MAKNA INJIL SEPENUH

 


Istilah “Injil Sepenuh” atau Full Gospel sering digunakan dalam tradisi Pentakostal untuk menggambarkan pemberitaan Injil secara utuh. Injil tidak hanya berbicara tentang pengampunan dosa, tetapi tentang seluruh karya Allah dalam menyelamatkan, membarui, memenuhi, menguduskan, memperlengkapi, dan mengutus manusia.

Karena itu, Injil Sepenuh bukanlah Injil yang ditambah dengan berbagai pengalaman rohani. Sebaliknya, Injil Sepenuh adalah Injil yang diberitakan secara lengkap dan dihidupi secara utuh.

1. Injil Sepenuh Berpusat pada Yesus Kristus

Injil bukan pertama-tama berbicara tentang manusia, kebutuhan manusia, atau pengalaman manusia. Injil berpusat pada Yesus Kristus.

Paulus menyatakan:

> “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.”  

> — 1 Korintus 15:3–4

Di sini kita menemukan inti pemberitaan Injil: kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus.

Dalam perspektif Pentakostal Oneness, pemberitaan ini berakar pada keyakinan bahwa Allah itu esa dan menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui Yesus Kristus. Karena itu, Yesus bukan sekadar tokoh dalam Injil. Yesus adalah pusat berita Injil itu sendiri.

2. Injil Sepenuh Memberitakan Kematian Kristus

Salib adalah jantung Injil.

Manusia tidak dapat menyelesaikan persoalan dosanya hanya dengan moralitas, usaha keagamaan, atau perbaikan diri. Dosa membutuhkan penebusan.

Kristus mati karena dosa-dosa kita.

Salib menyatakan dua hal sekaligus: seriusnya dosa manusia dan besarnya kasih Allah.

> “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”  

> — Roma 5:8

Karena itu, Injil Sepenuh tidak boleh kehilangan salib.

Injil tanpa salib menjadi pesan motivasi.

Injil tanpa darah Kristus kehilangan pusat penebusan.

Injil tanpa pengampunan dosa kehilangan berita keselamatan.

3. Injil Sepenuh Memberitakan Penguburan dan Kehidupan Baru

Injil tidak berhenti pada kematian Kristus.

Kristus dikuburkan dan bangkit.

Paulus kemudian menghubungkan karya Kristus dengan pengalaman orang percaya:

> “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati... demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”  

> — Roma 6:4

Karena itu, keselamatan bukan sekadar menerima pengampunan sambil mempertahankan kehidupan lama.

Ada kehidupan baru.

Manusia lama harus ditinggalkan. Cara berpikir lama diperbarui. Dosa tidak lagi menjadi tuan. Kristus menjadi pusat kehidupan.

4. Injil Sepenuh Memanggil kepada Pertobatan

Yesus memulai pelayanan-Nya dengan panggilan:

> “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”  

> — Matius 4:17

Pertobatan berarti berbalik.

Bukan sekadar menyesal karena akibat dosa, tetapi meninggalkan jalan dosa dan berbalik kepada Allah.

Karena itu, pemberitaan Injil yang hanya mengatakan, “Yesus mengasihi Anda,” tetapi tidak pernah memanggil manusia kepada pertobatan, belum menyampaikan seluruh tuntutan Injil.

Kasih Allah memang menjadi dasar berita Injil. Tetapi kasih itu juga memanggil manusia untuk berubah.

5. Injil Sepenuh Mencakup Baptisan dalam Nama Yesus Kristus

Dalam Kisah Para Rasul, respons terhadap pemberitaan Injil tidak berhenti pada keputusan batin.

Ketika orang banyak bertanya apa yang harus mereka lakukan, Petrus menjawab:

> “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu...”  

> — Kisah Para Rasul 2:38

Dalam tradisi Oneness Pentakostal, baptisan dalam nama Yesus Kristus memiliki tempat yang sangat penting.

Baptisan menyatakan identifikasi orang percaya dengan Kristus: mati terhadap kehidupan lama dan masuk ke dalam kehidupan baru.

Karena itu baptisan bukan sekadar upacara keagamaan.

Baptisan adalah respons iman terhadap Injil.

6. Injil Sepenuh Mencakup Baptisan Roh Kudus

Di sinilah dimensi Pentakostal menjadi sangat kuat.

Yesus berkata:

> “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku...”  

> — Kisah Para Rasul 1:8

Roh Kudus bukan tambahan kecil dalam kehidupan Kristen.

Roh Kudus adalah pemberian Allah yang memperlengkapi umat-Nya untuk hidup dan bersaksi.

Kisah Para Rasul memperlihatkan gereja mula-mula sebagai gereja yang dipenuhi Roh Kudus.

Dalam pemahaman Pentakostal klasik, termasuk Oneness Pentakostal, berbahasa roh dipahami sebagai tanda awal yang menyertai baptisan Roh Kudus, berdasarkan pola yang ditemukan terutama dalam Kisah Para Rasul 2, 10, dan 19.

Namun tujuan akhirnya bukan sekadar pengalaman berbahasa roh.

Tujuannya adalah kuasa untuk menjadi saksi Kristus.

7. Injil Sepenuh Mencakup Kuasa Roh Kudus

Roh Kudus memberikan kuasa untuk bersaksi, melayani, berdoa, dan menjalankan panggilan Allah.

Gereja yang dipenuhi Roh Kudus bukan gereja yang hanya memiliki pengalaman rohani dalam ruang ibadah.

Roh Kudus membawa gereja keluar dari ruang ibadah menuju dunia.

> **Dipenuhi untuk menjadi saksi.**

Itulah pola Kisah Para Rasul.

Pentakosta bukan titik berhenti.

Pentakosta adalah titik berangkat.

8. Injil Sepenuh Mencakup Karunia dan Buah Roh

Ada bahaya ketika Injil Sepenuh hanya dipahami sebagai mukjizat, kesembuhan, nubuat, bahasa roh, dan berbagai manifestasi Roh Kudus.

Alkitab memberikan keseimbangan.

Roh Kudus memberikan karunia, tetapi Roh Kudus juga menghasilkan buah.

Galatia 5:22–23 berbicara tentang kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Karunia menunjukkan bagaimana seseorang dipakai.

Buah menunjukkan bagaimana seseorang hidup.

Karena itu:

> **Karunia tanpa karakter dapat membuat pelayanan terlihat besar, tetapi buah Roh membuat kehidupan semakin menyerupai Kristus.**

Injil Sepenuh membutuhkan keduanya.

9. Injil Sepenuh Mencakup Kesembuhan

Pelayanan Yesus menunjukkan bahwa Kerajaan Allah tidak hanya diberitakan melalui perkataan, tetapi juga dinyatakan melalui tindakan kuasa Allah.

Yesus menyembuhkan orang sakit, membebaskan orang yang tertindas, dan menunjukkan belas kasihan kepada manusia.

Karena itu, tradisi Pentakostal percaya bahwa Allah masih sanggup menyembuhkan.

Namun kesembuhan tidak boleh menggantikan Kristus sebagai pusat Injil.

Kita memberitakan Kristus yang menyembuhkan, bukan menjadikan kesembuhan sebagai pusat yang menggantikan Kristus.

Mukjizat adalah tanda.

Yesus adalah Tuhan.

10. Injil Sepenuh Menghasilkan Kekudusan

Roh Kudus tidak diberikan supaya manusia menjadi lebih terkenal.

Roh Kudus diberikan supaya manusia menjadi milik Allah dan hidup bagi Allah.

> “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu...”  

> — 1 Tesalonika 4:3

Karena itu Injil Sepenuh tidak hanya berbicara tentang kuasa, tetapi juga kekudusan.

Tidak hanya tentang mujizat, tetapi karakter.

Tidak hanya tentang karunia, tetapi ketaatan.

Tidak hanya tentang pengalaman di gereja, tetapi kehidupan sehari-hari.

Kekudusan bukan aksesori Injil.

Kekudusan adalah buah dari kehidupan yang diserahkan kepada Allah.

11. Injil Sepenuh Mengutus Gereja

Yesus tidak menyelamatkan kita hanya supaya kita menikmati keselamatan seorang diri.

Ia berkata:

> “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku...”  

> — Matius 28:19

Karena itu Injil Sepenuh selalu memiliki dimensi misi.

Orang yang menerima Injil dipanggil untuk memberitakan Injil.

Orang yang dipenuhi Roh dipanggil menjadi saksi.

Orang yang menerima kasih dipanggil untuk mengasihi.

Orang yang telah mengalami pengampunan dipanggil membawa berita pengampunan.

Gereja bukan tempat Injil berhenti.

Gereja adalah tempat Injil diterima, dihidupi, dan dikirimkan kepada dunia.

Injil Sepenuh: Dari Salib Sampai Misi

Jika diringkas, Injil Sepenuh dapat digambarkan sebagai sebuah perjalanan:

Kristus mati

↓

Kristus dikuburkan

↓

Kristus bangkit

↓

Manusia bertobat

↓

Dibaptis dalam nama Yesus Kristus

↓

Menerima Roh Kudus

↓

Hidup dalam kekudusan

↓

Dipenuhi kuasa dan karunia Roh

↓

Menjadi saksi Kristus

↓

Membawa Injil kepada dunia

Dengan demikian, Injil Sepenuh bukan sekadar Injil tentang masuk surga.

Injil adalah berita bahwa manusia yang berdosa dapat diperdamaikan dengan Allah, dilahirkan kembali, hidup dalam Kristus, dipenuhi Roh Kudus, bertumbuh dalam kekudusan, diperlengkapi untuk melayani, dan diutus menjadi saksi sampai ke ujung bumi.

Penutup

Kita tidak membutuhkan Injil yang baru.

Kita membutuhkan Injil yang utuh.

Injil yang memberitakan salib, tetapi juga kebangkitan.

Injil yang memberitakan pengampunan, tetapi juga pertobatan.

Injil yang memberitakan keselamatan, tetapi juga kehidupan baru.

Injil yang memberitakan Roh Kudus, tetapi juga kekudusan.

Injil yang memberitakan karunia, tetapi juga buah Roh.

Injil yang memberitakan berkat, tetapi juga panggilan untuk melayani.

Dan akhirnya, Injil yang membawa manusia bukan hanya kepada pengalaman tentang Allah, tetapi kepada kehidupan yang berpusat pada Yesus Kristus.

Inilah Injil Sepenuh: Kristus mati, Kristus bangkit, Kristus menyelamatkan, Kristus memenuhi dengan Roh-Nya, dan Kristus mengutus umat-Nya menjadi saksi-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar