MENYINGKAP TABIR RAHASIA KEBENARAN KEESAAN TUHAN

PENDAHULUAN
Salam sejahtera didalam Tuhan Yesus Kristus.
Tulisan ini lahir dari pergumulan yang panjang. Selama ini iman Kristen kita disalah pahami, sebagai akibatnya keyakinan iman kita dijadikan bahan tertawaan dan dilecehkan. Satu sisi kita harus bangga bila kita bisa turut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus (1Petrus 4:13). Tetapi nanti dulu, bila penderitaan itu diakibatkan berita yang kita sampaikan sudah benar, dalam arti sudah sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Alkitab. Juga bila berita yang benar tersebut juga sudah diterima dengan akurasi yang baik, dalam arti tanpa kesalah pahaman. Jika penderitaan itu tetap harus terjadi, ya, mari kita terima semua itu dengan hati yang rela dan dengan sukacita yang melimpah sebagaimana seharusnya dalam perspektif iman Kristen yang benar.
Tetapi rupa-rupanya kesalahpahaman terhadap iman Kristen itu masih banyak terjadi. Khususnya pemahaman tentang eksistensi Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus sebagai 3 (tiga) pribadi, ini masih menjadi polemic yang susah dicerna oleh banyak orang. Sebab keyakinan dasar orang yang berke-Tuhanan secara pewahyuan, atau yang sering disebut agama Samawi adalah Tuhan itu Esa, Satu, dan tidak ada pribadi Tuhan yang lainnya.

Karena itu ketika kekristenan menyajikan berita keyakinan iman bahwa Tuhan itu Esa tetapi memiliki 3(tiga) Pribadi menimbulkan reaksi yang penuh dengan kesalahpahaman. Bahkan ada yang mulai mengelompokkan kekristen dalam agama politeisme yang ambigu. Sebab seringkali dalam statemennya menegaskan Tuhan itu esa, tetapi penjelasannya mengarah kepada “politeisme”.

Penulis tidak bermaksud menghakimi, tetapi perlu adanya otokritik. Dan menurut hemat penulis perlu pemahaman ulang secara komprehensif tentang kebenaran keesaan Allah dan perlu penyampaian dengan pendekatan yang baru. Berbentuk tanya jawab penulis pilih untuk memudahkan pembaca mencerna kebenaran keesaan Allah secara Alkitabiah.
Penulis menantikan saran dan kritik yang penting bagi peningkatan kualitas penulisan. Dan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang turut ambil bagian diterbitkannya buku ini. Secara khusus terima kasih kami berikan kepada bapak Pdt. Zakharia Harry Santosa yang mendorong penulis memunculkan karya ini. Tuhan Yesus memberkati.

Salam dan doa penulis
Pdt. Edi Zakaria


RAHASIA IBADAH
1.     TANYA:
Ada Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus. Bukankah ini menunjukkan bahwa ke-Esaan Allah  adalah suatu misteri rahasia?

JAWAB:
Keagungan rahasia ibadah orang percaya bukan terletak pada “misteri jumlah Pribadi Allah” yang penuh keraguan. Disebut “penuh keraguan” karena tidak memiliki kejelasan yang pasti antara Allah itu satu atau tiga. Seringkali penjelasannya adalah Allah itu satu tetapi PribadiNya tiga dan PribadiNya tiga tetapi satu hakekat ke-Allahan.
Alkitab menegaskan bahwa sesungguhnya keagungan rahasia ibadah orang percaya terletak pada “misteri inkarnasi” Kristus (inkarnasi = peristiwa Allah menyatakan diriNya dalam rupa manusia, 1Timotius 3:16).
Inkarnasi Kristus menimbulkan pertanyaan yang jawabannya tidak bisa dipuaskan dengan argumentasi yang memuaskan logika manusia. Antara lain:
ü Bagaimana mungkin Allah yang tidak terbatas bisa mengambil wujud yang terbatas?
ü Bagaimana mungkin Allah yang berdiam dalam kekekalan mau masuk dan tinggal dalam dunia yang penuh kefanaan?
ü Bagaimana mungkin Allah yang Roh yang tidak berwujud dan tidak nampak bisa berkenan menjumpai manusia dengan mengambil rupa manusia?
ü Bagaimana mungkin yang maha kuasa mengambil wujud “mahkluk yang tidak berdaya”?
ü Bagaimana mungkin Allah yang menciptakan segala sesuatu menjumpai manusia dengan wujud “ciptaan”?
ü Bagaimana mungkin Allah yang kekal  bisa mati di kayu salib?
Kita harus jujur bahwa kita tidak mempunyai jawaban yang bisa memuaskan penalaran manusiawi terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas.
Persoalannya adalah Alkitab dari awal sampai akhir menunjuk kepada Satu Pribadi yang menjadi obyek sekaligus subyek penentu ketetapan penyembahan yaitu Tuhan Yesus. Yaitu Dia yang tidak terbatas mengambil rupa terbatas dan masuk dalam dunia yang penuh keterbatasan. Yaitu Dia yang kekal masuk dunia yang penuh kefanaan. Yaitu Dia yang adalah Roh telah mengambil rupa daging. Yaitu Dia yang mahakuasa mengambil rupa “manusia hamba”. Yaitu Dia Sang Pencipta mengambil rupa manusia ciptaan. Yaitu Dia yang maha perkasa telah mati di kayu salib.
Kenyataan, itulah yang terjadi dengan Allah yang kita sembah dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jawaban yang memuaskan selain kita harus memberitahu bahwa ini adalah “misteri” atau “rahasia”. Meskipun misteri itu sudah dinyatakan secara terbuka, namun keterbatasan kesanggupan manusia untuk memahami dan menjelaskan itulah yang menjadikan fakta dan kebenaran itu masih relevan disebut sebagai misteri.
Namun Alkitab menegaskan bahwa rahasia inilah yang menjadikan ibadah orang percaya menjadi “Agung”.
“Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan." (1Timotius 3:16)
Jadi jelas, bahwa misteri itu bukan pada “jumlah PribadiNya”. Alkitab tidak pernah menggunakan istilah rahasia berkaitan dengan Pribadi Allah. Alkitab dengan tegas menyatakan Pribadi Allah itu satu (Ulangan 6:4; Yesaya 44:24).

2.     TANYA:
Mengapa keagungan ibadah orang percaya  terletak pada “misteri inkarnasi” Kristus?

JAWAB:
Keagungan ibadah Kristen tidak ditentukan oleh rumitnya sebuah ritual. Juga tidak oleh tempat dimana kita beribadah. Keagungan ibadah Kristen itu ditentukan kepada siapa ibadah itu ditujukan, dan apa yang seharusnya mendasari ibadah tersebut. Jika ibadah itu ditujukan kepada Pribadi yang maha agung dengan karyaNya yang teramat agung, maka sesederhana apapun ibadah itu jika dilakukan dengan kesungguhan hati maka ibadah itu adalah ibadah yang agung. Misteri inkarnasi Kristus justeru menegakkan kebenaran keagungan pribadi Kristus. Mengapa demikian?
1.     Misteri inkarnasi Kristus menyingkapkan KASIH ALLAH yang sangat luar biasa mengagumkan (Efesus 3:18-19). Melalui inkarnasi, tampak jelas bahwa Allah begitu mengasihi manusia sampai-sampai mengambil rupa manusia hamba yang hina dan tersalib, bahkan menjadi apapun Ia rela lakukan asal manusia bisa terselamatkan.
2.     Misteri inkarnasi Kristus menjelaskan   betapa dalam kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah yang tidak terselidiki keputusan-keputusannya (Roma 11:33-36).  Skenario penyelamatan manusia melalui inkarnasi Kristus adalah sebuah “jalan pikiran yang tidak pernah terpikirkan”. Itulah sebabnya tidak ada agama apapun di dunia ini yang memiliki kesamaan jalan pikiran seperti ini. Ini otentik jalan pikiran Allah. Misteri inkarnasi ini benar-benar menegakan “jalan pikiran Allah yang agung”.
3.     Misteri inkarnasi Kristus menyatakan tentang betapa hebatnya kuasa Allah bagi orang percaya (Efesus 1:18-21). Misteri inkarnasi Kristus berhasil mematahkan kuasa maut melalui korban kematiannya di kayu salib. Apalagi kuasa kehidupannya yang bekerja di dalam dan melalui orang percaya. Inkarnasi Kristus menyingkapkan tabir rahasia kuasa Allah yang tidak terbatas.
 Misteri inkarnasi Kristus adalah misteri yang agung, pada misteri itulah nampak  nyata keagungan  Tuhan. Hal ini akan membuat ibadah orang percaya menjadi agung sebab ibadahnya ditujukan pada Allah yang agung.




KEESAAN TUHAN YANG ALKITABIAH

3.     TANYA:
Seperti apakah ke-Esaan Tuhan yang Alkitabiah itu?

JAWAB:
Alkitab berkata: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4)Kata “esa” ditulis dengan “dxa (echad)” yang berarti satu dalam arti angka.
Pemazmur berkata:”Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”(Mazmur 136:4)
Yesaya menegaskan: “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi -- siapakah yang mendampingi Aku? --” (Yesaya 44:24). Dan masih banyak lagi ayat yang dengan tegas menyatakan bahwa Allah itu Esa dalam pengertian SATU PRIBADI.
Jadi jelas bahwa Tuhan itu satu dan benar-benar Ia SATU PRIBADI. Adapun Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus adalah peranan Allah. Ibaratnya Edi Zakaria kalau di rumah dipanggil Bapak. Kalau di Gereja dipanggil pendeta. Kalau di sekolah dipanggil guru. Tetapi Edi Zakaria pribadinya hanya satu. Kalau Edi Zakaria ada lebih dari satu yang paling kasihan adalah isterinya, ia pasti bingung. Demikian pun dengan Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus sesungguhnya adalah satu Pribadi Allah yang Esa.
Kolose 2:9 berkata: “Sebab dalam Dialah (Tuhan Yesus) berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
Untuk lebih jelas dalam memahami ayat tersebut, marilah kita ajukan beberapa pertanyaan terhadap pernyataan ayat tersebut.
1.     Dalam berapa Pribadikah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan? Tentunya Satu Pribadi yaitu dalam Dialah (Tuhan Yesus Kristus)
2.     Sebagian kepenuh-an keAllahan atau seluruh kepenuhan keAllahan yang berdiam secara jasmaniah di dalam Tuhan Yesus Kristus? Tentunya seluruh kepenuhan keAllahan yang berdiam secara jasmaniah dalam Tuhan Yesus Kristus, dan bukan sebagian kepenuhan keAllahan.
3.     Apakah Tuhan Yesus  tinggal dalam keAllahan atau seluruh kepenuhan keAllah-an yang tinggal secara jasmaniah dalam Tuhan Yesus Kristus? Yang benar adalah seluruh kepenuhan keAllahan yang tinggal dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan bukan Tuhan Yesus yang tinggal dalam  keAllahan.
Sebab jika Tuhan Yesus tinggal dalam keAllah-an, berarti Tuhan Yesus adalah salah satu dari Pribadi Allah. Dan itu berarti ayat ini membenarkan bahwa Allah memiliki 3(tiga) Pribadi. Tetapi faktanya Kolose 2:9 menegaskan bahwa seluruh kepenuhan keAllahan yang tinggal dalam Tuhan Yesus Kristus.
4.     Jadi, bertemu siapakah jika kita mencari Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus? Pasti bertemu Tuhan Yesus Kristus.
5.     Berarti berjumpa dengan berapa Pribadi Allah jika kita mencari Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus? Yang pasti, SATU PRIBADI ALLAH yang secara jasmaniah kita temui di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus.
Itulah sebabnya dalam Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus menyebutkan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Matius 28:19).
Perhatikan kata ”nama”, disana digunakan hanya satu kali (tunggal), dan bukan disebut dua atau tiga kali (jamak). Penggunaan kata “nama” tersebut secara tunggal berarti menegaskan bahwa Allah itu SATU PRIBADI.
Itulah sebabnya juga para murid (yaitu Para Rasul) membaptis orang-orang percaya dengan menggunakan formula baptisan “Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus” (Kisah Para Rasul 2:38; 8:16; 10:48; 19:5; Roma 6:3; Galatia 3:27) dan bukan “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”. Bahkan tidak ada satu tokoh pun dalam Alkitab yang dibaptis “dalam nama Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus.”
Jadi keEsaan Tuhan yang Alkitabiah mempercayai, dan mengajarkan dengan bersungguh-sungguh  bahwa Tuhan itu hanya SATU PRIBADI, dan hanya Dia saja SATU-SATUNYA Allah yang benar, yang menyatakan DiriNya kepada manusia di dalam  Pribadi Tuhan Yesus Kristus.    

4.     TANYA:
Bagaimana saya bisa memastikan bahwa penjelasan anda tentang keEsaan Tuhan adalah penjelasan yang Alkitabiah?

JAWAB:
Untuk memastikannya, anda harus meneliti kembali bahwa penjelasan kami sesuai  dengan seluruh bagian Alkitab. Kebenaran keEsaan Tuhan adalah kebenaran yang sangat gamblang diberitakan oleh Alkitab dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Karena begitu gamblang-nya sehingga tidak memerlukan penafsiran yang berbelit-belit. Alkitab menerangkan demikian:
1.     Demi menjaga kemurnian FirmanNya, Allah berkenan memilih Abraham dan keturunannya.
Kebenaran keEsaan Allah menjadi pertanggung jawaban suci yang harus dijaga dan  dilindungi  oleh Israel dari antara bangsa-bangsa (Kejadian 12:1-3; Ulangan 5:3-7; 31:20; Roma 3:2).

2.     Para Nabi menegaskan kuat-kuat tentang ke Esaan Allah:
ü Musa: Keluaran 20:3; Ulangan 5:7; 6:4
ü Yesaya: Yesaya 37:16; 43:3, 11; 44:6-8, 24; 45:5
ü Zakaria: Zakharia 14:9
ü Maleakhi: Maleakhi 2:15

3.     Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa Allah itu Esa
ü Yohanes 10:30 - Aku dan Bapa adalah satu  (Kata “satu” menggunakan istilah Yunani “eij“ artinya “satu secara angka”. Sumber: Strong no. 1520).Yohanes 14:9-10 - ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yesus adalah Bapa, sebab selama ini yang dilihat Filipus hanya Yesus).
ü Tuhan Yesus berjanji akan menyertai  sampai akhir zaman (Matius 28:20),  ternyata Yesus naik ke surga. Namun sebelum naik ke surga Dia memberi tahu akan memberi Penolong yang lain yaitu Roh Kudus (Yohanes 14:16-17). Kalau Yesus dan Roh Kudus adalah Pribadi yang berbeda, berarti Yesus mengingkari janjiNya. Tetapi karena Roh Kudus adalah peranan  Allah, itulah sebabnya Yesus berkata: “...Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku…” (Yohanes 14:26).
ü Gereja Kristen berakar pada sejarah dan keyakinan umat Israel (Roma 11:17-18). Ini berarti Gereja seharusnya memiliki pemahaman keEsaan Allah seperti Israel - yaitu Tuhan itu satu Pribadi. Dan Gereja mula-mula (sekitar abad pertama)  diajar oleh Para Rasul bahwa Allah itu Esa. Bukankah pengajaran para Rasul menjadi dasar Gereja?(Efesus 2:20).
ü 1Timotius 1:17 - “...Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.” (Kata “Esa” menggunakan istilah Yunani “monoj” artinya “seorang diri”. Sumber: Strong no. 3441)
ü Silakan periksa ayat-ayat berikut ini:
ü Galatia 3:20
ü Roma 10:12;  16:27;
ü 1Korintus 12:5-6
ü Efesus 4:5
ü 1Timotius 1:17;   2:5
ü 1Yohanes 2:23
ü Yakobus 2:19
ü Wahyu 4:2
ü Yudas 1:25 - “Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus     Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.”
Jadi sejak dulu, sekarang dan sampai selamanya Alkitab mencatat dan memberitakan bahwa  Allah itu esa, yaitu SATU PRIBADI. (Kata “Esa” menggunakan istilah Yunani “monoj” artinya “seorang diri”.Sumber: Strong no. 3441).
Masihkah kita meragukan kebenaran bahwa Allah yang Esa adalah satu Pribadi?



ISTILAH KEJAMAKAN

4.  TANYA:
Jika Tuhan adalah satu Pribadi, bagaimana anda menjelaskan penggunaan terminologi (istilah) dalam Alkitab yang bersifat jamak yang dikenakan pada Tuhan, seperti dalam Kejadian 1:26-27?

JAWAB:
Alkitab (dalam bahasa Ibrani yaitu bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama) memang menggunakan kata “Elohim” yang merupakan bentuk jamak dari “Eloah”.
Meskipun Elohim adalah bentuk jamak dari Eloah, berdasar Strong’s Exchaustic Dictionary nomor 0433(Versi YLSA) dapat disimpulkan bahwa Elohim ketika dikenakan pada Tuhan menunjuk kepada     kejamakan peranan (rulers) Tuhan, keagungan Tuhan (divine Ones).
Dalam bahasa Ibrani ada jamak yang menunjuk pada kwantitas (plural), tetapi ada juga jamak majesties (jamak pemuliaan).
Berikut ini contoh penggunaan Elohim dalam Alkitab:“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kejadian 1:26)
Kata “Kita” tersebut bukan dimaksudkan untuk mengekspos kejamakan kwantitas (jumlah) Pribadi Allah. Hal ini dapat dilihat dari:

1.     Tidak adanya konsistensi teks.
Jika kata “Kita” yang dimaksud menunjuk pada kejamakan jumlah Pribadi Allah, tentu  Alkitab menuliskan kata “Kita” secara terus menerus sejak awal dalam setiap tindakanNya.

2.     Tidak adanya relevansi antara tindakan Allah dan hasil yang didapat.
Jika kata “Kita” yang dimaksud kejamakan jumlah Pribadi Allah maka manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah manusia yang juga memiliki kejamakan pribadi. Kenyataannya manusia yang diciptakanNya pribadinya tunggal   bukan jamak. Adapun tubuh, jiwa dan roh itu bukan membuktikan pribadi manusianya yang  jamak, tetapi hanya unsurnya saja yang jamak.

3.     Tidak adanya konsistensi berita dalam Alkitab.
ü Mazmur 136:4 menyatakan: “Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”
Dalam Mazmur 136:4 adalah baris pijakan dari baris-baris berkutnya. Sebab dalam baris-baris berikutnya menjelaskan semua perbuatan-perbuatan Tuhan termasuk menciptakan langit dan bumi serta seisinya (termasuk menciptakan manusia yang menurut gambar dan rupa Allah).
ü Mari kita lihat juga Yesaya 44:24 yang berbunyi: “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; "Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi -- siapakah yang mendampingi Aku? --”
Yesaya juga memberitakan bahwa Allah seorang diri yang menjadikan segala sesuatu (sudah tentu termasuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya).
Jelas kata “Kita” yang dimaksud bukan membicarakan kejamakan jumlah Pribadi Allah.
Pada ayat 26, dlm terjemahan LAI-TB menulis "Kita menjadikan" KJV menulis "let us make" dalam bahasa asli Ibrani NA'ASEH dan terjemahan LXX "POIESOMEN", sedangkan dalam penciptaannya sendiri menggunakan kata "BARA" Yang berbentuk singular (ayat 27)
        Kata "menjadikan" dan "menciptakan" ini tentu mempunyai bobot yang berbeda. Bahwa ketika Allah berbicara kepada bala tentara sorga dalam suatu sidang Ilahi, Ia berbicara dengan kata "menjadikan", sedangkan "penciptaan" manusia dilakukan hanya oleh Allah sendiri "BARA", dimana kata "BARA", ini adalah kata yang spesifik hanya untuk Allah saja.
        Kejadian 1:26,27....Sang Pencipta berfirman sebagai Raja Sorgawi dihadapan bala tentara Sorgawi. Ia menyatakan rencanaNya untuk menciptakan mahluk yg akan menguasai bumi dan isinya yaitu Manusia.
Manusia "dijadikan" dalam "image" Allah : "menurut gambar (TSELEM)" dan rupa Kita" (DEMUT).
        Dalam posisi para malaikat, sesuai pemahaman kalangan Yahudi Rabinik, dapat kita katakan bahwa mereka adalah peserta Sidang Ilahi yg diajak Allah dlm kesepakatan "untuk menjadikan" (bukan menciptakan) menjadikan manusia yg memiliki sifat2 tertentu dari Elohim (termasuk malaikat), yg berperasaan, yg berpengetahuan/memiliki intelektual, memiliki kuasa, memiliki free-well.
        Jadi para malaikat dalam sidang Ilahi tersebut diajak turut glm rencana "menjadikan", Ibrani NA'ASEH, plural itulah sebabnya verba ini ditulis dlm bentuk qal imperfect (kata kerja bwlum rampung). Namun dalam penciptaannya dilakukan oleh Allah sendiri, kita dapat melihat kata spesifik "BARA", singular, adalah dalam bentuk qal perfect (completed action, kata kerja sudah rampung).
        Kejadian 1:27, sesuai dgn yg sudah tadi saya jelaskan, merujuk bahwa penciptaan manusia dilakukan secara mutlak dan dirampungkan oleh Allah sendiri.
        Perhatikan lagi  bahwa kata "BARA" diucapkan 3x, dan pengucapan 3x pula dinyatakan dalam 'Stem qal perfect'( rampung/completed). Dalam sastra bhs Ibrani pengucapan suatu kata hingga 3x itu merujuk kepada kemutlakan/kepastian, bandingkan dgn pujian kepada Allah yg diungkapkan dengan Majas Toutologia :"Kudus, Kudus, Kudus" (yesaya 6:3, why 4:8).
        "Kudus" adalah sifat Allah yg diulang sampai 3x, hal ini menunjukkan tdk ada kata yg lainnya yg dpt menggambarkan kekudusan Allah yg mutlak dan pasti dlm bhs manusia, kecuali diulang 3x. Jadi dlm kejadian 1:27 ini, kata "BARA" dituliskan oleh Musa 3x sebab HANYA ALLAH-LAH SANG PENCIPTA ITU.....

Inilah maksud penggunaan kata “Kita” dalam Kejadian 1:26 yaitu Allah berfirman dengan segala kemuliaanNya di hadapan sidang Ilahi yaitu segenap para malaikatNya bahwa Tuhan akan menciptakan manusia.
Hal ini menegaskan bahwa penciptaan manusia dilakukan Allah secara terbuka, yaitu segenap alam semesta mengetahuinya bahwa manusia yang diciptakan Allah adalah benar-benar menjadi “mahkota ciptaanNya”. Adam Clarke sebagai seorang ahli Alkitab sepakat dengan pendapat tersebut.





PERANAN  ATAUKAH   PRIBADI?

5.     TANYA:
Benarkah bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga peranan  Allah dan bukan tiga Pribadi Allah?

JAWAB:
Sebelumnya mari kita sepakati terlebih dahulu deskripsi (penjelasan) tentang apa itu Pribadi dan apa itu peranan.
J. Wesley Brill menjelaskan bahwa: “Satu pribadi memiliki tiga hal: memiliki pengetahuan, memiliki perasaan, memiliki kehendak diri.” (Brill, J. Wesley; Dasar Yang Teguh; Kalam Hidup, Bandung; Cet. VII; Hal. 36).  Atau dengan kata lain satu kesatuan mental yang tidak berhubungan dengan satu kesatuan mental lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sigmund Freud sebagai perintis psikology analisa.
Jika pengertian “pribadi” adalah seperti dimaksud di atas maka Alkitab cukup jelas menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga peranan Allah dan bukan tiga Pribadi dari Allah. Hal tersebut bisa dilihat dari:
1.              Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan secara harafiah dan tegas bahwa Allah itu tiga Pribadi sebagaimana ayat yang menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa Allah itu esa, satu Pribadi. Yang ada hanyalah “tafsiran” orang-orang (Khususnya dilakukan oleh tokoh-tokoh Gereja sesudah abad ke tiga se-sudah masa Para Rasul lewat.). 
2.           Jika pengertian Allah yang esa dalam Alkitab dipaksakan memakai penjelasan Allah itu esa tetapi tiga Pribadi, maka yang terjadi adalah penjelasan yang ambigu dan membingungkan, dan pada akhirnya menuntun orang pada obyek penyembahan yang tidak dinyatakan oleh Alkitab.
        Kita harus tahu bahwa beribadah kepada sasaran (obyek) penyembahan yang salah adalah fatal. Alkitab berkata:“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau ber-ibadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan  keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku me-nunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Ulangan 5:7-10).
 Ada keganjilan dalam penjelasan dari mereka yang percaya Allah itu satu tetapi tiga Pribadi.Keganjilannya adalah:
ü Tiga Pribadi ter-sebut memiliki pengetahuan yang sama, kemauan yang sama, dan perasaan yang sama, bukankah penjelasan ini mengarah kepada  Pribadi yang sama, yaitu Pribadi yang Satu? Sebab jika pribadi lebih dari satu maka pasti kemauan, pikiran, dan perasaannya pasti ada perbedaan dan itu berimbas kepada karakter yang berbeda.
ü Mereka menjelaskan bahwa hakekat dan pribadi Allah itu bisa dipisahkan. Nampaklah bahwa pemahaman ke-Allahan yang Alkitabiah terseret oleh mindset (pola pikir) filsafat duniawi.  Allah adalah Allah. Jika hakekat Allah itu satu, maka PribadiNya juga satu. Benarkah Alkitab menjelaskan bahwa Allah itu sekedar hakekat dan bukan Pribadi? Benarkah hakekatNya dipisahkan dari PribadiNya? Bukankah hakekat Allah adalah Roh? Dan Dia adalah Roh yang berpribadi. Hakekatnya satu dan pribadiNya juga satu (Yohanes 4:23-24).

Mohon pembaca bisa merenungkannya   secara sungguh-sungguh.

4.         Penjelasan mereka yang mempercayai Allah itu esa tetapi ada tiga Pribadi membuat penyataan Allah melalui Alkitab tidak mencapai maksud.
           Penyataan Allah dimaksudkan agar yang tidak jelas menjadi jelas; apa yang tidak terpahami menjadi dapat dipahami dengan demikian manusia dapat  mengenal Allah. Pengenalan manusia akan Allah membuat manusia bisa menyatakan kasihnya kepada Allah dan melayani Dia. Dan itulah puncak kebahagiaan manusia. Tetapi penjelasan mereka membuat penyataan Allah menjadi tidak terpahami. Mereka hanya membuat penyataan Allah dalam Alkitab yang sangat terang seakan tidak lagi mencukupi dan tidak mencapai maksud.

Sekarang jelaslah bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus itu bukan Pribadi Allah yang berbeda-beda. Tetapi peranan Allah yang berbeda-beda. Bukti berikut menegaskan pernyataan tersebut:

1.     Yesus adalah Bapa    
ü Aku (Yesus) dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30).
ü Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia…. (Yohanes 16:7-9)
ü Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. (Yohanes 14:10)
ü Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. (Yohanes 14:11)
ü "...dan namaNya disebut orang: Bapa yang kekal..." (Yesaya 9:5)
ü dll.

2.2.      Yesus adalah Roh Kudus
                     ü ".....jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9)
          ü ".....tetapi Roh Yesustidak mengizinkan mereka...." (Kisah Para Rasul 16:7)



KEJAMAKAN PERANAN ALLAH

6. TANYA:
         Kalau Allah itu Esa dalam pengertian SATU  Pribadi, mengapa Tuhan harus menyatakan Diri-Nya dalam tiga peranan?

JAWAB:
            Yang pertama, karena Allah sendiri berkenan menyatakan DiriNya demikian.
1Yohanes 5:7
Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.”
        Kekurangan (atau kesalahan) dari ajaran Trinitas adalah memberi tekanan yang kuat pada “tiga adalah satu, dan satu adalah tiga”. Padahal Alkitab hanya mengatakan bahwa Bapa, Firman (bukan Anak, lho), dan Roh Kudus; dan “ketiganya adalah satu”. Dan bukan satu adalah tiga.
          Yang kedua, kejamakan peranan itu dilakukan Allah dalam rangka berhubungan dengan manusia.
Yohanes 3:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
            “Karena begitu besar kasih Allah” sehingga Allah berinisiatif  membangun hubungan dengan manusia dengan caraNya yang unik. Itu pula sebabnya Allah menyatakan perananNya yang jamak.
            Sebagai Allah Bapa yang tidak kelihatan dan tidak terjangkau oleh manusia, Allah berkenan mengunjungi manusia dalam “rupa atau wujud manusia”.
Yohanes 16:7
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”
            Karena perhatian Allah kepada manusia, itulah sebabnya kejamakan peranan Allah dinyatakan. Sebagai Allah yang berkorban, Ia menyatakan Diri sebagai Anak Allah, yaitu Yesus yang harus mati menggantikan hukuman manusia. Dan sebagai Penghibur, Roh KudusNya tinggal di dalam kita.
            Ketiga, kejamakan peranan Allah membuktikan bahwa Allah itu Agung. Ia melebihi segala pikiran manusia.
            PerananNya yang jamak tidak akan mungkin kita ketahui jika Ia tidak menyatakanNya kepada kita.
 Ayub 36:26
“Sesungguhnya, Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahun-Nya tidak dapat diselidiki.”
Kejamakan peranan Allah  yang Agung nampak jelas dari segala perbuatanNya.
Yesaya 12:4
“Akan tiba saatnya kamu berkata, "Bersyukurlah kepada TUHAN, dan sembahlah Dia. Beritakanlah kepada bangsa-bangsa keagungan dan segala perbuatan-Nya.”
            Keempat, kejamakan peranan Allah menyatakan kepada kita bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang unik. Allah yang tunggal, hanya Satu Pribadi namun perananNya yang jamak, itulah Allah yang dinyatakan kepada orang percaya dalam Alkitab.  Karena itu ‘Let God be God’.
Yesaya 45:21
Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”.



 ALLAH BAPA ADALAH YESUS KRISTUS

7.  TANYA:
            Jika Allah itu satu Pribadi, apakah itu berarti Allah Bapa adalah Yesus?

JAWAB:
            Untuk memastikannya mari kita melihat ayat-ayat berikut ini:
Yesaya 9:5
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”
            + 600 tahun sebelum Yesus lahir nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa Yesus   akan disebut sebagai BAPA YANG KEKAL.
Yohanes 10:30
“Aku dan Bapa adalah satu.”
            Kata “satu” dalam bahasa asli menggunakan kata “eis” yang berarti satu secara angka. Yesus dan Bapa adalah satu, tidak ada Pribadi yang lainnya.
Yohanes 1:18
“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
Matius 11:27
Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”
            Tidak seorang pun mengenal Bapa selain Yesus dan orang yang berkenan kepada Yesus. Bapa adalah peranan Allah yang tidak tampak.
Yohanes 14:8-9
Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”
            Selama ini yang dilihat Filipus hanya Yesus. Tetapi Yesus menegaskan bahwa barang siapa telah melihat Yesus, ia telah melihat Bapa.  Mengapa bisa demikian?
Yohanes 14:10
“Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”
            Melihat Yesus berarti melihat Bapa, karena Bapa berdiam di dalam Yesus. Allah yang tidak kelihatan itu berdiam memenuhi Pribadi Yesus.
Yohanes 14:28
“ Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”
            Allah yang tidak kelihat-an, yang berdiam di dalam Yesus itu lebih besar dari “kemanusiaan Yesus”.
Yohanes 10:25
“Yesus menjawab mereka: "Aku telah me-ngatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, “
            Perkataan dan tindakan Yesus mencerminkan tindakan Allah Bapa.
Yohanes 17:11
“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”
            Nama Allah Bapa sudah diberikan kepada Yesus. Jika demikian “siapakah nama Bapa?”. Pasti Tuhan Yesus Kristus.
            Jadi Allah Bapa itu bukan Pribadi Allah yang lain. Allah Bapa adalah peranan lain dari Allah yang satu itu, yang dinyatakan kepada kita dalam nama Tuhan Yesus.



ROH KUDUS ADALAH YESUS KRISTUS
8.     TANYA:
            Benarkah bahwa Roh Kudus adalah Yesus Kristus? Apa buktinya?

 JAWAB:
            Allah hanya satu, dan wujud Allah adalah Roh, dan Roh Kudus adalah Roh Allah itu sendiri (Yoh. 4:24; 1 Kor. 3:16-17, 6:19, 12:13). 
· Bayi Yesus yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus (Matius 1:18, 20; Lukas 1:35).
· Roh Kudus datang dalam nama Yesus Kristus (Yohanes 14:26)
· Tidak ada seorangpun yang mengaku “Yesus adalah Tuhan” selain oleh Roh Kudus (1Korintus 12:3)
· Roh Kudus disebut sebagai Roh Yesus (Kisah Para Rasul 16:7)
· Roh Kudus disebut sebagai Roh Yesus Kristus (Filipi 1:19).
· Orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus (Roma 8:9)
· Roh Kudus yang menguasai para nabi adalah Roh Kristus (1Petrus 1:11).
· Seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam secara jasmaniah di dalam Yesus Kristus (Kolose 2:9). Dan itu berarti   bila mencari Roh Kudus pasti bertemu dengan Pribadi Tuhan Yesus Kristus.
      · Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kolose 1:15-17).
      Yesus adalah gambar wujud Allah, yaitu wujud Allah yang Roh, yang  tidak kelihatan itu (Ibrani 1:3).
            Jelas, bahwa Yesus yang tinggal dalam diri orang percaya adalah Roh Kudus.



YESUS ADALAH YEHOVAH

9.     TANYA:
Siapakah sebenarnya Yesus itu ketika Ia belum berinkarnasi (datang ke dunia dalam wujud manusia)?

JAWAB:
Yesus adalah Yehovah (YHWH), yaitu sebutan untuk Tuhan dalam Alkitab Perjanjian Lama. Berikut ini adalah bukti-bukti bahwa Yesus adalah Yehovah:

Satu Pribadi Yehovah
Satu Pribadi  Yesus
·        adalah pencipta (Kejadian 2:7; Mazmur 33:6; 104:30; Yesaya 40:28; 44:24).
·        adalah pencipta (Yohanes 1:10; 1Korintus 8:6; Efesus 3:9; Kolose 1:12_17; Ibrani 1:8-12; Wahyu 4:8-11; Wahyu 10:6; 14:6-7; 21:5-7; 22:3).
·        adalah penebus dan juruselamat (Yesaya 47:4; 44:6; 43:3-11; 45:21; 49:26).
·        adalah penebus dan juru selamat (Yudas 1:25; Galatia 3:13; Kisah Para Rasul 20:28; 1Yohanes 4:14; Filipi 3:20; Lukas 24:21-29;  2:10-11; Yohanes 4:40-42; 1Petrus 2:21-24; 1Timotius 1:1-3; Titus 1:1-4; 1Petrus 1:10—11)
·        adalah Gembala (Maznur 23; 100:3; Yesaya 40:10-11).
·        adalah Gembala (Yohanes 10:8-12; 1Petrus 2:21-25; 5:4; Ibrani 13:20).
·        adalah Raja (Mazmur 24; 44; Yesaya 43:10-15; Yeremua 10:10Zakharia 14:9)
·        adalah Raja (Matius 2:1-6; Lukas 19:32-38; 23:3; Yohanes 18:37; 19:21; 1Timotius 6:13-16; Wahyu 15:1-4; 19:11-16).
·        adalah “Aku adalah Aku” dan “Akulah Dia” (Keluaran 3:13-14 Yesaya 43:10,11, 25)
·        adalah “Aku adalah Aku” dan “Akulah Dia” (Yohanes 18:5-8; 8:24-28; Wahyu 1:17-18).
·        adalah yang Awal dan yang Akhir (Yesaya 41:4; 43:10-11; 44:6, 8).
·        adalah yang  Awal dan yang Akhir (Wahyu 1:17; 22:13).
·        adalah Batu Karang (Mazmur 18:3; 31:3; 2Samuel 22:1-3, 32).
·        adalah Batu Karang  (Matius 16:17-19; Yesaya 28:16; Kisah Para rasul 4:11-12; 1Korintus 10:4; Efesus 2:20-22; 1Petrus 2:5-8) .
·        adalah akan datang(Zakharia 14:5; Mazmur 50:1-7).
·        adalah akan datang(1Tesalonika 3:11-13; Matius 25:31-46; Titus 2:11-13; Wahyu 19:11-16).
·        Yehovah (YHWH)
·        Yesus (YHWH Penyelamat)

Jadi Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru konsisten memberitakan tentang hanya SATU PRIBADI ALLAH. Sudah tentu Allah dalam Perjanjian Lama adalah sama dengan Allah dalam Perjanjian Baru.
Untuk lebih memperjelas, silahkan mempelajari bagan di atas.




NATUR YESUS
10. TANYA:
Seperti apakah nature Yesus Kristus itu?

JAWAB:
Yesus Kristus adalah Allah yang Roh adanya (tidak berwujud, kekal, dan absolut) namun menyatakan diri dalam wujud manusia (Ibrani 1:3).
Secara manusiawi Ia dilahirkan oleh seorang perawan Maria. Namun Ia bukan berasal dari benih laki-laki, tetapi Roh Allah. Dari sudut keAllahan, Dia adalah benar-benar Allah. Namun dari sudut kemanusiawian, Yesus sama seperti kita. Tetapi bedanya Yesus tidak berdosa.
Saat Yesus Kristus berinkarnasi di dunia Ia adalah Allah 100% dan manusia 100%. Ia adalah Allah sejati dan manusia yang sempurna. Pada dasarnya kemanusiaan dan keAllahan  Yesus tidak bercampur, tetapi juga tidak berpisah.
KeAllahan Yesus ada dengan sendiriNya sejak kekekalan masa lampau. Tetapi kemanusiaan-Nya di-mulai  sejak peristiwa kelahir-anNya di kandang Betlehem. Hal tersebut terjadi dengan tujuan menjadi Anak Domba Allah yang dikorbankan sebagai penebusan dosa manusia. Itulah sebabnya Yesus juga disebut Anak   Allah, tetapi juga disebut dengan Anak Manusia.
Sebutan Anak dikenakan pada Yesus karena Yesus seperti Anak  yang taat kepada Bapa-Nya. Jadi sebutan Anak Allah adalah sebutan kiasan peranan.
Pemahaman tentang nature Yesus ini sangat penting. Jika hal ini dipahami maka apa yang disebut “kebingungan” akan nyata sebagai  keajaiban dan keagungan Allah yang tidak terselami jalan-jalanNya dan tidak terselidiki keputusan-keputusanNya (Roma 11:33-36).

     
TANYA:
Jika Yesus adalah  Allah, mengapa Ia berdoa? Dan kepada siapa Ia berdoa? Apakah ini  tidak membuktikan bahwa Allah yang esa itu lebih dari satu Pribadi?

JAWAB:
Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya telah menjawab dengan tegas bahwa Alkitab mengajarkan Allah yang esa itu SATU PRIBADI, tidak lebih.
Jika Yesus berdoa, itu berarti kemanusiaan-Nya berdoa kepada keAllahanNya. Secara manusia Yesus harus berdoa. Secara keAllah-an, Dialah yang dapat mewujudkan semua doa.
Jadi bukan ada Pribadi Allah yang lain yang  lebih dari satu, bukan. Tetapi SATU saja Pribadi Allah itu.


12. TANYA:
Saat Yesus disalib, Ia berseru:”Eloi, eloi lama sabakhtani.”. Yang artinya: ”BapaKu, BapaKu. Mengapa  Engkau meninggalkan Aku.” Bukankah ayat tersebut menegaskan bahwa Allah yang esa itu lebih dari satu Pribadi?

JAWAB:
Inilah penjelasan kami: Saat Yesus disalib, kemanusiaan Yesus benar-benar ditinggalkan oleh keAllahan-Nya yang dipanggilNya sebagai Bapa. Hal itu terjadi demi melaksanakan rencana keselamatan manusia. Sebab pada saat itu kemanusiaan Yesus sedang memikul dosa semua umat manusia. Itulah sebabnya ke-Allah-anNya pergi meninggalkanNya. Sebab Allah yang mahasuci tidak bisa melihat dosa.
Peristiwa ini disebut Paulus sebagai peristiwa “mengosong-kan diri” (atau disebut juga peristiwa “kenosis”) (Filipi 2:6-8).
Mengapa kemanusia-an Yesus yang berseru “Eloi, Eloi, lama sabakhtani”? Inilah argumentasinya:
1.     Kalau Yesus tetap tinggal dalam ke-Allahan-Nya pasti tidak merasa sakit sehingga percuma hukuman dosa itu dilaksanakan atas Yesus.
2.     Kalau Yesus tetap tinggal dalam keAllahan-Nya pasti tidak akan mati, sebab Allah tidak  mungkin mati.
3.     Kalau Yesus tetap tinggal dalam keAllahan-Nya maka hukuman di kayu salib tidak mencerminkan keadil-an Allah. (Yang berdosa adalah manusia. Yang menjalani hukuman ya harus manusia yang tidak berdosa. Itu baru benar-benar adil).
4.     Kalau Yesus tetap tinggal dalam ke-AllahanNya maka kesucian Allah benar-benar tercemari.
Namun demikian  bukan berarti saat Yesus dikayu salib bukan Allah lagi. Seperti diungkapkan di depan, bahwa kemanusia dan keAllah-an Yesus tidak bercampur, tetapi juga tidak berpisah. Inilah keunikan manusia Ilahi, yaitu Yesus. Dia adalah Allah yang melepaskan hak-hakNya sebagai Allah sementara waktu.




PEMBAPTISAN YESUS

13. TANYA:
Ketika Yesus dibaptis, bukankah 3 (tiga)Oknum Allah hadir disana? Bukankah Oknum Allah pertama yaitu Allah Bapa hadir dalam bentuk suara, dan Oknum Allah kedua yaitu Yesus yang di-baptis, dan Oknum Allah  ketiga yaitu Roh Kudus dalam bentuk burung merpati?

JAWAB:
Pertama-tama kami minta maaf bila kami harus mengatakan bahwa kami tidak setuju dengan istilah Oknum pertama, Oknum ke dua, Oknum ketiga. Alasan kami adalah:
1       Istilah tersebut bukanlah istilah yang digunakan Alkitab.

             Fakta Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua, Oknum Allah ketiga tidak terdapat dalam Alkitab. Alkitab berkata: “Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.” (2Samuel 7:22).  Alkitab juga berkata: ”Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”  (Yesaya 44:6). Alkitab juga berkata: “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir." (Wahyu 22:13). Jelas tidak ada Oknum Allah yang pertama, kedua dan seterusnya.

Jadi istilah Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua dan seterusnya tersebut hanyalah istilah interpretative yang tidak Alkitabiah.


     TANYA:
Dari penjelasan anda di atas, jika suara dari langit, Roh Kudus dalam bentuk burung merpati, dan Yesus yang dibaptis tidak bisa disebut sebagai kehadiran Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua dan Oknum Allah ketiga, lalu bagaimana seharusnya kita memahami peristiwa tersebut?

JAWAB:
Kami harus menjelaskan kepada anda bahwa perikop tentang pembaptisan Yesus (Markus  1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:32-34; Matius 3:13-17) tidak satupun yang bertujuan mengekspos keberadaan Trinitas.
Matius menegaskan tentang beritanya dalam perikop tersebut demikian: “Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kitamenggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya.”  (Matius 3:15).
Yohanes menegaskan berita yang dieksposnya demikian: “Dan akupun tidak mengenalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah." (Yohanes 1:33-34)
Bila kita mau jujur semua perikop tersebut tidak satupun yang bermaksud mengekspos tentang adanya fakta kehadiran Oknum Allah pertama, Oknum Allah kedua, Oknum Allah ketiga. Yang diekspos dalam perikop pembaptisan Yesus adalah bahwa Yesus dibaptis untuk menggenapi sekuruh kehendak Allah, dan menegaskan kepada Yohanes bahwa Yesus adalah Anak   Allah, Dialah Mesias yang dijanjikan Allah, dan sesudah pembaptisanNya ia siap bekerja.
Adapun suara dari langit, Roh Kudus dalam bentuk burung merpati adalah cara Allah menyatakan DiriNya. Dan itu bukan berarti menyatakan Pribadi Allah adalah lebih dari satu. Bagi Allah, meskipun Dia SATU PRIBADI, tetapi terlalu mudah untuk Dia menyatakan DiriNya dalam dua atau tiga bentuk sekaligus.
Kami mempunyai ilustrasi, mudah-mudahan bisa membantu penjelasan kami kepada anda:
Sepeda motor, walaupun hanya satu, tetapi bisa menyatakan dirinya dalam tiga wujud. Pertama sepeda motornya itu sendiri. Kedua, asapnya. Ketiga, suaranya. Ketiganya bisa tampil seketika. Tetapi itu tidak bisa mengubah fakta bahwa sepeda motor itu hanya satu.
Demikianlah penjelasan kami.




KE-ALLAHAN YESUS KRISTUS

15.   TANYA:
Apakah bukti-bukti ke-Allahan Yesus Kristus?

JAWAB:
Ada banyak bukti yang bisa dipaparkan. Namun terbatasnya halaman kami pilihkan beberapa bukti sebagai berikut:
1. Kekekalan Yesus
Yesus adalah Firman yang menjadi manusia. Dan Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1, 14)Baca juga: Ibrani 13:8
2. Ketidak terlihatan Yesus Kristus
Ketika menjadi manusia Yesus jelas dapat diraba, dilihat oleh para murid (1Yohanes 1:1). Tetapi Yesus Kristus adalah puncak manifestasi dari Allah yang tidak kelihatan. “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,” (Kolose 1:15)
3. Ketidakterbatasan Yesus Kristus
Paulus mengatakan “kekayaan Kristus yang tidak terduga” (Efesus 3:8). Bahkan ia mengucapkan “kasih itu, sekalipun melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:19). Paulus berseru: “Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikir-kan.” (Efesus 3:20)
4. Kemahakuasaan Kristus
Yesus menyatakan kemahakuasaan Allah menjadi milikNya (Matius 28:18)

5. Kemahahadiran Yesus Kristus
Yesus Kristus adalah manifestasi dari Allah yang Roh dan mahahadir (Kolose 1:19; 2:9).  “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20)

6.  Kemahatahuan Yesus Kristus
Petrus tahu persis sifat keilahian Kristus ini: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”(Yohanes 21:17)

7.  Ke-Esaan Yesus Kristus
Yesus memberi pengakuan: “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30)
Yesus melakukan tindakan yang hanya dilakukan oleh Allah:
·         Ia mengampuni dosa (Markus 2:5; Lukas 7:48)
·          Ia membangkitkan orang mati (Luka 7:14-15; Markus 5:42; Yohanes 12:1)
·          Ia berjalan di atas air (Matius 14:25 bdk Ayub 9:8)
·          Ia meredakan angin badai (Lukas 8:24-25 bdk Mazmur 107:29)
Jadi, Yesus menunjukkan diriNya sendiri sebagai manifestasi  dari Allah yang berkuasa. Yesus adalah manusia - Allah. Ia bukan sebagian Allah dan sebagian manusia. Tetapi Ia seluruhnya Allah dan seluruhnya manusia.




KEMANUSIAAN YESUS


16.   TANYA:
Seberapa penting mempercayai kemanusiaan Yesus Kristus?

JAWAB:
Mempercayai kemanusiaan Yesus Kristus sama pentingnya dengan mempercayai ke-AllahanNya. Sebab kalau Tuhan Yesus bukan sungguh-sungguh manusia, tentu Ia tidak dapat menjadi korban bagi penebusan dosa manusia. Sebab yang harus ditebus adalah manusia, oleh karena itu yang harus menjadi korban penebusan manusia dari dosa adalah harus sungguh-sungguh manusia. Tetapi manusia yang benar-benar tidak berdosa.
"Dalam Yesus Kristus kita melihat kemanusiaan yang sejati dan kemanusiaan yang sempurna, yaitu kesempurnaan di luar Ketuhanan-Nya. Tuhan Yesus mengenakan sifat manusia sama seperti kita dan Ia bertumbuh secara jasmani dan bertambah-tambah dalam pengetahuan sama seperti kita, akan tetapi Ia tidak berdosa. Jadi, kemajuan di dalam Dia tidak dihalangi oleh dosa yang diwariskan kepada-Nya atau dosa yang diperbuatnya. Oleh sebab itulah Ia disebut Anak Manusia yang sempurna, yaitu seorang manusia yang sempurna" (Wiley).


      TANYA:
Apakah bukti bahwa saat Yesus Kristus berinkarnasi, Dia benar-benar menjadi manusia?

JAWAB:
Berikut ini adalah bukti-bukti bahwa Yesus Kristus ketika berinkarnasi adalah benar-benar manusia:
A.    Yesus menyandang sebutan manusiawi
-         Anak manusia (Lukas 19:10, Kisah 7:36)
Kira-kira ada delapan puluhan kali Yesus menyebut diriNya sebagai Anak Manusia. Bahkan sesudah Tuhan Yesus naik ke surge dan dipermuliakan, yaitu saat Stefanus menjadi martir, Stefanus masih menyebut Yesus Kristus sebagai “Anak Manusia”. Dalam Kisah Para Rasul 2:22 disebutkan “Yesus orang Nazaret”. Bahkan Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus “manusia”, walaupun Tuhan Yesus Kristus sudah naik ke surge.

B.     Yesus Kristus memiliki silsilah manusia yang jelas (Lukas 2:7; Kisah 2:30; 13:23; Roma 1:3; Galatia 4:4; Ibrani 7:14).
IbuNya adalah seorang manusia, dengan nenek moyang manusia. Maria adalah benar-benar manusia dari benih (keturunan) Daud.
C.     Yesus Kristus memiliki jiwa dan tubuh manusia (Yohanes 1:14; Ibrani 2:14; 1Yohanes 4:2-3; )
Yesus memiliki jiwa manusia, itulah sebabnya Ia bisa menangis (Yohanes 11:35). Dia juga bisa bergembira (Lukas 10:21). Yesus juga bisa marah (Yohanes 2:15). Semua ekspresi jiwa manusia bisa dilakukan oleh Yesus.
Tubuh yang dimiliki Yesus adalah juga tubuh manusia, hanya antikristus dan pengikutnya yang menolak Yesus benar-benar telah datang  ke dunia sebagai manusia (1Yohanes 4:2-3).
D.    Apa yang dialami manusia itu juga dialami oleh Yesus (Yohanes 4:6; Matius 8:24; 21:18; Yohanes 19:28; 19:30)
Sebagaimana manusia harus lahir, letih, lapar, haus bahkan mati, Yesus pun mengalamiNya. Bahkan dalam bentuk fisik dan pengetahuan, Ia sama seperti manusia (Lukas 2:40-52). Semua itu dilakukan dalam rangka Ia “harus menghampakan diriNya” (Filipi 2:7).
Meskipun Ia “sedang menghampakan diriNya” tetapi itu tidak mengurangi bobot bahwa Ia adalah Tuhan yang sedang “menyatakan diriNya” (Yohanes 3:34; 7:16; 12:48,49; 14:24).
Jadi Yesus mengenakan tabiat manusiawi, tetapi Ia tidak mengenakan tabiat duniawi. Itulah sebabnya walaupun Ia dicobai, namun Ia tetap tidak berdosa. Sebagai manusia Ia bisa dicobai, tetapi sebagai Allah Ia tidak mungkin bisa dicobai (Ibrani 4:15; 2:18 dan Yakobus 1:13).
Jadi Yesus  dalam segala hal Dia sama seperti manusia biasa sebagaimana layaknya, namun Ia tidak berdosa (2Korintus 5:21). Yesus adalah Firman yang menjadi manusia yang sempurna dan tanpa dosa untuk menyediakan “tubuh” bagi penebusan manusia dari dosa (Ibrani 2:14 dan Filipi 2:5-8).
E.     Yesus adalah Allah yang “menghampakan diriNya” (Filipi 2:5-8)
Ketika Firman itu menjadi manusia (Yohanes 1:14) bukan berarti Allah yang Roh, yang tidak terbatas, tidak nampak itu musnah dan sekarang tinggal berwujud dalam gumpalan daging yang disebut manusia Yesus. Bukan, bukan begitu. Allah itu Roh adanya (Yohanes 4:24), dan selamanya Allah tetap berwujud Roh. Namun dengan inkarnasi, Allah yang Roh dan tidak kelihatan itu sekarang “menyatakan diriNya” untuk bisa dilihat, diraba, dibatasi oleh ruang dan waktu. Dan disinilah letak misteri terbesar tentang Allah itu. Dan disinilah letak kebenaran tentang Allah yang “menghampakan diriNya” dalam pribadi maha agung yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sebab Allah yang Roh “sekan-akan telah menurunkan kualitas diriNya yang serba ‘Maha’ tiba-tiba bisa terjangkau dan tersentuh oleh manusia.”

18.   TANYA:
Sejak kapankah inkarnasi Yesus dimulai?

JAWAB:
Walaupun dalam Perjanjian Lama Allah sering menampakkan diri dalam wujud manusia (teophani). Misal: sebagai Balatentara Tuhan, Malaikat Tuhan, dan lain sebagainya (Kejadian 16:10-13; 18:16-22; Kejadian 22:11,12; 32:24; 48:16; Keluaran 3:2; 23:20-25; 32:34; 33:21-23; Yosua 5:13-15; Hakim 13:3-20; Yesaya 63:9; Daniel 10:13; Zakharia 1:11,12; Maleakhi 3:1; Yohanes 1:1,2). Namun semua itu tidak bisa disebut sebagai inkarnasi. Sebab inkarnasi yang sesungguhnya dimulai ketika Maria menerima berita bahwa ia mengandung dari Roh Kudus (Matius 2:1-21; Lukas 1:26-38).

Ada beberapa alasan berkeyakinan demikian:
1.     Jika inkarnasi dimulai sejak Perjanjian Lama maka peristiwa kelahiran Yesus tidak bisa lagi disebut sebagi inkarnasi, tetapi harus disebut sebagai reinkarnasi. Dan pandangan ini jelas-jelas ditentang oleh Alkitab (Yohanes 9:2-3; Ibrani 9:27).
2.     Bagi Allah terlalu mudah untuk Dia menyatakan DiriNya dalam bentuk atau wujud apa saja. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
3.     Tujuan inkarnasi sendiri adalah menyediakan “tubuh yang tidak berdosa” guna menebus manusia yang berdosa. Sementara penampakan Allah dalam Perjanjian Lama tidak bermaksud melaksanakan hal tersebut.
Jadi sebelum inkarnasi Allah yang esa itu berwujud Roh, dan tidak memiliki tubuh manusiawi, meskipun Ia bisa menampakkan diri dalam wujud manusia.
Jadi Yesus adalah Allah yang Roh, yang Esa, yang tidak Nampak dan yang kekal itu. Dan ini menegaskan kekekalan Yesus di masa lampau adalah tetap sebagai Allah yang Roh dan esa adanya. Yudas saudara kandung Tuhan Yesus Kristus meneriakkan kebenaran ini di akhir surat yang ditulisnya kepada jemaat-jemaat yang ada di Asia kecil, demikian: “Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” (Yudas 25).

19. TANYA:
Jika demikian apa hubungan inkarnasi Yesus dengan sebutan Anak Allah yang dikenakan kepada Yesus?

JAWAB:
Sebutan Anak Allah dikenakan kepada pribadi Yesus bukan sejak kekekalan dimasa lampau. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya satu ayat pun dalam Perjanjian Lama yang menggunakan istilah Anak Allah dan dikenakan kepada Yesus.
Penganut trinitas tidak sepaham dalam hal ini, dan biasanya mereka mengutip dari Mazmur 2:7, “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Ayat ini dipakai untuk menegaskan predikat Anak Allah bagi Yesus sejak kekekalan di masa lampau.
Menurut hemat kami tafsiran seperti itu terlalu berlebihan. Ayat ini justeru menekankan nubuatan yang akan tergenapi dalam peristiwa Maria mengandung bayi Yesus. Dan ayat ini ditegaskan oleh kitab Ibrani 5:5-6, “5 So also Christ glorified not himself to be made an high priest; but he that said unto him, Thou art my Son, to day have I begotten thee. 6  As he saith also in another place, Thou art a priest for ever after the order of Melchisedec.”
Jadi sebutan Anak Allah dikenakan kepada Kristus sebagai kiasan yang menekankan ketaatan Yesus sebagai manusia (Filipi 2:5-8) atas rencana kekal Allah di sorga tentang keselamatan manusia. Dan sebutan Anak Allah tersebut tidak dimaksudkan untuk mengacaukan keesaan Allah dengan menambah jumlah pribadi Allah yang Esa.




BAPTISAN AIR DALAM NAMA TUHAN YESUS KRISTUS

20. TANYA:
Apakah setiap orang Kristen yang percaya Tuhan Yesus Kristus harus dibaptis dengan baptisan air?

JAWAB:
Ya, harus. Mengapa demikian?
A.    Karena melakukan pelayanan baptisan air adalah perintah Tuhan Yesus Kristus.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Matius 28:19).
B.     Karena melakukan pelayanan baptisan air adalah perintah Para Rasul Tuhan Yesus Kristus.
“Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kisah Para Rasul 2:38).
C.     Karena melakukan pelayanan baptisan air adalah mengikuti teladan Tuhan Yesus Kristus.
“Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya.” (Matius 3:13-15)
D.    Karena melakukan pelayanan baptisan air adalah syarat untuk memiliki kepastian keselamatan.
“Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Markus 16:16)
E.     Karena melakukan pelayanan baptisan air agar memiliki hidup yang baru bersama Kristus.
“  Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.   Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:3-5)
F.     Karena melakukan pelayanan baptisan air agar menjadi anggota tubuh Kristus/ anggota keluarga Allah.
“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya: banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (1Korintus 12:12-13).
“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:26-28).
G.    Karena melakukan pelayanan baptisan air agar memiliki hati nurani yang baik.
“Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan  —  maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah  —  oleh kebangkitan Yesus Kristus,” (1Petrus 3:21).

21.  TANYA:
Apakah syarat utama yang harus dipenuhi agar bisa mendapatkan pelayanan baptisan air yang sesuai Alkitab?

JAWAB:
Syarat utama yang harus dipenuhi adalah harus bertobat dengan sungguh-sungguh.
“Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kisah Para Rasul 2:38).
Bertobat (metanoia) berarti berubah pikiran. Penjelasannya demikian, yang tadinya sesorang itu mencintai dosa, orang tersebut berubah pikiran untuk membenci dosa. Dan itu berarti sekarang orang tersebut mengakui dosa-dosanya kepada Tuhan Yesus dan berjanji meninggalkannya.
Bertobat itu berarti meninggalkan kehidupan yang lama yang dikuasai oleh dosa yang ditandai hanya mengikuti kehendak sendiri. Sekarang berubah pikiran mengambil keputusan haidup ini diserahkan kepada Tuhan sepenuhnya. Dan itu dibuktikan bahwa hidupnya hanya digunakan untuk melakukan kehendak Tuhan Yesus saja.
Bertobat adalah pengalaman hidup baru didalam Tuhan Yesus Kristus, yaitu hidup dalam ketaatan yang total kepada Firman Tuhan.

22. TANYA:
Apakah akibat/ dampak dari hidup yang bertobat tersebut?

JAWAB:
Jika seseorang bertobat dengan sungguh-sungguh, maka pertobatan yang berkenan kepada Tuhan akan mendatangkan akibat:
a.     Memperoleh pengampunan dosa
“Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” (Markus 1:4)
b.     Dibebaskan dari hukum dosa dan maut
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.  Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”
c.      Dibenarkan didalam Kristus
“Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” (Roma 6:8).
d.     Mati bagi dosa dan hidup badi Allah
“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.”

23. TANYA:
Jika pertobatan mendatangkan dampak dalam kehidupan yang begitu luar biasa, lalu langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan sehingga bisa hidup dalam pertobatan yang sungguh dan nyata?

JAWAB:
Secara praktis disarankan untuk melakukan 5 (lima) langkah berikut ini:
a.     Sadarilah dosa Anda
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” (Roma 3:23)
“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,” (Kisah Para Rasul 3:19)
b.     Akuilah semua dosa-dosa Anda kepada Tuhan Yesus Kristus
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1Yohanes 1:9)
c.      Tinggalkanlah dosa Anda
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. (Yesaya 55:7)
d.     Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
e.     Terimalah Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda mulai dari sekarang sampai selama-lamanya
“Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”(Yohanes 1:11-12)

24.  TANYA:
Selain bertobat, adakah hal lain yang harus dipenuhi agar pelayanan baptisan air tersebut benar-benar sesuai apa yang dikatakan Alkitab?

JAWAB:
Dibaptis dengan air itu bukan hanya sekedar lambang, tetapi juga bukti keputusan untuk setia mengikut Tuhan Yesus Kristus. Dan bagi orang yang mengikut Tuhan Yesus Kristus, Tuhan Yesus menetapkan syarat yang tidak boleh ditawar-tawar. Yaitu harus memikul salib, dan menyangkal diri serta setia mengikut Yesus.
“Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)
Jadi sesudah dibaptis harus bersedia untuk setia mengikut Tuhan Yesus Kristus dengan rela menyangkal dan memikul salib diri setiap hari.

25.   TANYA: 
Untuk dibaptis maka orang tersebut harus bertobat, bertekad mengikut Tuhan Yesus dengan setia. Hal apa lagi yang mesti diketahui dan dipenuhi sebelum mendapatkan pelayanan baptisan air?

JAWAB:
Dibaptis itu berarti dipersekutukan dengan anggota tubuh Kristus dan menjadi anggota keluarga Allah. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara rela tertanam di Gereja local.
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25).
“  Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17)

26. TANYA:
Selama ini ada beberapa macam tradisi pembabtisan yang dilakukan oleh Gereja. Dari semua tradisi pelayanan baptisan air tersebut cara manakah yang seharusnya diikuti?

JAWAB:
Diawal telah kita tegaskan bahwa pelayanan baptisan air dilakukan bukan sebagai sekedar tradisi melainkan perintah Tuhan Yesus Kristus dan para rasulNya, itu yang terpenting. Karena itu cara pelayanan baptisan air yang harus dilakukan juga harus mengikuti apa yang Tuhan ajarkan dalam Alkitab. Sebab ukuran kebenaran yang harus kita pegang adalah apa yang Alkitab katakan.
a.     Pelayanan baptisan air harus dilakukan dengan cara diselamkan
“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,” (Matius 3:16)
b.     Pelayanan baptisan air boleh dilakukan hanya kepada yang sudah memenuhi syarat (lihat halaman-halaman sebelum ini)
Anak-anak tidak boleh dibaptis, anak-anak hanya boleh diserahkan kepada Tuhan Yesus untuk diberkati. Pelayanan penyerahan anak ini dilakukan oleh orang tua anak tersebut di Gereja, dihadapan siding jemaat. Dengan menyerahkan anak kepada Tuhan berarti orang tua sadar bahwa dia butuh pertolongan Tuhan untuk mendidik, mengasuh dan merawat anak tersebut. Selain itu orang tua juga berjanji bahwa mereka akan mendidik anak-anak mereka secara bersungguh agar hidup sesuai ajaran Tuhan.
“Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.”(Matius 19:14-15)
c.      Pelayanan baptisan air harus dilakukan “didalam nama Tuhan Yesus Kristus”, dan bukan “didalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”.
Memang Tuhan Yesus memerintahkan para murid untuk membaptis dalaman nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19). Tetapi tidak seorang pun murid Yesus yang melakukan pelayanan pembaptisan air dengan cara tersebut. Juga tidak ada satu tokoh Alkitab pun yang dibaptis dengan cara tersebut. Yang ada adalah dibaptis “dalam nama Tuhan Yesus Kristus”. (Kisah Para Rasul 2:38; 8:16; 10:48; 19:5).
Mengapa demikian? Sebab para murid tahu bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus itu menunjuk kepada SATU pribadi yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dan itulah sebabnya dalam Matius 28:19 disebutkan “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”. Perhatikan pada kata “nama” disebutkan satu kali (tunggal, bukan jamak) untuk dikenakan pada Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal ini menegaskan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus itu bukan pribadi-pribadi Allah yang berbeda-beda, tetapi pribadi yang satu dan sama, namun perananNya yang berbeda-beda.
“Sebab dalam Dialah (tunggal, yaitu Tuhan Yesus Kristus) berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,”(Kolose 2:9).
Pelayanan baptisan air yang dilakukan diluar cara ini, menurut hemat penulis orang tersebut “sama sekali belum dibaptis” karena itu ia membutuhkan pelayanan baptisan air yang sesuai isi Alkitab.

27. TANYA:
Apakah makna sesungguhnya dari baptisan air selam  “dalam nama Tuhan Yesus Kristus” itu?

JAWAB:
Bertobat berarti mati terhadap dosa. Dibaptis selam “dalam nama Tuhan Yesus Kristus” berarti manusia lama yang tunduk dan kalah pada dosa dan telah mati tersebut harus dikuburkan. Dibaptis dengan Roh Kudus berarti tabiat yang baru dibangkitkan bersama Tuhan Yesus Kristus, dan selanjutnya Anda hidup dalam manusia baru yang berkenan kepada Tuhan.
Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
(Yohanes 3:5-8)


28. TANYA:
Sesudah mendapatkan pelayanan baptisan air “dalam nama Tuhan Yesus Kristus”, apakah yang harus saya lakukan selanjutnya?

            JAWAB:
Pelayanan baptisan air yang benar dan sesuai Alkitab adalah awal dari perjalanan iman Kristen Anda. Dan Anda tidak boleh berhenti disini. Anda harus melanjutkan perjalanan iman Anda. Anda membutuhkan pertumbuhan rohani yang sehat. Anda memerlukan kuasa untuk hidup berkemenangan di dalam Tuhan Yeus Kristus. Anda membutuhkan baptisan Roh Kudus yang ditandai dengan tanda fisik yaitu berbahasa yang baru, itulah bahasa roh (Kisah Para Rasul 1:5).

29. TANYA:
Apakah yang harus saya lakukan agar mendapatkan baptisan Roh Kudus?

JAWAB:
ü Milikilah kerinduan yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan baptisan Roh Kudus.
ü Bukalah hati Anda dengan iman terimalah baptisan Roh Kudus.
ü Mintalah hamba Tuhan untuk berdoa dan menumpangkan tangan atas kepala Anda (Kisah Para Rasul 8:17)
ü Mulailah mengucapkan bahasa yang baru (yaitu bahasa roh) dengan iman. Baptisan Roh Kudus pasti ditandai dengan bahasa roh, hal ini sama pastinya dengan angin ribut selalu disertai suara menggemuruh.
Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.  (1Korintus 14:2)
Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.(1Korintus 14:14)

30. TANYA:
Apakah ada kebiasaan-kebiasan baru yang harus saya jalankan setelah semua hal diatas saya jalankan?

JAWAB:
 Oh…tentu ada. Berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan baru yang harus Anda jalankan setiap harI:
a.     Bacalah Alkitab Anda dan berdoa setiap hari dengan disiplin.
b.     Hadirlah selalu dalam pertemuan-pertemuan ibadah dengan setia.
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25).
c.      Hiduplah suci setiap hari.
“Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu“. (2 Korintus 6:17)
“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)”. (Kolose 3:5-8)
d.     Bagikanlah pengalaman Anda kepada orang lain.
e.     Sisihkanlah 10% dari setiap berkat yang Anda terima.
Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.(Maleakhi 3:10-12)
f.       Segera bergabunglah dengan kelompok sel di Gereja Anda, dan ikutilah pelatihan-pelatihan pelayanan yang diadakan.
g.     Ambillah bagian dalam pelayanan rohani di Gereja Anda sesuai dengan karunia yang Tuhan anugerhkan kepada Anda.
h.     Teruslah bertumbuh dalam kasih karunia dan penenalan akan Tuhan Yesus Kristus (2Petrus 3”18)
i.        Marilah bersama-sama menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kalinya, karena itu mari terus giat berjuang diladang pelayanan pekerjaan Tuhan dengan tekun dan setia.
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1Tesalonika 5:23)
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. (2Timotius 4:8)




PENUTUP

Dalam hidup ini tidak ada yang lebih melegakan seperti mampu memahami penyataan. Sebab dengan memahami penyataan Tuhan akan membuat kita mengenal Tuhan. Dan dengan mengenal Tuhan akan membuat kita memiliki kesempatan untuk melayani Tuhan dengan pelayanan yang berkenan kepada Tuhan. Dan bukankah melaynai Tuhan adalah kebahagiaan tertinggi manusia. Sebab untuk itulah eksistensi manusia itu ada.
Dari apa yang Allah nyatakan dalam Alkitab sangatlah tegas bahwa Allah itu Roh dan Dia adalah esa dalam arti hanya ada Satu, dan hanya Dia-lah satu-satunnya. Dia menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam rangka membangun relationship dengan manusia.
Jika demikian maka Allah yang esa adalah hanya ada satu Pribadi. Dan penyataan Allah yang sempurna diwujudkan nyatakan sebagai saksi berupa manusia yang bernama Yesus Kristus. Jadi Bapa, Anak dan Roh Kudus mengacu pada satu pribadi ke-Allahan yaitu Tuhan Yesu Kristus.
Jika Anda mengalami kesulitan menemukan Gereja yang menyampaikan pengajaran tentang keesaan Tuhan seperti dalam buku ini, silahkan menghubungi kami:
Edi Zakaria – Gereja Pantekosta Serikat Di Indonesia (GPSDI) Hp. 081335335837 atau e-mail: pdt.edizakaria@yahoo.com.