"Kembali ke Rumah: Belajar dari Radikalitas Keluarga Gereja Mula-Mula"
Nats Alkitab: Efesus 2:19 & Kisah Para Rasul 2:44-47
I. PENDAHULUAN (PENGANTAR)
Syalom, Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus.
Jika hari ini Anda ditanya, "Apakah itu Gereja?" Jawaban apa yang paling pertama muncul di benak Anda? Sering kali, secara refleks kita berpikir tentang sebuah gedung bertingkat, menara dengan salib di atasnya, susunan jadwal ibadah, atau mungkin sebuah organisasi keagamaan yang legal secara hukum negara.
Namun, mari kita tenggelamkan diri kita ke abad pertama. Ketika Rasul Paulus menulis surat-suratnya di dalam penjara Romawi yang dingin, atau ketika jemaat mula-mula berkumpul di bawah ancaman persekusi, mereka tidak pernah membayangkan Gereja sebagai sebuah institusi yang kaku. Bagi mereka, Gereja adalah sebuah rumah tangga. Gereja adalah sebuah keluarga rohani.
Rasul Paulus secara radikal mendeklarasikan hal ini dalam Efesus 2:19:
"Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah."
Kata "keluarga Allah" di sini menggunakan kata Yunani oikeios, yang berarti orang-orang yang tinggal di bawah satu atap, berbagi kehidupan, dan terikat dalam satu nama belakang yang sama.
Hari ini, di Bagian Pertama dari seri khotbah ini, kita akan belajar secara khusus: Seberapa jauh dan seberapa radikal Gereja mula-mula mempraktikkan prinsip bahwa Gereja adalah keluarga rohani? Mengapa dunia kuno sampai tergoncang melihat cara hidup mereka?
II. ISI KHOTBAH (TIGA TELADAN RADIKAL GEREJA MULA-MULA)
Mari kita melihat tiga bukti historis dan alkitabiah tentang bagaimana jemaat perdana menghidupi hakikat sebagai keluarga rohani orang percaya.
1. Mereka Meruntuhkan Sekat Sosial demi "Meja Makan" yang Sama
Dunia Kekaisaran Romawi abad pertama adalah dunia yang sangat terkotak-kotak oleh sistem kasta dan status sosial. Budak disamakan dengan barang properti, orang kaya tidak akan sudi duduk berdampingan dengan kaum miskin, dan orang Yahudi mengharamkan dirinya makan bersama orang non-Yahudi (Yunani).
Namun, apa yang terjadi ketika mereka masuk ke dalam Gereja mula-mula? Dalam Galatia 3:28, Paulus menegaskan: "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus."
Praktik Nyata: Di dalam Gereja mula-mula, ibadah mereka tidak berwujud deretan kursi yang menghadap ke panggung, melainkan sebuah Perjamuan Kasih (Agape Feast)—sebuah meja makan yang nyata. Di meja itu, seorang majikan kaya raya harus duduk berdampingan dengan budaknya, memecahkan roti yang sama, dan saling memanggil dengan sebutan: "Saudaraku" (Adelphos).
Peristiwa Sejarah Kristen: Catatan sejarah mencatat sebuah peristiwa luar biasa pada awal abad ke-3. Seorang mantan budak bernama Kallistos dipilih oleh jemaat untuk menjadi Pemimpin Jemaat (Uskup) di Roma. Bayangkan radikalitasnya: di luar gedung gereja, ia adalah seorang yang tidak dianggap, tetapi di dalam keluarga rohani ini, mantan majikannya yang kaya harus duduk dan tunduk mendengarkan bimbingan rohani dari seorang (mantan) budak. Gereja mula-mula membuktikan bahwa ikatan darah Kristus jauh lebih kuat daripada status sosial duniawi.
2. Mereka Mempraktikkan Ekonomi Kekeluargaan yang Radikal
Di dalam sebuah keluarga inti yang sehat, jika seorang anak kelaparan, saudaranya tidak akan menimbun makanan di dalam kamarnya. Kebutuhan satu anggota adalah tanggung jawab bersama. Inilah yang dihidupi oleh jemaat perdana.
Mari kita baca Kisah Para Rasul 2:44-45:
"Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala sesuatu adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing."
Ilustrasi Kontekstual: Tolong jangan salah pahami ayat ini sebagai bentuk "komunisme paksaan". Ini adalah kepedulian sukarela yang digerakkan oleh kasih. Mereka tidak dipaksa oleh hukum untuk menjual tanah mereka, tetapi ketika Barnabas (Kisah Para Rasul 4:36-37) melihat ada janda-janda dan anak yatim yang kelaparan karena dipecat dari pekerjaan mereka setelah menjadi Kristen, hatinya tergerak. Ia menganggap hartanya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik keluarganya—yaitu Gereja.
Solidaritas Lintas Batas: Konsep keluarga ini bahkan melampaui batas geografis. Ketika kelaparan hebat melanda Yudea (Yerusalem), jemaat di Antiokhia dan Yunani—yang jaraknya ratusan kilometer dan bahkan belum pernah bertatap muka—segera mengumpulkan persembahan dan mengirimkannya untuk meringankan beban saudara seiman mereka (Kisah Para Rasul 11:29). Bagi mereka, penderitaan di Yerusalem adalah penderitaan keluarga mereka sendiri.
3. Mereka Menjadi "Ruang Aman" dan Mengadopsi yang Terbuang
Kekaisaran Romawi memiliki budaya kejam yang dilegalkan bernama Exposure (pembuangan bayi). Jika sebuah keluarga miskin melahirkan anak perempuan (yang dianggap beban ekonomi), atau bayi yang lahir cacat, mereka akan membuang bayi tersebut di tempat pembuangan sampah kota atau di pinggir jalan untuk dibiarkan mati kelaparan atau dimakan binatang liar.
Bagaimana respons Gereja sebagai keluarga rohani?
Praktik Nyata: Orang-orang Kristen perdana sengaja berjalan ke tempat-tempat pembuangan sampah tersebut pada malam hari. Mereka memungut bayi-bayi yang menangis kedinginan itu, membawa mereka pulang, mengadopsi mereka, dan membesarkan mereka di dalam rumah tangga Kristen sebagai anak-anak Allah yang berharga.
Kesaksian Dunia Luar: Saking nyatanya praktik kasih ini, seorang sejarawan sekuler pagan pada abad ke-2 bernama Lucian dari Samosata menulis dengan nada heran sekaligus sinis:
"Pemimpin pertama mereka (Yesus) meyakinkan mereka bahwa mereka semua adalah saudara... Mereka menunjukkan kepedulian yang luar biasa ketika salah satu dari mereka tertimpa kemalangan, dan mereka mengerahkan segala cara untuk saling menolong."
Bahkan, Teolog kuno Tertullianus mencatat bahwa masyarakat Romawi yang menyembah berhala sampai berbisik-bisik saat melihat jemaat Kristen: "Lihatlah, betapa mereka saling mengasihi!"
III. APLIKASI DAN PENUTUP (TANTANGAN BAGI KITA HARI INI)
Saudara-saudari, setelah melihat bagaimana jemaat mula-mula mempraktikkan "Gereja sebagai keluarga rohani", mari kita bercermin pada kehidupan gereja modern hari ini.
Sering kali, gereja hari ini telah berubah menjadi sekadar "pom bensin rohani"—tempat di mana orang datang seminggu sekali, mengisi bahan bakar (mendengarkan khotbah dan musik yang bagus), lalu pergi tanpa peduli siapa yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Kita sering kali menjadi "orang asing yang beribadah di bawah atap yang sama".
Melalui khotbah bagian pertama ini, Tuhan mau kita kembali ke esensi yang mula-mula:
Mulailah Membuka Diri: Berhentilah menjadi jemaat yang anonim. Masuklah ke dalam komunitas sel (komunitas kecil/persekutuan wilayah), karena di situlah Anda bisa dikenal, didoakan, dan merayakan kehidupan seperti sebuah keluarga.
Saling Memperhatikan Kebutuhan: Mari miliki mata yang peka. Jika ada saudara seiman di sekitar kita yang sedang bergumul dengan sakit-penyakit, kekurangan ekonomi, atau kehancuran hati, ingatlah: mereka bukan orang asing. Mereka adalah saudara sedarah kita—yang ditebus oleh darah yang sama, yaitu darah Yesus Kristus.
Ketika dunia melihat sebuah gereja yang hidup sebagai keluarga yang saling mengasihi, dunia tidak akan kekurangan bukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup.
Mari kita berdoa.
(Doa Penutup: Mengucap syukur atas adopsi menjadi anak-anak Allah, memohon hati yang penuh kasih untuk memperlakukan jemaat lain sebagai saudara, dan berkomitmen menghidupi gereja yang relasional).
Amin.