Tampilkan postingan dengan label BINA KELUARGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BINA KELUARGA. Tampilkan semua postingan

Menemukan Cinta yang Sejati

 


 

Pendahuluan:

Saudaraku yang terkasih, pernikahan adalah sebuah perjalanan yang dimulai dengan janji suci di hadapan Tuhan, namun dalam perjalanan waktu, banyak hal yang bisa mengganggu dan mengubah dinamika hubungan itu. Ada kalanya api cinta yang dulu menyala begitu terang, kini mulai meredup karena rutinitas, perbedaan, atau tantangan hidup. Namun, pembaharuan dalam pernikahan bukan hanya mungkin—tetapi sangat penting. Hari ini kita akan membahas empat alasan mengapa pembaharuan pernikahan itu sangat dibutuhkan, serta bagaimana kita bisa kembali memperbaharui komitmen kita sebagai pasangan suami istri di hadapan Tuhan.

 1. Pernikahan adalah Perjalanan yang Dinamis, Bukan Statis

Pernikahan bukanlah tujuan akhir, tetapi perjalanan yang terus berkembang. Ketika kita menikah, kita membawa dua individu dengan latar belakang, karakter, dan pengalaman yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, keduanya berubah—baik itu dalam cara berpikir, harapan, atau perasaan. Jika kita tidak mengelola perubahan ini dengan bijak, hubungan kita bisa mengalami kebosanan, kesalahpahaman, atau bahkan ketegangan.

_"Hai suami, kasihilah istrimu, seperti Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya." (Efesus 5:25)_ 

Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa cinta dalam pernikahan harus terus dipelihara dan berkembang, seperti kasih Kristus yang tidak pernah berhenti memberi.

Ilustrasi: 

Pernikahan seperti sebuah tanaman yang harus disiram, dipupuk, dan dipelihara. Jika kita tidak memberi perhatian pada hubungan kita, maka tanaman itu akan layu. Tetapi jika kita memperbaharui komitmen kita untuk terus merawatnya, ia akan tumbuh lebih kuat dan lebih indah dari sebelumnya.

Pembaharuan dalam pernikahan adalah tentang menyadari bahwa perubahan itu wajar. Alihalih menghindar dari perubahan atau berdiam diri, kita harus memilih untuk tumbuh bersama sebagai pasangan, dengan mengakomodasi perbedaan dan merayakan proses saling mengenal dan berkembang.

 2. Cinta yang Sejati Melibatkan Pengorbanan dan Komitmen

Cinta sejati dalam pernikahan bukan sekadar perasaan, melainkan komitmen untuk saling memberi, mengorbankan, dan bekerja sama dalam setiap situasi. Saat kita menghadapi masalah, terkadang perasaan cinta kita bisa diuji. Namun, komitmen untuk tetap setia dan mengasihi adalah fondasi utama pernikahan yang sehat.

_"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong; tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak mudah marah, tidak menyimpan kesalahan orang lain." (1 Korintus 13:45)_ 

Ayat ini menggambarkan cinta yang tidak bergantung pada perasaan semata, tetapi pada tindakan dan komitmen yang bersedia mengorbankan diri demi pasangan.

Ilustrasi: 

Seorang suami yang selalu berusaha mendengarkan istrinya meskipun setelah seharian bekerja keras, atau seorang istri yang mendukung suaminya ketika dia menghadapi masalah pekerjaan, adalah contoh kecil dari pengorbanan dalam cinta. Ini bukan tentang perasaan yang selalu sempurna, tetapi tentang memilih untuk tetap mengasihi meskipun keadaan tidak ideal.

Pembaharuan dalam pernikahan berarti kembali kepada komitmen untuk mengasihi dengan tulus, bahkan saat perasaan cinta kita terganggu. Ini adalah saat kita memutuskan untuk mengorbankan ego, memilih untuk memahami, dan memprioritaskan pasangan kita lebih dari diri kita sendiri.

3. Pernikahan yang Sehat Membangun Kedekatan yang Lebih Dalam

Pembaharuan pernikahan tidak hanya berarti mengatasi masalah atau perbedaan, tetapi juga memperdalam hubungan kita sebagai pasangan. Kedekatan emosional dan spiritual antara suami istri adalah salah satu fondasi yang paling penting dalam sebuah pernikahan yang sehat. Ketika kita memperbaharui komitmen untuk saling mengenal dan membangun kedekatan ini, kita bisa mengalami kebahagiaan yang lebih besar dan ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi cobaan hidup.

_"Sebab itu seorang lakilaki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, dan keduanya akan menjadi satu daging." (Kejadian 2:24)_ 

Pernikahan adalah tentang menyatukan dua individu menjadi satu. Kedekatan yang mendalam hanya dapat tercipta jika kita terus berusaha membangun hubungan emosional dan spiritual dengan pasangan kita.

Ilustrasi: 

Bayangkan sepasang musisi yang bekerja bersama dalam satu harmoni. Masingmasing memiliki alat musiknya sendiri, tetapi ketika mereka bermain bersama, mereka menciptakan sebuah suara yang lebih indah dan lebih kuat. Dalam pernikahan, kedekatan yang dibangun di atas komunikasi, pengertian, dan doa bersama akan menciptakan "harmoni" dalam kehidupan keluarga.

Pembaharuan dalam pernikahan berarti kembali menciptakan ruang untuk berbicara secara terbuka, berdoa bersama, dan mendengarkan hati pasangan kita. Dengan kedekatan yang lebih dalam, kita bisa lebih peka terhadap kebutuhan pasangan dan lebih siap untuk saling mendukung.

 4. Tuhan Adalah Pusat dari Setiap Pembaharuan

Pernikahan yang diperbaharui tidak hanya mengandalkan kekuatan manusia, tetapi harus berpusat pada Tuhan. Tuhan adalah sumber kasih yang sejati dan tidak terbatas. Tanpa Tuhan, kita hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri yang terbatas. Oleh karena itu, pembaharuan pernikahan harus melibatkan penyerahan penuh kepada Tuhan dan mencari kehendakNya dalam setiap aspek hubungan kita.

Ayat Pendukung: 

_"Namun demikian aku mencela engkau, bahwa engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula." (Wahyu 2:4)_ 

Ayat ini mengingatkan kita bahwa tanpa Tuhan, kita bisa kehilangan cinta yang pertama, tetapi dengan kembali kepadaNya, kita bisa diperbaharui dalam kasih yang sejati.

Ilustrasi: 

Seperti seorang pelaut yang mencari arah dalam kegelapan malam, hanya dengan kompas yang tepat ia bisa sampai ke tujuannya. Dalam pernikahan, Tuhan adalah kompas yang memberi arah dan tujuan yang benar. TanpaNya, kita bisa tersesat, tetapi dengan Tuhan sebagai pusat, kita bisa menemukan kembali jalan untuk saling mengasihi.

 

Untuk mengalami pembaharuan sejati dalam pernikahan, kita perlu kembali kepada Tuhan sebagai sumber kasih dan kekuatan kita. Berdoalah bersama pasanganmu, serahkan setiap tantangan dalam pernikahan ke dalam tangan Tuhan, dan biarkan Dia yang memimpin dan memperbaharui hubungan kalian.

 Penutupan:

Saudaraku, pembaharuan pernikahan bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Ia memerlukan usaha, komitmen, dan yang terpenting, penyerahan diri kepada Tuhan. Dengan memperbaharui kasih kita kepada pasangan, kita tidak hanya memperbaharui hubungan kita, tetapi juga semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Tuhan ingin kita mengalami hubungan pernikahan yang penuh damai, sukacita, dan berkelimpahan—dan itu dimulai dengan keputusan untuk kembali kepada kasih yang pertama, untuk saling mengasihi, dan untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat dari setiap langkah kita.

Mari kita berdoa bersama, memohon agar Tuhan memperbaharui pernikahan kita, memperbarui komitmen kita untuk saling mengasihi, dan memperbarui semangat kita untuk hidup sesuai dengan kehendakNya.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau adalah sumber kasih yang sejati. Kami datang ke hadapanMu untuk memohon agar Engkau memperbaharui setiap pernikahan di tempat ini. Bantulah kami untuk kembali mengasihi pasangan kami seperti pertama kali kami berjanji. Ajarilah kami untuk saling mengorbankan, saling mendukung, dan hidup dalam kedekatan yang lebih dalam dengan Engkau sebagai pusat dari segala sesuatu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

PANTANGAN SUAMI DAN ISTERI

 

MELUKAI HATI SUAMI

1.     Istri mengungkit-ungkit kesalahan suami di masa silam yang sudah dimaafkan.

2.     Istri mengabaikan tanggung jawab rumah tangga.

3.     Istri tidak menyatakan pengharapannya dengan jelas kepada suami.

4.     Istri menolak pimpinan suami.

5.     Istri tidak percaya pada suami.

6.     Istri tidak atau kurang berterima kasih .

7.     Istri tidak mengajarkan kepada anak-anak untuk setia dan menghormati ayahnya.

8.  Istri menjelek-jelekkan suami atau membuka aib atau persoalan keluarga kepada orang lain.

9.     Istri kurang fleksibel terhadap kebutuhan suami.

     Istri cerewet dan suka mengomel.

     Isteri meterialis dan menekankan hal-hal lahiriah saja.

     Isteri enggan melayani suami dengan tulus.

 

MELUKAI HATI ISTRI

1.     Suami tidak menjadikan isteri sebagai ratu dalam rumah tangganya sendiri.

2.     Suami kurang sabar.

3.     Suami tidak memberi waktu untuk mendengar.

4.     Suami memuji-muji atau mengasihi wanita lain.

5.     Suami berlaku kasar terhadap isteri.

6.     Suami tidak suka membangun suasana penuh kemesraan lagi.

7.     Suami berlaku baik pada isteri hanya saat menginginkan hubungan sex saja.

8.     Suami tidak menjadi isteri dan anak-anak sebagai prioritas hidupnya.

9.     Suami memakai uang seenaknya sendiri.

      Suami suka menyeleweng.

 

“Yang Sepuh yang Ampuh – Marilah Sekarang Kita ke Betlehem”


 Teks: Lukas 2:21-40

Oleh: PS. Dr. Edi Zakarijah,M.Th.

 

I. Pendahuluan 

Saudaraku yang terkasih, pada hari ini kita memperingati peristiwa kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, yang datang ke dunia sebagai terang yang menyinari segala bangsa. Ketika kita merayakan Natal, kita sering kali terfokus pada bayi Yesus di palungan, di tengah-tengah suasana yang penuh sukacita. Namun, ada kisah-kisah lain yang tidak kalah penting yang juga terjadi di sekitar kelahiran-Nya—kisah tentang Simeon dan Hana, dua tokoh yang sepuh namun memiliki iman yang begitu kuat dan ampuh. Mereka adalah saksi-saksi hidup yang pertama kali mengakui dan menyatakan Yesus sebagai Mesias, Sang Penyelamat.

Hari ini, saya ingin mengajak kita untuk melihat apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan Simeon dan Hana, dan bagaimana mereka dapat menjadi teladan iman bagi kita semua. Tema kita adalah "Yang Sepuh yang Ampuh", dan saya ingin mengakhiri khotbah ini dengan ajakan untuk datang kepada Yesus, dengan tema Natal yang mengatakan: “Marilah Sekarang Kita ke Betlehem”. Mari kita mulai dengan melihat sosok orang-orang yang sudah sepuh ini.

II. Yang Sepuh yang Ampuh: Iman yang Kokoh dalam Menanti Janji Tuhan 

Pada saat kelahiran Yesus, ada dua tokoh penting yang hadir di Bait Allah di Yerusalem, yaitu Simeon dan Hana. Keduanya sudah sepuh, dan hidup mereka penuh dengan harapan yang kokoh akan janji Tuhan. Namun, meskipun mereka sudah lanjut usia, mereka bukanlah orang-orang yang mudah menyerah atau kehilangan pengharapan. Sebaliknya, mereka adalah contoh hidup orang yang ampuh dalam iman, meskipun usia mereka sudah lanjut.

