"Dipanggil untuk Saling Menguatkan di Rumah Tuhan"

 



 

Nats Utama: Ibrani 10:24-25 (TB)

"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

Pendahuluan:

Selamat pagi, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Pagi ini, saya ingin mengajak kita merenungkan sebuah kebenaran yang sering kita abaikan di era individualistik ini. Dalam dunia yang semakin mengagungkan kemandirian personal, di mana kita bisa beribadah melalui layar gadget, mendengarkan podcast rohani sendirian, dan merasa cukup dengan "hubungan pribadi dengan Tuhan", firman Allah menyuarakan sesuatu yang berbeda.

Cinta Tuhan tidak pernah berhenti pada pengalaman privat. Cinta Tuhan selalu bersifat relasional—mengalir dari hati-Nya ke hati kita, lalu dari hati kita ke sesama. Allah tidak pernah merancang iman sebagai monolog, tetapi sebagai dialog dalam komunitas.

Mari kita lihat 1 Korintus 12:27:

"Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya."

Bayangkan tubuh manusia. Bisakah mata berkata kepada tangan, "Aku tidak membutuhkanmu"? Bisakah kaki berjalan sendiri tanpa dukungan dari sistem saraf dan peredaran darah? Demikianlah Kerajaan Allah. Kita adalah bagian dari organisme hidup yang disebut Tubuh Kristus. Rumah Tuhan bukan sekadar bangunan atau acara mingguan—ini adalah ruang panggilan ilahi, tempat kita saling menguatkan sampai garis akhir.

I. Cinta yang Aktif: Saling Memperhatikan untuk Saling Mendorong (ayat 24)

"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."

Perhatikan kata pembukanya: "Marilah kita". Ini bukan saran opsional, tetapi seruan kolektif. Ini bukan "mungkin kamu mau", tetapi "ayo kita bersama-sama". Bahasa komunitas.

Kata "saling memperhatikan" dalam bahasa aslinya (κατανοῶμεν) berarti mengamati dengan seksama, memperhatikan dengan pemahaman mendalam. Bukan sekadar menyapa "apa kabar" di lobi gereja, tetapi benar-benar mengenal perjuangan, pergumulan, dan kemenangan saudara seiman kita.

Ilustrasi:

Seorang petani di daerah kering mengetahui bahwa pohon-pohon yang ditanam berdekatan dalam pola tertentu justru tumbuh lebih kuat.Akar-akar mereka saling terkait di bawah tanah, saling menopang, saling menyediakan nutrisi, dan melindungi dari angin kencang. Sebaliknya, pohon yang tumbuh sendirian lebih rentan mati.

Demikianlah kita. Iman Kristen tidak dirancang untuk hidup dalam isolasi. Pengkhotbah 4:9-10 mengingatkan:

"Berdua lebih baik dari pada seorang diri... Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi celakalah orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"

Aplikasi Praktis:

Minggu ini,pilih satu orang dari daftar kontak gereja Anda. Telepon atau kunjungi dia. Tanyakan bukan hanya "apa kabar?" tetapi "bagaimana saya bisa mendukung perjalanan imanmu minggu ini?" Cinta Tuhan menggerakkan kita dari fokus diri kepada fokus komunitas.

II. Rumah Tuhan sebagai Bengkel Pembentukan Karakter

Tidak ada pertumbuhan karakter Kristen otentik tanpa komunitas. Kita tidak menjadi sabar dengan berlatih sendiri di kamar. Kita belajar sabar ketika menghadapi orang yang berbeda pendapat di rapat pelayanan. Kita tidak belajar rendah hati dalam kesendirian, tetapi ketika kita melayani di balik layar sementara orang lain dipuji.

Amsal 27:17 menyatakan:

"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."

Proses penajaman melibatkan gesekan. Di gereja, kita bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, kepribadian, dan tingkat kedewasaan. Setiap interaksi adalah kesempatan untuk dibentuk.

Ilustrasi:

Seorang pemahat marmer ditanya,"Bagaimana Anda menciptakan patung singa yang begitu hidup dari batu yang keras?" Dia menjawab, "Saya hanya membuang bagian-bagian yang tidak mirip singa."

Di rumah Tuhan, melalui teguran yang penuh kasih, melalui keteladanan, melalui pelayanan bersama, Tuhan membuang bagian-bagian dalam diri kita yang tidak serupa Kristus.

Roma 8:28 mengingatkan:

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia."

Bahkan dalam ketidaksempurnaan gereja lokal kita—dalam konflik yang muncul, dalam kekecewaan yang kita alami—Tuhan tetap bekerja. Gereja bukan museum untuk orang-orang suci, tetapi bengkel untuk orang-orang berdosa yang sedang dipulihkan.

III. Ibadah Minggu: Pertemuan Ilahi, Bukan Rutinitas Agama (ayat 25)

"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita... tetapi marilah kita saling menasihati."

Penulis Ibrani menulis pada masa penganiayaan, di mana menghadiri pertemuan ibadah bisa berisiko. Beberapa orang mulai menjauh dengan alasan keamanan. Tetapi penulis justru mendorong mereka untuk semakin rajin "menjelang hari Tuhan yang mendekat"—semakin dekat kepada kedatangan Tuhan, semakin kita butuh komunitas iman.

Ibadah bukan ritual mati. Ini adalah titik temu ilahi. Ketika kita menyanyi bersama, berdoa bersama, mendengar firman bersama—sesuatu yang supranatural terjadi. Yesus berjanji dalam Matius 18:20:

"Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Peristiwa Pendukung:

Selama pandemi,banyak jemaat yang awalnya bersemangat dengan ibadah online mulai merasakan kehampaan rohani. Seorang ibu bercerita, "Saya bisa menyanyi, mendengar khotbah dari rumah, tapi saya merindukan pelukan seorang nenek yang menanyakan kabar anak saya, atau jabat tangan bapak yang sudah seperti ayah sendiri." Ada dimensi rohani yang hanya dialami dalam pertemuan fisik.

IV. Cinta yang Bergerak: Melayani sebagai Ekspresi Iman

Cinta sejati selalu aktif. Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan mengasihi apa yang dikasihi Tuhan—dan Tuhan mengasihi gereja-Nya (Efesus 5:25).

Yakobus 2:17 menegaskan:

"Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."

Melayani di rumah Tuhan bukanlah beban tambahan dalam hidup yang sudah sibuk. Melayani adalah kehormatan dan respons wajar terhadap kasih karunia. Kita melayani bukan karena gereja butuh kita, tetapi karena kita butuh untuk melayani—untuk bertumbuh, untuk berbuah, untuk menemukan tujuan ilahi.

Ilustrasi:

Seorang anak kecil melihat ibunya membawa banyak belanjaan.Dengan spontan dia berkata, "Ibu, biar aku bantu." Tangan kecilnya mungkin hanya bisa membawa satu atau dua barang ringan, tetapi di mata ibu, bantuan itu tak ternilai. Demikianlah pelayanan kita bagi Tuhan. Dia yang memegang seluruh alam semesta di tangan-Nya, namun merindukan "partnership" dengan kita dalam membangun Kerajaan-Nya.

Mazmur 84:11 menggambarkan kerinduan ini:

"Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain."

Penutup:

Saudara-saudara, di akhir zaman ini, iblis bekerja giat untuk mengisolasi orang percaya. Strateginya sederhana: memisahkan domba dari kawanan. Seperti singa yang mengincar rusa yang terpisah dari kawanannya, demikianlah musuh jiwa kita menunggu saat kita menjauh dari persekutuan.

Mazmur 92:14-15 memberikan gambaran indah tentang orang yang tetap terhubung dengan Tuhan dan umat-Nya:

"Mereka masih berbuah di masa tua, tetap gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar."

Mari kita hidupi satu kebenaran sederhana namun radikal: Cinta kepada Tuhan selalu diekspresikan dalam komitmen kepada umat Tuhan.

Gereja bukanlah klub eksklusif untuk orang sempurna. Ini adalah rumah sakit rohani di mana orang yang terluka menemukan kesembuhan, orang yang lemah menemukan kekuatan, dan orang yang sendirian menemukan keluarga.

Sebagaimana dikatakan A.W. Tozer:

"Gereja bukan tempat pelarian dari dunia, melainkan tempat Allah mempersiapkan umat-Nya untuk mengubah dunia."

Respons Praktis:

1. Jika selama ini Anda hanya hadir sebagai penonton, minggu ini ambillah langkah untuk terlibat—sapalah seseorang yang duduk sendirian.

2. Jika Anda sudah lama absen dari persekutuan, datanglah kembali. Ada meja yang disediakan, ada kursi yang dikosongkan untuk Anda.

3. Carilah satu area pelayanan di gereja lokal Anda dan tawarkan diri untuk melayani, sekecil apa pun itu.

Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi orang Kristen solo, tetapi untuk menjadi bagian dari simfoni ilahi—di mana setiap instrumen, setiap suara, menemukan makna sejatinya dalam harmoni dengan yang lain.

Mari kita berdoa...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar