Nats
Utama: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” (Yohanes
1:14)
Nats Pendukung: “Cinta akan
rumah-Mu menghanguskan Aku.” (Yohanes 2:17)
๐ Pendahuluan: Mengapa Allah “Berkemah” di Tengah Kita?
Shalom!
Bapak, Ibu, Saudara/i yang dikasihi Tuhan. Selamat Natal!
Kita berkumpul malam ini untuk
merayakan bukan sekadar hari lahir, tetapi peristiwa cinta terbesar dalam
sejarah semesta. Natal adalah saat di mana Allah, yang Mahabesar dan tak
terjangkau, memilih untuk menjadi Kristus, yang Mahahadir dan tergapai. Ia
tidak mengirim utusan. Ia datang sendiri.
Nats
utama kita, Yohanes 1:14, memuat sebuah kata kunci yang sangat mendalam: “diam”
(eskฤnลsen). Kata ini secara harfiah berarti berkemah, menempati, atau
membangun tabernakel.
Bukan
kunjungan mendadak.
Bukan
singgah sementara
Ini
adalah deklarasi: Allah rindu memiliki tempat tinggal, sebuah ‘rumah’ di tengah
umat-Nya.
Sejak Taman Eden, Allah selalu
merindukan keintiman. Di Perjanjian Lama, kerinduan itu terwujud dalam Kemah
Suci dan Bait Allah—sebuah tempat fisik di mana umat dapat bertemu dengan
Hadirat-Nya.
Jika
Allah yang Mahakuasa saja rindu memiliki rumah di tengah kita, maka ada
pertanyaan yang harus kita hadapi di malam kudus ini:
๐
Jika kita berkata mengasihi Tuhan, apakah kita juga mengasihi Rumah Tuhan?
Cinta sejati selalu memiliki
manifestasi. Mari kita selidiki tiga kebenaran dari Natal yang
mengaitkan Cinta Tuhan dengan Cinta Rumah Tuhan.
I.
Natal: Deklarasi Allah Ingin Tinggal Bersama, Bukan Hanya Mengunjungi
Nats
Rujukan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” (Yohanes
1:14) “Janganlah kamu lupa memberi tumpangan, sebab dengan jalan itu beberapa
orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibrani 13:2)
Makna eskฤnลsen sangat kuat. Ini
mengingatkan kita pada perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Di tengah
tenda-tenda mereka, ada Kemah Suci—tenda Allah. Natal adalah pengulangan ajaib
dari konsep itu: Allah mendirikan tenda-Nya di tengah kemah kehidupan kita.
Ilustrasi (Peristiwa/Berita):
Bayangkan
seorang anak yang merantau jauh. Ia menelepon, mengirim surat, bahkan video
call. Namun, cinta sejati seorang ayah/ibu tidak terpuaskan hanya dengan
komunikasi virtual. Puncak dari kerinduan adalah ketika anak itu memutuskan,
“Saya akan pulang dan tinggal bersama kalian.”
Yesus
Kristus adalah wujud ‘kepulangan’ Allah. Ia tidak hanya mengirim SMS (para
nabi), Ia datang dan tinggal.
Jika
Tuhan Yesus datang untuk membangun ‘rumah-Nya’ di tengah manusia, bagaimana
mungkin kita yang mengaku umat-Nya, justru menjauh dan acuh terhadap rumah
persekutuan ini? Acuh terhadap tempat di mana Dia telah berjanji untuk hadir
secara khusus (“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di
situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” - Matius 18:20)?
II.
Yesus Mencintai Kekudusan Rumah Tuhan dengan Api Cemburu
Nats
Rujukan:
“Cinta akan rumah-Mu
menghanguskan Aku.” (Yohanes 2:17, Mazmur 69:10)
“Rumah-Ku
akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. Tetapi kamu ini telah menjadikannya
sarang penyamun.” (Markus 11:17)
Seringkali kita hanya mengingat
kelembutan Kristus. Namun, mari kita ingat salah satu adegan paling dramatis
dalam pelayanan-Nya: Pembersihan Bait Allah. Yesus membalikkan meja-meja
penukar uang. Kemarahan-Nya bukanlah emosi biasa, tetapi sebuah cinta yang
menyala-nyala terhadap kekudusan dan fungsi Rumah Bapa-Nya.
Kesaksian
(Aplikasi/Gagasan Implementasi):
Pada
saat itu, Bait Allah telah berubah fungsi:
Dari tempat doa menjadi tempat
bisnis. Dari tempat hadirat \rightarrow menjadi tempat eksploitasi. Yesus
tidak anti pada bangunan. Ia anti pada penyalahgunaan Rumah Tuhan. Rumah Tuhan
hari ini (Gereja) adalah:
Tempat hadirat Allah disembah. Tempat
di mana yang miskin diampuni. Tempat di mana jiwa yang terluka dipulihkan. Tempat
di mana Firman Tuhan disampaikan tanpa kompromi.
Cinta
kita pada Rumah Tuhan tidak diukur hanya dengan kehadiran fisik, tetapi oleh
kerinduan kita akan kekudusan dan fungsinya yang benar. Apakah kita datang
untuk bertemu Tuhan, atau hanya menjalankan rutinitas?
Implementasi: Mari kita pastikan gereja kita,
baik secara fisik maupun persekutuan, tetap menjadi Rumah Doa, Pusat
Penginjilan, dan tempat kesatuan tubuh Kristus, bukan sarang gosip, perpecahan,
atau tempat mencari keuntungan pribadi.
III.
Tuhan Memulai dari Rumah yang Sederhana: Keintiman, Bukan Kemegahan
Nats
Rujukan:
“...lalu dibungkusnya dengan
kain lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi
mereka di rumah penginapan.” (Lukas 2:7)
“Tidakkah kamu tahu, bahwa kamu
adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Korintus 3:16)
Natal mengajarkan kita tentang
kerendahan hati. Mesias lahir bukan di istana Herodes, tetapi di sebuah kandang
ternak. Ia dibaringkan di palungan, tempat makan ternak.
Pesannya jelas dan menggugah:
Prioritas Tuhan bukanlah
kemegahan eksternal. Gereja yang megah adalah anugerah, tetapi yang utama
adalah hati yang terbuka.
Tuhan mencari tempat yang
bersedia menampung Hadirat-Nya, seberapa pun sederhananya tempat itu.
Ilustrasi (Puitis):
Ketika
Kristus lahir, Ia tidak mencari hotel bintang lima. Ia mencari hati yang mau
memberi ruang. Rumah Tuhan yang sejati—gereja—bukan diukur dari marmer di
lantai, tetapi dari roh pengorbanan dan persekutuan di dalamnya.
Ayat 1 Korintus 3:16
mengingatkan kita bahwa kita, pribadi lepas pribadi, adalah Bait Allah. Jika
kita mengasihi Tuhan, kita akan menjaga kekudusan rumah pribadi kita (hati dan
tubuh). Dan jika kita menjaga kekudusan hati kita, pasti akan tercermin dalam
sikap kita terhadap Rumah-Nya (gereja sebagai tubuh Kristus).
Introspeksi: Tuhan bertanya, “Apakah Aku masih mendapat tempat di rumah hatimu yang
paling sederhana, ataukah hatimu sudah penuh dengan 'penginapan' dosa dan
kesibukan dunia?”
IV.
Mengasihi Rumah Tuhan Berarti Setia Membangunnya
Nats
Rujukan:
“Aku bersukacita ketika
dikatakan kepadaku: Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” (Mazmur 122:1)
“Hendaklah kamu sehati sepikir
dalam kasih, satu jiwa dan satu tujuan.” (Filipi 2:2)
Jika kita mencintai Tuhan, kita
akan bersukacita saat datang ke Rumah-Nya, seperti pemazmur.
Cinta sejati selalu: Hadir,
Peduli, dan Berkorban.
Aplikasi Praktis (Gagasan
Implementasi):
·
Setia
Beribadah (Hadir):
Natal adalah perayaan sukacita,
tetapi cinta Rumah Tuhan terbukti dalam kesetiaan kita setiap hari Minggu,
bukan hanya di hari raya.
·
Terlibat
Melayani (Peduli):
Rumah Tuhan butuh orang-orang
yang melayani dari hati. Cinta bukan hanya duduk manis, tetapi mengangkat tangan
dan berkata, “Ini aku, utuslah aku.”
·
Menjaga
Kesatuan (Berbagi):
Gereja adalah Tubuh Kristus.
Mengasihi Rumah Tuhan berarti menjaga kesatuan dan membuang roh perpecahan.
Kita datang dengan latar belakang berbeda, tetapi kita satu keluarga rohani yang
dipersatukan oleh kelahiran Kristus.
·
Memberi
yang Terbaik (Berkorban):
Kita
memberi persembahan, waktu, dan tenaga yang terbaik, bukan sisa. Bukankah Natal
adalah persembahan terbaik dari Allah kepada kita?
๐ Penutup dan Altar Call: Beri
Tempat Bagi-Nya
Bapak,
Ibu, Saudara/i terkasih,
Peristiwa
Natal adalah saat di mana surga menyentuh bumi. Kristus datang untuk mendirikan
rumah-Nya, baik di tengah persekutuan kita, maupun di dalam hati kita.
Malam
ini, izinkan saya mengakhiri dengan Altar Call yang puitis dan mendalam:
Dunia
mungkin berkata, “Tidak ada tempat bagimu di penginapan kami.” Tetapi Kristus
datang ke dunia, dan hati-Nya berkata, “Aku ingin tinggal di antara kamu.”
Jika Anda malam ini merasa jauh
dari Tuhan, acuh tak acuh pada persekutuan gereja, atau hati Anda penuh dengan
"tamu-tamu" keduniawian, inilah saatnya untuk memberi tempat
bagi-Nya.
Tiga Langkah Respons Cinta
Natal:
1. Periksa Hati Anda: Biarkan
Kristus yang lahir di palungan, lahir kembali di hati Anda. Bersihkan hati dari
hal-hal yang najis (1 Korintus 3:17).
2.
Periksa
Sikap Anda pada Rumah Tuhan (Gereja): Jadilah umat yang bersukacita dan bangga
terhadap gereja lokal Anda. Tunjukkan cinta Anda dengan kesetiaan, doa, dan
pelayanan.
3. Rayakan Natal Sejati: Mari kita
jadikan gereja kita, Rumah Tuhan, tempat di mana kasih Tuhan tidak hanya
diucapkan, tetapi dinyatakan dalam pelayanan, persekutuan, dan kesatuan.
๐ Cinta Tuhan yang sejati tidak
berhenti di kata-kata, tetapi nyata dalam kesetiaan membangun dan menjaga Rumah
Tuhan.
Amin.
✨

Tidak ada komentar:
Posting Komentar