Simeon: Seorang yang Menantikan Penghiburan Israel 

Lukas 2:25 mencatat bahwa Simeon adalah seorang yang "menantikan penghiburan bagi Israel," dan “Roh Kudus ada pada-Nya.” Simeon adalah seorang yang menanti janji Tuhan dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Kita tahu bahwa janji Tuhan mengenai Mesias sudah ada sejak zaman nabi-nabi, namun pada saat Simeon hidup, janji itu belum terwujud. Walaupun sudah usia lanjut, Simeon tidak pernah kehilangan harapan. Dia tetap hidup dalam pengharapan akan datangnya penyelamat.

Ketika akhirnya dia melihat bayi Yesus yang dibawa oleh Maria dan Yusuf ke Bait Allah untuk disunat, Simeon menyambut Yesus dengan sukacita yang luar biasa. Dia mengucapkan kata-kata yang luar biasa, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini mati dalam damai sejahtera, karena mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Lukas 2:29-30). Bagi Simeon, kelahiran Yesus adalah penggenapan janji keselamatan yang telah lama dinantikan oleh umat Israel.

Saudaraku, meskipun usia Simeon sudah tua, imannya tetap kokoh dan kuat. Dia adalah contoh yang sangat berharga bagi kita, bahwa dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan, kita tetap dapat hidup dalam pengharapan yang kokoh akan janji Tuhan, meskipun kita harus menunggu dalam waktu yang panjang. Iman yang kokoh adalah kekuatan sejati yang tidak tergerus oleh waktu atau keadaan.

Hana: Seorang Nabi yang Setia Berdoa dan Menantikan Tuhan 

Selain Simeon, ada seorang perempuan bernama Hana yang juga menjadi saksi kelahiran Yesus. Hana adalah seorang nabi yang sudah sangat lanjut usia. Dalam Lukas 2:36-38, kita diberitahu bahwa Hana adalah seorang janda yang telah hidup bersama suaminya hanya tujuh tahun setelah menikah, dan sekarang dia berusia 84 tahun. Meski telah mengalami banyak penderitaan, Hana tetap setia di Bait Allah, berdoa dan berpuasa siang malam.

Ketika dia melihat Yesus, Hana pun mengenali-Nya sebagai Mesias. Dia berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan pembebasan Jerusalem. Seperti Simeon, Hana juga menjadi saksi pertama atas penggenapan janji Tuhan. Dia tidak hanya menyaksikan, tetapi juga memberitakan kabar sukacita kepada orang lain.

Hana mengajarkan kita bahwa, meskipun hidup penuh dengan tantangan dan kehilangan, kita tetap bisa hidup dengan sukacita dan pengharapan dalam Tuhan. Seperti Simeon dan Hana, kita bisa tetap setia menantikan kedatangan Tuhan dalam hidup kita, dan bahkan pada usia senja sekalipun, Tuhan masih memberikan kita tugas untuk menyaksikan dan memberitakan kebaikan-Nya.

III. Penggenapan Janji Tuhan dalam Yesus Kristus 

Simeon dan Hana menyaksikan kelahiran Yesus sebagai penggenapan janji Tuhan yang sudah lama dinantikan. Kelahiran Yesus bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi adalah janji keselamatan yang datang kepada dunia. Simeon menyebut Yesus sebagai “terang yang menyinari bangsa-bangsa” dan “kemuliaan bagi umat Israel” (Lukas 2:32). Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama.

Yesus datang ke dunia untuk membawa terang dalam kegelapan. Dia adalah keselamatan yang disediakan Allah bagi umat manusia. Seperti Simeon dan Hana yang menanti dengan penuh iman, kita juga dipanggil untuk menerima Yesus sebagai Mesias dan Juruselamat kita. Kelahiran Yesus adalah kabar sukacita bagi seluruh dunia. Bagi Simeon, melihat Yesus adalah alasan untuk beristirahat dengan damai, karena dia tahu bahwa janji Tuhan telah digenapi.

Saudaraku, Natal adalah momen untuk kita mengingat bahwa Tuhan yang setia terhadap janji-Nya telah datang ke dunia. Namun, lebih dari itu, Natal adalah ajakan bagi kita untuk datang dan menyaksikan Yesus—terang yang menyinari dunia. Apakah kita masih menunggu janji Tuhan? Apakah kita, seperti Simeon dan Hana, tetap setia dalam iman menantikan kedatangan-Nya yang penuh kasih?

IV. Marilah Sekarang Kita ke Betlehem 

Pada bagian akhir khotbah ini, saya ingin mengajak kita untuk merenung lebih dalam. Tema Natal yang sering kita dengar adalah: "Marilah Sekarang Kita ke Betlehem." Betlehem adalah tempat di mana Yesus lahir, tetapi ajakan ini lebih dari sekadar perjalanan fisik. Itu adalah ajakan spiritual untuk datang kepada Yesus, untuk melihat Dia sebagai Tuhan yang datang membawa keselamatan.

Simeon dan Hana telah datang kepada Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias. Mereka menyaksikan Yesus dan memberitakan Dia kepada dunia. Sebagai orang yang telah menerima keselamatan-Nya, kita juga dipanggil untuk datang kepada-Nya dan mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Marilah kita juga datang ke Betlehem, tempat kelahiran Yesus, untuk melihat dan menerima-Nya dengan penuh sukacita. Natal mengajak kita untuk tidak hanya merayakan kelahiran-Nya, tetapi juga untuk mengundang-Nya masuk ke dalam hidup kita. Marilah kita menjadikan Yesus pusat kehidupan kita, dan seperti Simeon dan Hana, menjadi saksi-saksi iman yang memberitakan kabar baik kepada dunia.

V. Penutupan 

Saudaraku, Natal adalah waktu yang penuh dengan sukacita dan harapan baru. Seperti Simeon dan Hana yang tetap beriman meskipun usia mereka telah lanjut, mari kita juga hidup dalam pengharapan yang teguh akan janji Tuhan. Dan marilah kita datang ke Betlehem—bukan hanya secara fisik, tetapi secara rohani—untuk menyaksikan dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita. Natal mengundang kita untuk melihat Yesus bukan hanya sebagai bayi di palungan, tetapi sebagai Tuhan yang membawa terang, keselamatan, dan hidup bagi setiap kita.

Selamat Natal! Marilah kita datang kepada Yesus, sumber keselamatan kita. Tuhan memberkati kita semua.

Semoga khotbah ini dapat menjadi berkat bagi jemaat Anda, mengajak mereka untuk melihat Yesus lebih dalam dan menerima-Nya dengan iman yang kokoh.

KESEIMBANGAN DISIPLIN DAN KASIH SAYANG




Mendidik anak di era sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan dan masalah yang rumit yang mesti dijadapi.

Kunci untuk bisa melakukan pendidikan secara benar perlu adanya keseimbangan antara disiplin dan kasih sayang.

Orang tua yang tidak memberikan kasih sayang, dan juga tidak mau mendisiplin anak-anaknya, ia menjadi orang tua pembiar. Akibatnya, anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak-anak yang liar.

Orang tua yang menekankan disiplin secara berlebihan akan menjadi orang tua yang otoriter. Dan anak-anaknya akan menjadi anak yang suka memberontak, merasa tertolak dan menjadi pendendam.

Orang tua yang mengasihi anak-anaknya secara luar biasa, dan mengabaikan disiplin. Ia menjadi orang tua pemanja. Dan anak-anaknya akan menjadi anak yang manja, egois dan menyusahkan orang tua di masa dewasanya nanti.

Orang tua yang memberikan kasih sayang dan disiplin secara seimbang. Ia menjadi orang tua yang demokratis. anak-anaknya akan tumbuh memiliki kepribadian yang utuh.

Investasikanlah kasih sayang anda pada putra–putri anda. Tetapi imbangilah kasih sayang anda tersebut dengan disiplin yang benar dan tepat.

[BINA KELUARGA]


JAMU GALIAN SINGSET


“Gara-gara tinggal di Pondok Mertua Indah (PMI) alias ikut suami numpang di rumah mertua. Jadinya ya, tiap hari harus tahan mendengar gerutu dan omelannya. Tetapi sekarang saya sudah tidak tahan Paman. Saya pengin lebih baik dia mati saja”, cerita Tutik kepada Pamannya.

“Paman, tolongalah saya. Paman khan ahli meramu tanaman dan obat-obatan. Tolong buatkan racun untuk membunuh Ibu mertuaku.” kata Tutik memohon.

“Baiklah, saya buatkan. Cuma supaya tidak ketahuan bahwa yang membunuh itu kamu, saya buatkan ramuan khusus. Racun ini tidak langsung mematikan, tetapi daya kerjanya perlahan-lahan. Karena itu setiap hari kamu buatkan makanan kesukaan ibu mertuamu dan taburilah dengan racun ini, lalu sajikan kepadanya dengan muka yang berseri.” saran Paman Tutik.

Sebulan kemudian Tutik menjumpai Pamannya. Ia menceritakan bahwa Ibu mertuanya sekarang sudah berubah menjadi sangat baik dan sayang kepadanya.

“Paman, saya menyesal telah meracuni Ibu mertua. Tolonglah Paman, buatkan penawarnya, supaya Ibu mertuaku tidak mati. Aku sangat sayang kepadanya.” rengek Tutik.

Mendengar itu Pamannya tertawa terkekeh-kekeh, “ He.. he… he… tenang saja. Yang aku berikan kepadamu itu bukan racun. Tetapi… jamu galian singset ha… ha… ha…”.

“Pantesan kok Ibu mertuaku tambah sehat dan ayu… Woww… Paman keterlaluan…” seru Tutik geregetan.

“Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”.




PERANAN MERTUA DALAM PERNIKAHAN

Peranan mertua bagi kelestarian sebuah keluarga muda sangat berpengaruh. Pengaruhnya bisa mengacaukan, tetapi juga bisa menstabilkan.

Butuh jiwa besar bagi orang tua untuk melepaskan anaknya untuk masuk dalam pernikahan. Sebab ketika anak sudah masuk ke dalam sebuah pernikahan, orang tua sudah menjadi “orang luar” dari keluarga inti yang dibangunanya.

Terkadang hal tersebut kurang disadari oleh orang tua, dan hal ini memang wajar. Sebab ikatan yang terbangun sudah selama puluhan tahun dan tiba-tiba harus dilepaskan saat anak menikah. Sudah begitu masih ditambah dengan beban emosi, yaitu harus menerima orang lain (menantu) seakan-akan sebagai anak sendiri. Itulah sebabnya banyak keluarga muda mengalami goncangan karena adanya pihak ke-tiga, yaitu mertua.

Dan yang paling sering dijumpai adalah konflik antara mertua perempuan dengan mengan menantu perempuan. Lebih-lebih bila Ibu mertua suaminya sudah meninggal dan anaknya laki-laki selama ini menjadi tiang punggung keluarga, maka makin komplekslah persoalan.

Namun secara umum dan garis besar, Anda bisa menjadi mertua yang baik dengan cara:

1. Jangan melibatkan diri/ ikut campur  dalam berbagai hal bila tidak diminta.

2. Singkirkan gambaran anda tentang menantu yang ideal, dan beranilah menghadapi kenyataan untuk menerima keberadaan menantu Anda apa adanya.

3. Singkirka gambaran pernikahan yang ideal dari anak Anda. Biarkan mereka membangunnya menurut pola yang mereka sepakati. Janganlah membanding-bandingkan dengan pernikahan Anda atau pernikahan anak-anak Anda lainnya.

4. Jadikan diri anda “pengawas/ penasehat yang toleran”. Sekaligus pendoa yang setia bagi pernikahan anak Anda.

5. Berikanlah saran dan nasehat yang tulus, terlebih jika mereka memintanya.





FORMULA PENDIDIKAN


Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.

Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.

Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mengasihi.

[