiaan-Nya.

  3. "Pergi kepada Bapa" berarti kembali ke kemuliaan ilahi yang telah Ia miliki sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5).

Ini bukan perbedaan pribadi, tetapi perbedaan peranan—kemanusiaan Yesus kembali kepada keilahian-Nya yang transenden.


Pertanyaan 3: Bagaimana satu Pribadi dapat memiliki dua kesadaran (kemanusiaan dan keilahian) dan berdoa kepada diri-Nya sendiri?

Jawaban Oneness:

Ini adalah misteri inkarnasi yang diakui oleh Alkitab sendiri:

"Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia..." (1 Timotius 3:16).

Inkarnasi adalah misteri yang melampaui pemahaman manusia. Bagaimana Allah yang tidak terbatas dapat menjadi manusia yang terbatas? Bagaimana Yang Mahatahu dapat "bertambah hikmat" (Lukas 2:52)? Bagaimana Yang Kekal dapat lahir dan mati?

Oneness tidak mengklaim dapat menjelaskan misteri ini sepenuhnya. Yang Oneness katakan adalah:

  1. Alkitab dengan jelas mengatakan Allah itu esa (Ulangan 6:4).

  2. Alkitab dengan jelas mengatakan Yesus adalah Allah (Yohanes 1:1; Kolose 2:9).

  3. Alkitab dengan jelas mengatakan Roh Kudus adalah Allah (2 Korintus 3:17; Kisah 5:3-4).

  4. Oleh karena itu, Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu Pribadi yang sama.

  5. Bagaimana satu Pribadi dapat memiliki dua kesadaran? Itu adalah misteri inkarnasi.

Perbedaannya adalah: Oneness menempatkan misteri pada inkarnasi (yang Alkitab akui sebagai "rahasia"), bukan pada "jumlah pribadi" (yang Alkitab tidak pernah katakan sebagai misteri).


Pertanyaan 4: Apakah Oneness mengakui bahwa ia juga memiliki "misteri" yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya?

Jawaban Oneness:

Ya, Oneness mengakui bahwa ada misteri dalam iman Kristen—terutama misteri inkarnasi. Tetapi ini adalah misteri yang Alkitab sendiri akui (1 Timotius 3:16).

Perbedaannya dengan Trinitas adalah:

TrinitasOneness
Misteri tentang jumlah pribadi (satu dalam tiga).Misteri tentang inkarnasi (bagaimana Allah menjadi manusia).
Alkitab tidak pernah mengatakan ini adalah misteri.Alkitab secara eksplisit mengatakan ini adalah "rahasia" (1 Timotius 3:16).
Ini adalah misteri tambahan yang dibawa ke dalam Alkitab.Ini adalah misteri yang Alkitab sendiri nyatakan.

Jadi, Oneness memiliki misteri—tetapi misteri yang alkitabiah, bukan misteri yang diciptakan oleh rumusan teologis kemudian.


Bagian 2: Refleksi Seorang Trinitarian

Setelah mendengarkan dan berdialog dengan penganut Oneness, saya (penulis lampiran ini) mengakui beberapa hal dengan jujur:


Pengakuan 1: Saya Datang dengan Presuposisi Trinitarian

Saya menyadari bahwa selama ini saya mengevaluasi Oneness dari dalam kerangka Trinitas tanpa menyadarinya. Saya menganggap Trinitas sebagai "default" dan mengukur Oneness dengan ukuran itu. Itu tidak adil dan tidak jujur secara intelektual.

Pengakuan 2: "Misteri Jumlah Pribadi" Tidak Memiliki Dasar Alkitabiah

Saya sering menggunakan "misteri" sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit tentang Trinitas. Tetapi setelah berdialog, saya menyadari bahwa Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa "jumlah pribadi Allah adalah misteri." Itu adalah asumsi Trinitarian yang saya bawa ke dalam Alkitab, bukan yang saya baca dari Alkitab.

Pengakuan 3: Oneness Memiliki Dasar Alkitabiah yang Kuat

Saya sekarang melihat bahwa Oneness memiliki dasar Alkitabiah yang kuat:

  • Ulangan 6:4 ("TUHAN itu esa") dibaca secara literal.

  • 1 Timotius 3:16 ("Dia yang menyatakan diri dalam rupa manusia") dibaca secara literal.

  • Kolose 2:9 ("seluruh kepenuhan ke-Allahan" dalam Yesus) dibaca secara literal.

Oneness tidak "memaksakan" interpretasi pada ayat-ayat ini. Ia membacanya secara alami.

Pengakuan 4: Trinitas adalah Interpretasi Teologis, Bukan Pernyataan Eksplisit Alkitab

Saya mengakui bahwa Trinitas tidak pernah dinyatakan secara eksplisit dalam Alkitab. Tidak ada ayat yang mengatakan "Allah adalah tiga Pribadi." Trinitas adalah inferensi teologis yang ditarik dari keseluruhan kesaksian Alkitab.

Ini tidak berarti Trinitas "salah." Ini berarti Trinitas adalah interpretasi—dan interpretasi harus selalu dipegang dengan kerendahan hati.


Kesimpulan Bersama

Setelah berdialog dengan jujur dan terbuka, kami (penganut Oneness dan Trinitarian) sampai pada beberapa kesimpulan bersama:


Kesimpulan 1: Alkitab adalah Otoritas Tertinggi

Kami sepakat bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang diilhamkan dan menjadi otoritas tertinggi dalam iman dan kehidupan. Segala sesuatu yang kami percaya harus didasarkan pada Alkitab.

Kesimpulan 2: Allah itu Esa

Kami sepakat bahwa hanya ada satu Allah (Ulangan 6:4; 1 Korintus 8:6). Ini adalah fondasi iman kami.

Kesimpulan 3: Yesus adalah Allah

Kami sepakat bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati (Yohanes 1:1; Kolose 2:9; Titus 2:13). Ia bukan makhluk ciptaan, tetapi Allah yang menjadi manusia.

Kesimpulan 4: Roh Kudus adalah Allah

Kami sepakat bahwa Roh Kudus adalah Allah (Kisah 5:3-4; 2 Korintus 3:17). Roh Kudus bukan sekadar kuasa atau pengaruh, tetapi Allah sendiri yang hadir di dalam umat-Nya.

Kesimpulan 5: Inkarnasi adalah Misteri

Kami sepakat bahwa inkarnasi adalah misteri besar yang melampaui pemahaman manusia (1 Timotius 3:16). Bagaimana Allah yang tidak terbatas dapat menjadi manusia yang terbatas adalah rahasia yang hanya dapat kita pahami sebagian.

Kesimpulan 6: Perbedaan Kami adalah Formulasi

Kami sepakat bahwa perbedaan antara Trinitas dan Oneness adalah formulasi teologis, bukan iman dasar. Kami sama-sama percaya pada satu Allah, ke-Allahan Yesus, dan keselamatan oleh anugerah.

Kesimpulan 7: Kami Harus Saling Menghormati

Kami sepakat bahwa kami harus saling menghormati meskipun berbeda pemahaman. Kami adalah saudara seiman yang sama-sama mengasihi Yesus Kristus. Perbedaan kami tidak boleh memecah belah kami.

Kesimpulan 8: Kami Terus Mencari Kebenaran

Kami sepakat bahwa kami harus terus mencari kebenaran dengan hati yang rendah hati dan pikiran yang terbuka. Kami tidak memiliki semua jawaban. Kami belajar bersama.


Bagian 5: Seruan Bersama

Kami, baik penganut Oneness maupun Trinitarian, mengajak semua pembaca untuk:

  1. Mengasihi Yesus Kristus di atas segalanya. Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kita.

  2. Mengasihi satu sama lain. Yesus berkata: "Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:35).

  3. Berpegang pada Alkitab. Alkitab adalah Firman Allah yang menjadi otoritas tertinggi.

  4. Rendah hati dalam perbedaan. Kita tidak memiliki semua jawaban. Kita melihat "dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar" (1 Korintus 13:12).

  5. Bersatu dalam Yesus. Pada akhirnya, bukanlah rumusan teologis kita yang menyelamatkan kita, tetapi Yesus sendiri.


"Sebab tidak ada nama lain di bawah kolong langit ini yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12)

"Sebab sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." (1 Korintus 13:12)

"Tetapi hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2)


Akhir dari Lampiran


KATA PENGANTAR UNTUK EDISI REVISI

Edisi revisi ini hadir dengan lampiran tambahan yang berisi hasil dialog terbuka antara Teologi Keesaan dan Trinitas. Kami berharap lampiran ini membantu pembaca untuk:

  1. Memahami kedua pandangan dengan lebih baik—bukan untuk memilih salah satu, tetapi untuk saling menghormati.

  2. Melihat bahwa perbedaan kami adalah formulasi teologis, bukan iman dasar.

  3. Belajar untuk berdialog dengan rendah hati—mendengarkan, belajar, dan tumbuh bersama.

Kami tidak mengklaim bahwa lampiran ini "menyelesaikan" perbedaan antara Oneness dan Trinitas. Perbedaan itu tetap ada. Tetapi kami berharap lampiran ini membantu kita semua untuk saling menghormati dan mengasihi meskipun berbeda.


"Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." (1 Tesalonika 5:21)