LCD Text Generator at TextSpace.net

TANYA JAWAB TENTANG KEESAAN TUHAN

RAHASIA IBADAH

Tanya:
Ada Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus. Bukankah ini menunjukkan bahwa ke-Esaan Allah  adalah suatu misteri/ rahasia?

Jawab:
Keagungan rahasia ibadah orang percaya bukan terletak pada “misteri jumlah Pribadi Allah” yang penuh keraguan. Disebut “penuh keraguan” karena tidak memiliki kejelasan yang pasti antara Allah itu satu atau tiga. Seringkali penjelasannya adalah Allah itu satu tetapi PribadiNya tiga dan PribadiNya tiga tetapi satu hakekat ke-Allahan.
Alkitab menegaskan bahwa sesungguhnya keagungan rahasia ibadah orang percaya terletak pada “misteri inkarnasi”Kristus  (inkarnasi= peristiwa Allah menyatakan diriNya dalam rupa manusia),(1Timotius 3:16).
Inkarnasi Kristus menimbulkan pertanyaan yang jawabannya tidak bisa dipuaskan dengan argumentasi yang memuaskan logika manusia. Antara lain:
·        Bagaimana mungkin Allah yang tidak terbatas bisa mengambil wujud yang terbatas?
·        Bagaimana mungkin Allah yang berdiam dalam kekekalan mau masuk dan tinggal dalam dunia yang penuh kefanaan?
·        Bagaimana mungkin Allah yang Roh yang tidak berwujud dan tidak nampak bisa berkenan menjumpai manusia dengan mengambil rupa manusia?
·        Bagaimana mungkin yang maha kuasa mengambil wujud “mahkluk yang tidak berdaya”?
·        Bagaimana mungkin Allah yang menciptakan segala sesuatu menjumpai manusia dengan wujud “ciptaan”?
·        Bagaimana mungkin Allah yang kekal  bisa mati di kayu salib?
Kita harus jujur bahwa kita tidak mempunyai jawaban yang bisa memuaskan penalaran manusiawi terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas.
Persoalannya adalah Alkitab dari awal sampai akhir menunjuk kepada Satu Pribadi yang menjadi obyek penyembahan yaitu Tuhan Yesus. Yaitu Dia yang tidak terbatas mengambil rupa terbatas dan masuk dalam dunia yang penuh keterbatasan. Yaitu Dia yang kekal masuk dunia yang penuh kefanaan. Yaitu Dia yang adalah Roh telah mengambil rupa daging. Yaitu Dia yang mahakuasa mengambil rupa “manusia hamba”. Yaitu Dia Sang Pencipta mengambil rupa manusia. Yaitu Dia yang maha perkasa telah mati di kayu salib.
Kenyataan, itulah yang terjadi dengan Allah yang kita sembah dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jawaban yang memuaskan selain kita harus memberitahu bahwa ini adalah “misteri” atau “rahasia”.
Namun Alkitab menegaskan bahwa rahasia inilah yang menjadikan ibadah orang percaya menjadi “Agung”.
“Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan." (1Timotius 3:16)
Jadi jelas, bahwa misteri itu bukan pada “jumlah PribadiNya”. Alkitab tidak pernah menggunakan istilah rahasia berkaitan dengan Pribadi Allah. Alkitab dengan tegas menyatakan Pribadi Allah itu satu (Ulangan 6:4; Yesaya 44:24).

Tanya:
Mengapa keagungan ibadah orang percaya  terletak pada “misteri inkarnasi” Kristus?

Jawab:
  1.   Misteri inkarnasi Kristus menyingkapkan KASIH ALLAH yang sangat luar biasa mengagumkan (Efesus 3:18-19).
  2. Misteri inkarnasi Kristus menjelaskan   betapa dalam kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah yang tidak terselidiki keputusan-keputusannya (Roma 11:33-36). 
  3. Misteri inkarnasi Kristus menyatakan tentang betapa hebatnya kuasa Allah bagi orang percaya (Efesus 1:18-21).
     Misteri inkarnasi Kristus adalah misteri yang agung, pada misteri itulah nampak  nyata keagungan  Tuhan. Hal ini akan membuat ibadah orang percaya menjadi agung sebab ibadahnya ditujukan pada Allah yang agung.



    KEESAAN TUHAN YANG ALKITABIAH

    TANYA:
    Seperti apakah ke-Esaan Tuhan yang Alkitabiah itu?

    JAWAB:
    Alkitab berkata: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4). Kata “esa” ditulis dengan “dxa (echad)” yang berarti satu dalam arti angka.
    Pemazmur berkata:”Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”(Mazmur 136:4)
    Yesaya menegaskan: “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi -- siapakah yang mendampingi Aku? --” (Yesaya 44:24). Dan masih banyak lagi ayat yang dengan tegas menyatakan bahwa Allah itu Esa dalam pengertian SATU PRIBADI.
    Jadi jelas bahwa Tuhan itu satu dan benar-benar Ia SATU PRIBADI. Adapun Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus adalah peranan Allah. Ibaratnya Edi Zakaria kalau di rumah dipanggil Bapak. Kalau di Gereja dipanggil pendeta. Kalau di sekolah dipanggil guru. Tetapi Edi Zakaria pribadinya hanya satu. Kalau Edi Zakaria ada lebih dari satu yang paling kasihan adalah isterinya, ia pasti bingung. Demikian pun dengan Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus sesungguhnya adalah satu Pribadi Allah yang Esa.
    Kolose 2:9 berkata: “Sebab dalam Dialah (Tuhan Yesus) berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
    Untuk lebih jelas dalam memahami ayat tersebut, marilah kita ajukan beberapa pertanyaan terhadap pernyataan ayat tersebut.
    1.      Dalam berapa Pribadikah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan? Tentunya Satu Pribadi yaitu dalam Dialah (Tuhan Yesus Kristus)
    2.      Sebagian kepenuh-an keAllahan atau seluruh kepenuhan keAllahan yang berdiam secara jasmaniah di dalam Tuhan Yesus Kristus? Tentunya seluruh kepenuhan keAllahan yang berdiam secara jasmaniah dalam Tuhan Yesus Kristus, dan bukan sebagian kepenuhan keAllahan.
    3.      Apakah Tuhan Yesus  tinggal dalam keAllahan atau seluruh kepenuhan keAllah-an yang tinggal secara jasmaniah dalam Tuhan Yesus Kristus? Yang benar adalah seluruh kepenuhan keAllahan yang tinggal dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan bukan Tuhan Yesus yang tinggal dalam   keAllahan.
    Sebab jika Tuhan Yesus tinggal dalam keAllah-an, berarti Tuhan Yesus adalah salah satu dari Pribadi Allah. Dan itu berarti ayat ini membenarkan bahwa Allah memiliki 3(tiga) Pribadi. Tetapi faktanya Kolose 2:9 menegaskan bahwa seluruh kepenuhan keAllahan yang tinggal dalam Tuhan Yesus Kristus.
    4.      Jadi, bertemu siapakah jika kita mencari Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus? Pasti bertemu Tuhan Yesus Kristus.
    5.      Berarti berjumpa dengan berapa Pribadi Allah jika kita mencari Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus? Yang pasti, SATU PRIBADI ALLAH yang secara jasmaniah kita  temui di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus.
    Itulah sebabnya dalam Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus menyebutkan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Matius 28:19).
    Perhatikan kata ”nama”, disana digunakan hanya satu kali (tunggal), dan bukan disebut dua atau tiga kali (jamak). Penggunaan kata “nama” tersebut secara tunggal berarti menegaskan bahwa Allah itu SATU PRIBADI.
    Itulah sebabnya juga para murid (yaitu Para Rasul) membaptis orang-orang percaya dengan menggunakan formula baptisan “Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus” (Kisah Para Rasul 2:38; 8:16; 10:48; 19:5; Roma 6:3; Galatia 3:27) dan bukan “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”. Bahkan tidak ada satu tokoh pun dalam Alkitab yang dibaptis “dalam nama Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus.”
    Jadi keEsaan Tuhan yang Alkitabiah mempercayai, dan mengajarkan dengan bersungguh-sungguh  bahwa Tuhan itu hanya SATU PRIBADI, dan hanya Dia saja SATU-SATUNYA Allah yang benar, yang menyatakan DiriNya kepada manusia di dalam  Pribadi Tuhan Yesus Kristus.    


    TANYA:
    Bagaimana saya bisa memastikan bahwa penjelasan anda tentang keEsaan Tuhan adalah penjelasan yang Alkitabiah?

    JAWAB:
    Untuk memastikannya, anda harus meneliti kembali bahwa penjelasan kami sesuai  dengan seluruh bagian Alkitab. Kebenaran keEsaan Tuhan adalah kebenaran yang sangat gamblang diberitakan oleh Alkitab dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Karena begitu gamblang-nya sehingga tidak memerlukan penafsiran yang berbelit-belit. Alkitab menerangkan demikian:
    1. Demi menjaga kemurnian FirmanNya, Allah berkenan memilih Abraham dan 
    keturunannya.
    Kebenaran keEsaan Allah menjadi pertanggung jawaban suci yang harus dijaga dan  dilindungi  oleh Israel dari antara bangsa-bangsa (Kejadian 12:1-3; Ulangan 5:3-7; 31:20; Roma 3:2).

    2. Para Nabi menegaskan kuat-kuat tentang ke Esaan Allah:
    ·        Musa: Keluaran 20:3; Ulangan 5:7; 6:4
    ·        Yesaya: Yesaya 37:16; 43:3, 11; 44:6-8, 24; 45:5
    ·        Zakaria: Zakharia 14:9
    ·        Maleakhi: Maleakhi 2:15

    3. Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa Allah itu Esa
    ·        Yohanes 10:30 - Aku dan Bapa adalah satu  (Kata “satu” menggunakan istilah Yunani “eijartinya “satu secara angka”. Sumber: Strong no. 1520).
    ·        Yohanes 14:9-10 - ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yesus adalah Bapa, sebab selama ini yang dilihat Filipus hanya Yesus).
    ·        Tuhan Yesus berjanji akan menyertai  sampai akhir zaman (Matius 28:20),  ternyata Yesus naik ke surga. Namun sebelum naik ke surga Dia memberi tahu akan memberi Penolong yang lain yaitu Roh Kudus (Yohanes 14:16-17). Kalau Yesus dan Roh Kudus adalah Pribadi yang berbeda, berarti Yesus mengingkari janjiNya. Tetapi karena Roh Kudus adalah peranan  Allah, itulah sebabnya Yesus berkata: “...Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku…” (Yohanes 14:26).
    ·        Gereja Kristen berakar pada sejarah dan keyakinan umat Israel (Roma 11:17-18). Ini berarti Gereja seharusnya memiliki pemahaman keEsaan Allah seperti Israel - yaitu Tuhan itu satu Pribadi. Dan Gereja mula-mula (sekitar abad pertama)  diajar oleh Para Rasul bahwa Allah itu Esa. Bukankah pengajaran para Rasul menjadi dasar Gereja?(Efesus 2:20)
    ·        1Timotius 1:17 - “...Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.” (Kata “Esa” menggunakan istilah Yunani “monoj” artinya “seorang diri”. Sumber: Strong no. 3441)
    ·        Silakan periksa ayat-ayat berikut ini:
    -          Galatia 3:20
    -          Roma 10:12;  16:27;
    -          1Korintus 12:5-6
    -           Efesus 4:5
    -          1Timotius 1:17;   2:5
    -          1Yohanes 2:23
    -          Yakobus 2:19
    -          Wahyu 4:2
    -          Yudas 1:25 - “Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus     Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.”
    Jadi sejak dulu, sekarang dan sampai selamanya Alkitab mencatat dan memberitakan bahwa  Allah itu esa, yaitu SATU PRIBADI. (Kata “Esa” menggunakan istilah Yunani “monoj” artinya “seorang diri”. Sumber: Strong no. 3441).
    Masihkah kita meragukan kebenaran bahwa Allah yang Esa adalah satu Pribadi?


    ISTILAH KEJAMAKAN

    TANYA:
    Jika Tuhan adalah satu Pribadi, bagaimana anda menjelaskan penggunaan terminologi (istilah) dalam Alkitab yang bersifat jamak yang dikenakan pada Tuhan, seperti dalam Kejadian 1:26-27?

    JAWAB:
    Alkitab (dalam bahasa Ibrani yaitu bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama) memang menggunakan kata “Elohim” yang merupakan bentuk jamak dari “Eloah”.
    Meskipun Elohim adalah bentuk jamak dari Eloah, berdasar Strong’s Exchaustic Dictionary nomor 0433(Versi YLSA) dapat disimpulkan bahwa Elohim ketika dikenakan pada Tuhan menunjuk kepada     kejamakan peranan (rulers) Tuhan, keagungan Tuhan (divine Ones).
    Dalam bahasa Ibrani ada jamak yang menunjuk pada kwantitas (plural), tetapi ada juga jamak majesties (jamak pemuliaan).
    Berikut ini contoh penggunaan Elohim dalam Alkitab: “Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kejadian 1:26)
    Kata “Kita” tersebut bukan dimaksudkan untuk mengekspos kejamakan kwantitas (jumlah) Pribadi Allah. Hal ini dapat dilihat dari:

    1. Tidak adanya konsistensi teks.
    Jika kata “Kita” yang dimaksud menunjuk pada kejamakan jumlah Pribadi Allah, tentu  Alkitab menuliskan kata “Kita” secara terus menerus sejak awal dalam setiap            tindakanNya.

    1. Tidak adanya relevansi antara tindakan Allah dan hasil yang didapat.
    Jika kata “Kita” yang dimaksud kejamakan jumlah Pribadi Allah maka manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah manusia yang juga memiliki kejamakan pribadi. Kenyataannya manusia yang diciptakanNya        pribadinya tunggal   bukan jamak. Adapun tubuh, jiwa dan roh itu bukan membuktikan pribadi manusianya yang  jamak, tetapi hanya unsurnya saja yang jamak.

    1. Tidak adanya konsistensi berita dalam Alkitab.
    Mazmur 136:4 menyatakan: “Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”
    Dalam Mazmur 136:4 adalah baris pijakan dari baris-baris berkutnya. Sebab dalam baris-baris berikutnya menjelaskan semua perbuatan-perbuatan Tuhan termasuk menciptakan langit dan bumi serta seisinya (termasuk menciptakan manusia yang menurut gambar dan rupa Allah).
    Mari kita lihat juga Yesaya 44:24 yang berbunyi: “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; "Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi -- siapakah yang mendampingi Aku? --”
    Yesaya juga memberitakan bahwa Allah seorang diri yang menjadikan segala sesuatu (sudah tentu termasuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya).
    Jelas kata “Kita” yang dimaksud bukan membicarakan kejamakan jumlah Pribadi Allah.
    Inilah maksud penggunaan kata “Kita” dalam Kejadian 1:26 yaitu Allah berfirman dengan segala kemuliaanNya di hadapan sidang Ilahi yaitu segenap para malaikatNya bahwa Tuhan akan menciptakan manusia.
    Hal ini menegaskan bahwa penciptaan manusia dilakukan Allah secara terbuka, yaitu segenap alam semesta mengetahuinya bahwa manusia yang diciptakan Allah adalah benar-benar menjadi “mahkota ciptaanNya”. Adam Clarke sebagai seorang ahli Alkitab sepakat dengan pendapat tersebut.



    PERANAN  ATAUKAH   PRIBADI?

    TANYA:
    Benarkah bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga peranan  Allah dan bukan tiga Pribadi Allah?

    JAWAB:
    Sebelumnya mari kita sepakati terlebih dahulu deskripsi (penjelasan) tentang apa itu Pribadi dan apa itu peranan.
    J. Wesley Brill menjelaskan bahwa: “Satu pribadi memiliki tiga hal: memiliki pengetahuan, memiliki perasaan, memiliki kehendak diri.” (Brill, J. Wesley; Dasar Yang Teguh; Kalam Hidup, Bandung; Cet. VII; Hal. 36).  Atau dengan kata lain satu kesatuan mental yang tidak berhubungan dengan satu kesatuan mental lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sigmund Freud sebagai perintis psikology analisa.
    Jika pengertian “pribadi” adalah seperti dimaksud di atas maka Alkitab cukup jelas menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga peranan Allah dan bukan tiga Pribadi dari Allah. Hal tersebut bisa dilihat dari:

    1. Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan secara harafiah dan tegas bahwa Allah itu tiga Pribadi sebagaimana ayat yang menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa Allah itu esa, satu Pribadi. Yang ada hanyalah “tafsiran” orang-orang (Khususnya dilakukan oleh tokoh-tokoh Gereja sesudah abad ke tiga se-sudah masa Para Rasul lewat.). 
    1. Jika pengertian Allah yang esa dalam Alkitab dipaksakan memakai penjelasan Allah itu esa tetapi tiga Pribad, maka yang terjadi adalah penjelasan yang ambigu dan membingungkan, dan pada akhirnya menuntun orang pada obyek penyembahan yang tidak dinyatakan oleh Alkitab.
    Kita harus tahu bahwa beribadah kepada sasaran (obyek) penyembahan yang salah adalah fatal. Alkitab berkata: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau ber-ibadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan  keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku me-nunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Ulangan 5:7-10).

    1. Ada keganjilan dalam penjelasan dari mereka yang percaya Allah itu satu tetapi tiga Pribadi.
    Keganjilannya adalah:
      • Tiga Pribadi ter-sebut memiliki pengetahuan yang sama, kemauan yang sama, dan perasaan yang sama, bukankah penjelasan ini mengarah kepada  Pribadi yang sama, yaitu Pribadi yang Satu? Sebab jika pribadi lebih dari satu maka pasti kemauan, pikiran, dan perasaannya pasti ada perbedaan dan itu berimbas kepada karakter yang berbeda.
      • Mereka menjelaskan bahwa hakekat dan pribadi Allah itu bisa dipisahkan. Nampaklah bahwa pemahaman ke-Allahan yang Alkitabiah terseret oleh mindset (pola pikir) filsafat duniawi.  Allah adalah Allah. Jika hakekat Allah itu satu, maka PribadiNya juga satu. Benarkah Alkitab menjelaskan bahwa Allah itu sekedar hakekat dan bukan Pribadi? Benarkah hakekatNya dipisahkan dari PribadiNya?
      • Jika Allah hanya sekedar hakekat, apakah perbedaannya dengan trimurti (Hindu)?
    Mohon pembaca bisa merenungkannya   secara sungguh-sungguh.

    1. Penjelasan mereka yang mempercayai Allaitu esa tetapi ada tiga Pribadi membuat penyataan Allah melalui Alkitab tidak mencapai maksud.
    Penyataan Allah dimaksudkan agar yang tidak jelas menjadi jelas; apa yang tidak terpahami menjadi dapat dipahami dengan demikian manusia dapat  mengenal Allah. Pengenalan manusia akan Allah membuat manusia bisa menyatakan kasihnya kepada Allah dan melayani Dia. Dan itulah puncak kebahagiaan manusia. Tetapi penjelasan mereka membuat  penyataan Allah menjadi tidak terpahami. Mereka hanya membuat penyataan Allah dalam Alkitab yang sangat terang seakan tidak lagi mencukupi dan tidak mencapai maksud.

    Sekarang jelaslah bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus itu bukan Pribadi Allah yang berbeda-beda. Tetapi peranan Allah yang berbeda-beda. Bukti berikut menegaskan pernyataan tersebut:
    1.      Yesus adalah Bapa
    ·              Aku (Yesus) dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30)
    ·              Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia…. (Yohanes 16:7-9)
    ·              Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. (Yohanes 14:10)
    ·              Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. (Yohanes 14:11)
    -       "...dan namaNya disebut orang: Bapa yang kekal..." (Yesaya 9:5)
    -       dll.
    2.      Yesus adalah Roh Kudus
    ·       ".....jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9)
    -      ".....tetapi Roh Yesustidak mengizinkan mereka...." (Kisah Para Rasul 16:7)
    -      dll.




    NATUR YESUS

    TANYA:
    Seperti apakah nature Yesus Kristus itu?

    JAWAB:
    Yesus Kristus adalah Allah yang Roh adanya (tidak berwujud, kekal, dan absolut) namun menyatakan diri dalam wujud manusia (Ibrani 1:3).
    Secara manusiawi Ia dilahirkan oleh seorang perawan Maria. Namun Ia bukan berasal dari benih laki-laki, tetapi Roh Allah. Dari sudut keAllahan, Dia adalah benar-benar Allah.Namun dari sudut kemanusia-wian, Yesus sama seperti kita. Tetapi bedanya   Yesus tidak berdosa.
    Saat Yesus Kristus berinkarnasi di dunia Ia adalah Allah 100% dan manusia 100%. Ia adalah Allah sejati dan manusia yang sempurna. Pada dasarnya kemanusiaan dan keAllahan  Yesus tidak bercampur, tetapi juga tidak berpisah.
    KeAllahan Yesus ada dengan sendiriNya sejak kekekalan masa lampau. Tetapi kemanusiaan-Nya di-mulai  sejak peristiwa kelahir-anNya di kandang Betlehem. Hal tersebut terjadi dengan tujuan menjadi Anak Domba Allah yang dikorbankan sebagai penebusan dosa manusia. Itulah sebabnya Yesus juga disebut Anak   Allah, tetapi juga disebut dengan Anak Manusia.
    Sebutan Anak dikenakan pada Yesus karena Yesus seperti Anak  yang taat kepada Bapa-Nya.
    Jadi sebutan Anak Allah adalah sebutan kiasan/ peranan.
    Pemahaman tentang nature Yesus ini sangat penting. Jika hal ini dipahami maka apa yang disebut “kebingungan” akan nyata sebagai  keajaiban dan keagung-an Allah yang tidak terselami jalan-jalanNya dan tidak terselidiki keputusan-keputusanNya (Roma 11:33-36).

    TANYA:
    Jika Yesus adalah  Allah, mengapa Ia berdoa? Dan kepada siapa Ia berdoa? Apakah ini  tidak membuktikan bahwa Allah yang esa itu lebih dari satu Pribadi?

    JAWAB:
    Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya telah menjawab dengan tegas bahwa Alkitab mengajarkan Allah yang esa itu SATU PRIBADI, tidak lebih.
    Jika Yesus berdoa, itu berarti kemanusiaan-Nya berdoa kepada keAllahanNya. Secara manusia Yesus harus berdoa. Secara keAllah-an, Dialah yang dapat mewujudkan semua doa.
    Jadi bukan ada Pribadi Allah yang lain yang  lebih dari satu, bukan. Tetapi SATU saja Pribadi Allah itu.



    TANYA:
    Saat Yesus disalib, Ia berseru:”Eloi, eloi lama sabakhtani.”. Yang artinya: ”BapaKu, BapaKu. Mengapa  Engkau meninggalkan Aku.” Bukankah ayat tersebut menegaskan bahwa Allah yang esa itu lebih dari satu    Pribadi?

    JAWAB:
    Inilah penjelasan kami: Saat Yesus disalib, kemanusiaan Yesus benar-benar ditinggalkan oleh keAllahan-Nya yang dipanggilNya sebagai Bapa. Hal itu terjadi demi melaksanakan rencana keselamatan manusia. Sebab pada saat itu kemanusiaan Yesus sedang memikul dosa semua umat manusia. Itulah sebabnya ke-Allah-anNya pergi me-ninggalkanNya. Sebab Allah yang mahasuci tidak bisa melihat dosa.
    Peristiwa ini disebut Paulus sebagai peristiwa “mengosong-kan diri” (atau disebut juga peristiwa “kenosis”) (Filipi 2:6-8).
    Mengapa kemanusia-an Yesus yang berseru “Eloi, Eloi, lama sabakhtani”? Inilah argumentasinya:
    1. Kalau Yesus tetap tinggal dalam ke-Allahan-Nya pasti tidak merasa sakit sehingga percuma hukuman dosa itu dilaksanakan atas Yesus.
    2. Kalau Yesus tetap tinggal dalam keAllahan-Nya pasti tidak akan mati, sebab Allah tidak  mungkin mati.
    3. Kalau Yesus tetap tinggal dalam keAllahan-Nya maka hukuman di kayu salib tidak mencerminkan keadil-an Allah. (Yang berdosa adalah manusia. Yang menjalani hukuman ya harus manusia yang tidak berdosa. Itu baru benar-benar adil).
    4. Kalau Yesus tetap tinggal dalam ke-AllahanNya maka kesucian Allah benar-benar tercemari.
    Namun demikian  bukan berarti saat Yesus dikayu salib bukan Allah lagi. Seperti diungkapkan di depan, bahwa kemanusia dan keAllah-an Yesus tidak bercampur, tetapi juga tidak berpisah. Inilah keunikan manusia Ilahi, yaitu Yesus. Dia adalah Allah yang melepaskan hak-hakNya sebagai Allah sementara waktu.



    PEMBAPTISAN YESUS

    TANYA?
    Ketika Yesus dibaptis, bukankah 3 (tiga)Oknum Allah hadir di sana? Bukankah Oknum Allah pertama yaitu Allah Bapa hadir dalam bentuk suara, dan Oknum Allah kedua yaitu Yesus yang di-baptis, dan Oknum Allah  ketiga yaitu Roh Kudus dalam bentuk burung merpati?

    JAWAB:
    Pertama-tama kami minta maaf bila kami harus mengatakan bahwa kami tidak setuju dengan istilah Oknum pertama, Oknum ke dua, Oknum ketiga. Alasan kami adalah:
    1. Istilah tersebut bukanlah istilah yang digunakan Alkitab.

    1. Fakta Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua, Oknum Allah ketiga tidak terdapat dalam Alkitab. Alkitab berkata: “Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.”  (2Samuel 7:22).  Alkitab juga berkata: ”Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”  (Yesaya 44:6). Alkitab juga berkata: “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir." (Wahyu 22:13). Jelas tidak ada Oknum Allah yang pertama, kedua dan seterusnya.

    Jadi istilah Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua dan seterusnya tersebut hanyalah istilah interpretative yang tidak Alkitabiah.



    TANYA:
    Dari penjelasan anda di atas, jika suara dari langit, Roh Kudus dalam bentuk burung merpati, dan Yesus yang dibaptis tidak bisa disebut sebagai kehadiran Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua dan Oknum Allah ketiga, lalu bagaimana seharusnya kita memahami peristiwa tersebut?

    JAWAB:
    Kami harus menjelaskan kepada anda bahwa perikop tentang pembaptisan Yesus (Markus  1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:32-34; Matius 3:13-17) tidak satupun yang bertujuan mengekspos keberadaan Trinitas.
    Matius menegaskan tentang beritanya dalam perikop tersebut demikian: “Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya.”  (Matius 3:15).
    Yohanes menegaskan berita yang dieksposnya demikian: “Dan akupun tidak menge-nalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis de-ngan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."  (Yohanes 1:33-34)
    Bila kita mau jujur semua perikop tersebut tidak satupun yang bermaksud mengekspos tentang adanya fakta kehadiran Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua, Oknum Allah ketiga. Yang diekspos dalam perikop pembaptisan Yesus adalah bahwa Yesus dibaptis untuk menggenapi sekuruh kehendak Allah, dan menegaskan kepada Yohanes bahwa Yesus adalah Anak   Allah, Dialah Mesias yang dijanjikan Allah, dan sesudah pembaptisanNya ia siap bekerja.
    Adapun suara dari langit, Roh Kudus dalam bentuk burung merpati adalah cara Allah menyatakan DiriNya. Dan itu bukan berarti menyatakan Pribadi Allah adalah lebih dari satu. Bagi Allah, meskipun Dia SATU PRIBADI, tetapi terlalu mudah untuk Dia menyatakan DiriNya dalam dua atau tiga bentuk sekaligus.
    Kami mempunyai ilustrasi, mudah-mudahan bisa membantu penjelasan kami kepada anda:
    Sepeda motor, walaupun hanya satu, tetapi bisa menyatakan dirinya dalam tiga wujud. Pertama sepeda motornya itu sendiri. Kedua, asapnya. Ketiga, suaranya. Ketiganya bisa tampil seketika. Tetapi itu tidak bisa mengubah fakta bahwa sepeda motor itu hanya satu.
    Demikianlah penjelasan kami.




    YESUS ADALAH YEHOVAH


    TANYA:
    Siapakah sebenarnya Yesus itu ketika Ia belum berinkarnasi (datang ke dunia dalam wujud manusia)?

    JAWAB:
    Yesus adalah Yehovah (YHWH), yaitu sebutan untuk Tuhan dalam Alkitab Perjanjian Lama. Berikut ini adalah bukti-bukti bahwa Yesus adalah Yehovah:

    Satu Pribadi Yehovah
    Satu Pribadi  Yesus
    ·        adalah pencipta (Kejadian 2:7; Mazmur 33:6; 104:30; Yesaya 40:28; 44:24).

    ·        adalah pencipta (Yohanes 1:10; 1Korintus 8:6; Efesus 3:9; Kolose 1:12_17; Ibrani 1:8-12; Wahyu 4:8-11; Wahyu 10:6; 14:6-7; 21:5-7; 22:3).

    ·        adalah penebus dan juruselamat (Yesaya 47:4; 44:6; 43:3-11; 45:21; 49:26).
    ·        adalah penebus dan juru selamat (Yudas 1:25; Galatia 3:13; Kisah Para Rasul 20:28; 1Yohanes 4:14; Filipi 3:20; Lukas 24:21-29;  2:10-11; Yohanes 4:40-42; 1Petrus 2:21-24; 1Timotius 1:1-3; Titus 1:1-4; 1Petrus 1:10—11)
    ·        adalah Gembala (Maznur 23; 100:3; Yesaya 40:10-11).
    ·        adalah Gembala (Yohanes 10:8-12; 1Petrus 2:21-25; 5:4; Ibrani 13:20).
    ·        adalah Raja (Mazmur 24; 44; Yesaya 43:10-15; Yeremua 10:10Zakharia 14:9)
    ·        adalah Raja (Matius 2:1-6; Lukas 19:32-38; 23:3; Yohanes 18:37; 19:21; 1Timotius 6:13-16; Wahyu 15:1-4; 19:11-16).
    ·        adalah “Aku adalah Aku” dan “Akulah Dia” (Keluaran 3:13-14 Yesaya 43:10,11, 25)
    ·        adalah “Aku adalah Aku” dan “Akulah Dia” (Yohanes 18:5-8; 8:24-28; Wahyu 1:17-18).
    ·        adalah yang Awal dan yang Akhir (Yesaya 41:4; 43:10-11; 44:6, 8).
    ·        adalah yang  Awal dan yang Akhir (Wahyu 1:17; 22:13).
    ·        adalah Batu Karang  (Mazmur 18:3; 31:3; 2Samuel 22:1-3, 32).
    ·        adalah Batu Karang  (Matius 16:17-19; Yesaya 28:16; Kisah Para rasul 4:11-12; 1Korintus 10:4; Efesus 2:20-22; 1Petrus 2:5-8) .
    ·        adalah akan datang (Zakharia 14:5; Mazmur 50:1-7).
    ·        adalah akan datang (1Tesalonika 3:11-13; Matius 25:31-46; Titus 2:11-13; Wahyu 19:11-16).
    ·        Yehovah (YHWH)
    ·        Yesus (YHWH Penyelamat)

    Jadi Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru konsisten memberitakan tentang hanya SATU PRIBADI ALLAH. Sudah tentu Allah dalam Perjanjian Lama adalah sama dengan Allah dalam Perjanjian Baru.



    1 komentar: