Nats: Matius 1:18-25 (Referensi: Matius 1:21-23)
PENDAHULUAN
Shalom Bapak, Ibu, dan Saudara yang
dikasihi Tuhan. Selamat Natal! Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk
merayakan tradisi, tetapi untuk merayakan sebuah peristiwa di mana Allah turun
tangan langsung dalam sejarah manusia. Menariknya, saat Allah ingin menyelamatkan
dunia, Ia tidak menurunkan pasukan malaikat ke istana, melainkan Ia menempatkan
Diri-Nya di dalam sebuah keluarga.
Sejak semula, Allah sangat peduli dengan
keluarga. Perhatikan bukti-bukti kepedulian Allah ini:
1.
Lembaga Pertama dan Utama: Allah menciptakan
keluarga (Kejadian 2) bahkan sebelum Ia membentuk bangsa, pemerintahan, atau
lembaga agama/Gereja. Keluarga adalah unit terkecil namun terpenting di mata
Tuhan.
2.
Pintu Gerbang Kelahiran: Allah tidak
mengizinkan seorang pun datang ke dunia tanpa melalui rahim seorang ibu dan
perlindungan seorang ayah. Kristus Sang Raja pun memilih lahir melalui jalur
keluarga, bukan muncul tiba-tiba dari langit.
3.
Bingkai Alkitab adalah Pernikahan: Alkitab dimulai
dengan pernikahan Adam dan Hawa (Kejadian), dan diakhiri dengan Pernikahan Anak
Domba (Wahyu). Di akhir Perjanjian Lama, Allah mengecam keras perceraian
(Maleakhi 2:16), dan di awal Perjanjian Baru, mujizat pertama Yesus dilakukan
di sebuah pesta pernikahan di Kana.
Namun, kita harus jujur bahwa saat ini
keluarga sedang berada di bawah serangan hebat. Ada "ancaman" yang
terus berusaha meretakkan sendi-sendi rumah tangga. Mari kita belajar dari
Keluarga Kudus (Yusuf dan Maria), bagaimana Allah hadir menyelamatkan mereka
dari tiga masalah utama yang juga kita hadapi hari ini.
I. KESUCIAN: Menjaga
Komitmen di Tengah Badai Keraguan
Masalah pertama yang menguji keluarga
Yusuf dan Maria adalah masalah Kesucian.
Penjelasan Konteks:
Dalam tradisi Yahudi, pernikahan terdiri
dari tiga tahap: Siddushin (Pertunangan resmi), masa tunggu satu tahun, dan
Huppah (Upacara pernikahan). Status pertunangan Yusuf dan Maria secara hukum
sudah sah sebagai suami-istri, namun mereka belum diizinkan tinggal serumah dan
belum diperbolehkan melakukan hubungan suami-istri (istilah populernya
"belum boleh belah duren").
Bayangkan perasaan Yusuf saat mengetahui
Maria hamil! Secara logika manusia, kesucian telah dilanggar. Yusuf merasa
dikhianati. Dunia modern menyebutnya "perselingkuhan." Tekanan sosial
saat itu sangat besar; Maria bisa dihukum rajam.
Implementasi:
Banyak keluarga hari ini hancur karena
masalah kesucian (infidelitas/perselingkuhan), baik secara fisik maupun melalui
dunia digital (pornografi atau chat gelap). Namun, lihat bagaimana Allah hadir.
Allah mengutus malaikat-Nya untuk berbicara kepada Yusuf (Matius 1:20).
Gagasan: Allah menyelamatkan keluarga dengan cara memulihkan kepercayaan. Tanpa
kehadiran Tuhan yang meyakinkan hati Yusuf, keluarga ini sudah bubar sebelum
bayi itu lahir.
II. KOMUNIKASI:
Mendengar Suara Tuhan di Tengah Kebisingan
Masalah kedua adalah Komunikasi.
Ada riset yang sering dikutip bahwa
wanita rata-rata mengeluarkan sekitar 20.000 kata per hari, sementara pria
hanya sekitar 7.000 kata. Di balik statistik ini, tersimpan potensi konflik jika
tidak ada titik temu.
Dalam kisah Natal, ada "gap"
komunikasi yang luar biasa besar. Bagaimana Maria menjelaskan kepada Yusuf
bahwa ia hamil oleh Roh Kudus? Bagaimana Yusuf menjelaskan perasaannya yang
hancur? Jika mereka hanya mengandalkan debat dan kata-kata manusia, yang
terjadi adalah pertengkaran hebat.
Ilustrasi:
Banyak suami-istri bicara, tapi tidak
berkomunikasi. Mereka bicara tentang anak, tentang cicilan, tapi jarang bicara
dari hati ke hati dan melibatkan Tuhan. Komunikasi yang sehat bukan hanya soal
jumlah kata, tapi soal keterbukaan dan kesediaan mendengar Tuhan.
Implementasi:
Allah hadir melalui mimpi dan firman-Nya
untuk menjembatani komunikasi yang buntu. Allah mengajari Yusuf untuk tidak
mengambil keputusan sepihak dalam kemarahannya (Matius 1:19). Natal
mengingatkan kita bahwa komunikasi terbaik dalam keluarga adalah saat suami dan
istri sama-sama "mendengar" apa yang Tuhan katakan tentang pasangan
mereka.
III. EKONOMI:
Keterbatasan yang Tidak Membatasi Penyertaan Tuhan
Masalah ketiga yang sangat relevan
adalah Ekonomi.
Yusuf hanyalah seorang tukang kayu
(Yunani: Tekton), seorang pekerja kasar. Mereka bukan keluarga
kaya. Ketika mereka harus melakukan sensus ke Betlehem, mereka tidak sanggup
menyewa kamar di penginapan. Yesus lahir di palungan—sebuah tempat makan
ternak.
Berita/Info Pendukung:
Data statistik menunjukkan bahwa masalah
finansial (ekonomi) merupakan salah satu penyebab perceraian tertinggi di
Indonesia dan dunia. Tekanan hidup seringkali membuat suami istri saling
menyalahkan.
Gagasan:
Keluarga Yusuf dan Maria membuktikan
bahwa kebahagiaan dan kehadiran Tuhan tidak ditentukan oleh saldo rekening.
Walaupun lahir di kandang hina, keluarga ini tetap utuh karena mereka memiliki
"Immanuel" (Allah menyertai kita). Allah menyelamatkan keluarga ini
bukan dengan cara memberi mereka istana instan, tetapi dengan memberikan
ketenangan batin bahwa kebutuhan mereka akan dicukupkan (seperti pemberian
emas, kemenyan, dan mur dari orang Majus sebagai bekal ke Mesir).
PENUTUP &
KESIMPULAN
Matius 1:21 mengatakan: "Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau akan
menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa
mereka."
Dosa adalah akar dari segala kehancuran
keluarga. Dosa kesombongan merusak komunikasi, dosa nafsu merusak kesucian, dan
dosa kekuatiran merusak ekonomi. Namun, Natal membawa berita sukacita: Allah hadir sebagai Penyelamat.
Aplikasi Praktis
bagi Keluarga:
1.
Undang Immanuel: Pastikan setiap keputusan dalam rumah
tangga melibatkan Tuhan.
2.
Saling Mengampuni: Sebagaimana Yusuf mengampuni (menerima)
Maria, mari kita saling mengampuni kegagalan pasangan kita.
3.
Menjaga Integritas: Jadikan kesucian sebagai fondasi utama
rumah tangga.
Ayat Emas:
"Sebab itu seorang laki-laki akan
meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya
menjadi satu daging... Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh
diceraikan manusia." (Matius
19:5-6)
Tuhan Yesus memberkati keluarga kita
semua. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar