Nas Utama: Efesus 2:19
"Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah."
Ayat Pendukung:
Roma 12:4-5; 1 Korintus 12:12-27; Kolose 3:13-15; Kisah Para Rasul 2:42-47; Yohanes 13:34-35
Pendahuluan
Setiap keluarga memiliki satu ruang yang paling sering mempertemukan semua anggotanya: meja makan.
Di meja makan ada:
- yang banyak bicara,
- yang pendiam,
- yang suka bercanda,
- yang serius,
- yang makan cepat,
- yang makan paling lama.
Tidak ada ibu yang berkata,
"Karena kalian berbeda, mulai besok makan di kamar masing-masing."
Justru karena mereka keluarga, mereka duduk di meja yang sama.
Demikian pula gereja.
Masalah gereja bukan karena orang-orang berbeda.
Masalah muncul ketika orang berbeda tidak mau duduk bersama.
Ilustrasi
Ada sebuah keluarga dengan lima anak.
- Yang pertama dokter.
- Yang kedua seniman.
- Yang ketiga petani.
- Yang keempat guru.
- Yang kelima pengusaha.
Ketika Lebaran tiba, mereka pulang.
Di meja makan mereka saling bercanda.
Tidak ada yang berkata,
"Aku lebih tinggi karena dokter."
"Aku lebih kaya karena pengusaha."
"Aku tidak mau duduk dengan petani."
Mengapa?
Karena identitas mereka bukan profesi.
Identitas mereka adalah keluarga.
Demikian juga gereja.
Di gereja ada dosen, buruh, pedagang, pegawai, mahasiswa, anak-anak, lansia.
Yang menyatukan kita bukan pekerjaan.
Yang menyatukan kita adalah Kristus.
I. Tuhan Tidak Menciptakan Wajah yang Sama
Roma 12:4-5
"Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota..."
Allah sengaja menciptakan keberagaman. Tidak ada sidik jari yang sama. Tidak ada wajah yang sama. Tidak ada suara yang sama.
Mengapa gereja ingin semua orang sama? Padahal Tuhan tidak pernah menginginkannya.
Aplikasi
Jangan kecewa karena orang lain tidak seperti kita. Justru perbedaan adalah rancangan Allah.
II. Yang Menyatukan Kita Adalah Meja Kristus, Efesus 2:19
Kita bukan sekadar anggota organisasi. Kita adalah keluarga Allah.
Dalam budaya Yahudi, makan bersama berarti menerima seseorang sebagai keluarga dan sahabat.
Itulah sebabnya Yesus sering makan bersama:
pemungut cukai, nelayan, orang berdosa, bahkan murid yang nanti mengkhianati-Nya.
Meja menjadi lambang penerimaan. Perjamuan Kudus juga memakai meja. Mengapa? Karena salib membangun sebuah keluarga.
Ilustrasi
Kalau kita pergi ke restoran bersama keluarga, Tidak semua memesan makanan yang sama. Ada yang pesan bakso. Ada yang sate. Ada yang nasi goreng. Ada yang hanya minum. Tetapi mereka tetap duduk di meja yang sama.
Kesatuan tidak berarti keseragaman.
III. Perbedaan Karunia Bukan Alasan Menjauh
1 Korintus 12:18-20
Paulus berkata:
Mata tidak bisa berkata kepada tangan,
"Aku tidak membutuhkan engkau."
Begitu juga gereja.
Ada yang pandai berkhotbah. Ada yang pandai mengajar. Ada yang pandai menyambut tamu. Ada yang pandai memasak. Ada yang pandai mendoakan. Ada yang murah hati. Semua dibutuhkan. Tidak semua menjadi mimbar. Tetapi semua menjadi berkat.
Ilustrasi
Sebuah orkestra terdiri dari banyak alat musik. Biola tidak iri kepada drum. Piano tidak memusuhi trompet. Justru karena bunyinya berbeda, musik menjadi indah.
Kalau semuanya drum? Bising.
Kalau semuanya piano? Membosankan.
Harmoni lahir karena perbedaan.
IV. Kasih Membuat Orang Bertahan di Satu Meja
Kolose 3:13-15
"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain..."
Di keluarga pasti ada gesekan. Begitu pula di gereja.
Yang membuat keluarga tetap utuh bukan karena tidak pernah bertengkar. Melainkan karena saling mengampuni.
Kasih selalu menyediakan kursi bagi orang yang mau kembali.
Kisah Nyata
Seorang ayah berkata, "Di rumah ini kamu boleh berbeda pendapat, tetapi jangan berbeda kasih."
Kalimat sederhana itu membuat semua anak tetap pulang ke rumah.
Begitu juga gereja.
Orang mungkin berbeda pandangan. Tetapi kasih membuat mereka tetap pulang.
V. Dunia Mengenal Kristus Lewat Cara Kita Duduk Bersama
Yohanes 13:35
"Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku..."
Yesus tidak berkata, "Orang mengenal kamu karena gedungmu."
Bukan karena sound system. Bukan karena liturgi. Tetapi karena kasih.
Kasih terlihat ketika orang yang berbeda tetap bisa duduk bersama.
Aplikasi Praktis
1. Kenali orang yang berbeda dengan Anda.
Jangan hanya berteman dengan kelompok sendiri.
Sapa orang baru.
2. Berhenti membandingkan karunia.
Yang Tuhan cari adalah kesetiaan, bukan popularitas.
3. Duduk bersama sebelum berdebat.
Banyak konflik selesai ketika orang mau makan bersama.
4. Jadilah pembangun meja, bukan pembangun tembok.
Orang dewasa secara rohani selalu membuka ruang bagi orang lain.
5. Bangun budaya keluarga di gereja.
Jangan datang hanya mengikuti ibadah.
Datanglah untuk membangun relasi.
Penutup
Surga nanti bukan diisi orang yang wajahnya sama. Melainkan orang-orang dari
setiap suku, bahasa, kaum, bangsa. (Wahyu 7:9). Mereka berbeda.
Tetapi menyembah Anak Domba yang sama. Kalau di surga nanti kita akan duduk bersama, mengapa hari ini kita masih memilih-milih meja? Gereja bukan tempat mencari orang yang sama dengan kita.
Gereja adalah tempat belajar mengasihi orang yang berbeda dari kita. Kita mungkin tidak memiliki satu wajah. Tetapi kita dipanggil duduk di satu meja.
Ajakan Respons
Hari ini, mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya hanya dekat dengan orang yang mirip dengan saya? Apakah saya pernah menjauhi saudara seiman karena perbedaan karakter, latar belakang, atau karunia? Bersediakah saya membuka "kursi di meja" hati saya bagi saudara yang berbeda?
Doa:
"Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menerima kami menjadi anggota keluarga Allah. Ajarlah kami untuk mengasihi, menerima, dan berjalan bersama saudara-saudari kami yang berbeda, sehingga gereja-Mu menjadi satu meja tempat kasih-Mu nyata bagi dunia. Amin."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar